Kasus ODGJ Diduga Dikeroyok Polisi di Lembata, Kapolres: Tak Ada Saksi yang Melihat

Merdeka.com - Merdeka.com - Kasus pengeroyokan terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) terjadi di Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pelaku pengeroyokan itu diduga sekelompok personel kepolisian.

Kasus ini telah dilaporkan ke Kapolda NTT Irjen Pol Irjen Pol Johni Asadoma. Sementara Polres Lembata memberikan keterangan pers terkait dugaan pengeroyokan itu. Namun, mereka beralasan belum ada saksi yang melihat kejadian itu.

Kapolres Lembata AKBP Dwy Handono Prasanto menyampaikan proses pelaporan penganiayaan itu. Pada Rabu (28/12), sekitar pukul 00.05 Wita, seorang warga Kelurahan Lewoloba Tengah, Kecamatan Nubatukan, bernama Andreas Baha Ledjab (38) mendatangi SPKT Polres Lembata. Dia melaporkan bahwa adiknya bernama Yoseph Kefasso Bala Lata Ledjab telah dikeroyok orang yang belum diketahui identitasnya.

Berdasarkan laporan Andreas, pengeroyokan itu terjadi di pinggir jalan sekitar 500 meter dari rumahnya pada Selasa (27/12) sekitar pukul 21.00 Wita. Saat itu dia sedang berada di dalam rumah bersama keluarganya.

Tiba-tiba datang sekelompok orang yang tidak dikenal. Dia menduga mereka adalah anggota kepolisian.

Korban Diikat dan Terluka

Sekelompok orang itu menanyakan tentang keberadaan Yoseph Kefasso Bala Lata Ledjab. Andreas menjawab tidak mengetahui keberadaan adiknya.

Sempat terjadi ketersinggungan di lokasi, namun berhasil ditenangkan seorang anggota Polres Lembata yang melewati lokasi.

Andreas dalam laporannya menjelaskan, beberapa saat kemudian dia mendapat informasi dari warga sekitar bahwa adiknya yang bernama Yoseph Bala Lata Ledjab telah dikeroyok di dekat koperasi kredit pintu air.

Mendengar informasi itu dia langsung mengajak warga lain yang juga anggota polisi bernama Marjuni untuk bersama ke lokasi kejadian. Saat tiba di lokasi mereka melihat tangan Yoseph telah diikat menggunakan tali rafia, serta terdapat luka di pelipis mata kanan, luka di siku tangan kanan, luka di telapak tangan kiri, luka di punggung bagian kanan dan badannya penuh dengan debu.

"Andreas Baha Ledjab menjelaskan bahwa setelah mengetahui hal itu, dirinya membawa korban ke Rumah Sakit Umum Lewoleba untuk divisum dan mendapatkan perawatan. Selain itu dia telah melaporkan kejadian tersebut ke SPKT Polres Lembata, dan tercatat dalam laporan polisi nomor LP/B/235/VII/2022/SPKT/Polres Lembata/Polda NTT, tanggal 28 Desember 2022 tentang peristiwa penganiayaan dan membuat perasaan tidak menyenangkan," jelas Dwy.

Saat ini polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap empat orang saksi. Korban Yoseph Bala Lata Ledjab belum bisa dimintai keterangan, karena menurut keluarga, dia mengalami gangguan kejiwaan (ODGJ). Namun keluarga belum bisa menunjukkan surat keterangan yang bisa menerangkan dia merupakan ODGJ.

"Hasil koordinasi dengan pelapor bahwa tiga orang saksi yang diajukan oleh pelapor masih sibuk dan berjanji akan segera memberikan keterangannya. Belum ada saksi yang melihat langsung kejadian penganiayaan yang dialami oleh korban yang bernama Yoseph Bala Lata Ledjab," jelasnya.

Menurut Dwy, ada ketidaksesuaian keterangan soal waktu penganiayaan dengan saat sekelompok pemuda yang tidak diketahui identitasnya, mendatangi rumahnya untuk mencari keberadaan adiknya karena diduga telah menganiaya anggota polri.

"Tidak ada kesesuaian waktu antara kejadian anggota Polri dipukul oleh Yoseph Kefasso Bala Lata Ledjab (kejadian pertama), dengan Yoseph Kefasso Bala Lata Ledjab diduga dipukul oleh oknum anggota Polri (kejadian kedua). Kejadian pertama terjadi pada pukul 21.15 Wita (laporan polisi nomor 234), sedangkan kejadian kedua terjadi pukul 21.00 Wita (laporan polisi nomor 235), kejadian kedua mendahului kejadian pertama," ungkap Dwy.

Koordinasi dengan Bagian Psikologi

Polres Lembata akan melakukan koordinasi dengan Bagian Psikologi Biro SDM Polda NTT, untuk melakukan pemeriksaan terhadap Yoseph Kefasso Bala Lata Ledjab.

Kapolres Lembata AKBP Dwy Handono Prasanto mengatakan, pihaknya akan mencari saksi lain yang mengetahui kejadian penganiayaan yang dialami korban. Mereka ingin memastikan pelaku penganiayaan korban.

Pihaknya juga akan melaksanakan koordinasi dengan pihak Rumah Sakit Umum Lewoleba untuk mendapatkan hasil Visum Et Revertum Yoseph. "Kita akan melaksanakan penyelidikan dan penyidikan secara objektif terhadap kedua perkara. Dua laporan itu adalah, nomor: LP/B/234/XII/2022/SPKT/Res Lembata/Polda NTT, tanggal 27 Desember 2022 dan Nomor: LP/B/235/XII/2022/SPKT/Res Lembata/Polda NTT, Tanggal 28 Desember 2022," tutupnya. [yan]