Kasus Pelanggaran Kode Etik DKPP Pakai Video Confference Kejaksaan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Jimly Asshiddiqie mengaku sangat tertolong lewat penandatangan nota kesepakatan dengan Kejaksaan Agung (Kejagung) pada Senin (22/7/2013).

Menurut Jimly, kesepakatan ini memungkinkan DKPP dapat menggunakan sarana video conference (vidcon) milik Kejaksaan Agung Republik Indonesia dalam penyelesaian dugaan pelanggaran kode etik penyelenggara Pemilu.

"DKPP baru berumur setahun. Belum punya pegawai, gedung, sarana-prasarana. Meski begitu bukan alasan untuk tidak bekerja. Kami menggunakan fasilitas milik lembaga lain guna menunjang untuk kelancaran tugas kami,” ujar Jimly.

Penandatangan nota kesepakatan antara DKPP dan Kejaksaan Agung berlangsung pagi tadi pukul 09.30, bertempat di Ruang Sasana Pradana Kejaksaan. Penandatanganan dilakukan Ketua DKPP Jimly Asshiddiqie dan Jaksa Agung Basrief Arief.

Jimly menjelaskan, sejak dibentuk pada 12 Juni 2012, DKPP memerlukan sarana dan prasarana memadai bagi peningkatan kualitas kinerja.  Kejaksaan Agung dinilai DKPP memiliki infrastruktur video conference (vidcon) terbaik di antara lembaga-lembaga negara yang ada.

DKPP mengaku lebih baik memanfaatkan infrastruktur vidcom Kejaksaan Agung, daripada harus membuat sarana dan prasarana vidcom sejenis. Bahkan, DKPP telah bekerja sama dengan Polri untuk menggelar sidang video conference.

Begitu juga sekarang membangun nota kesepahaman dengan Kejaksaan Agung. "Untuk menggelar sidang video conference dengan Polri tidak ada MoU-nya,” ucap Jimly.

Sementara itu, Jaksa Agung Basrief Arief memerintahkan kepada seluruh Kajati yang ada di Indonesia untuk menyediakan fasilitas secukupnya yang dibutuhkan DKPP untuk menggelar sidang jarak jauh.

Baca Juga:

KPU: DKPP Masih Perlu Perbaikan

Ketua KPU: DKPP Perkuat Penyelenggara Pemilu

DKPP Beri Sanksi Ringan Ketua dan Anggota Bawaslu Jatim

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.