Kasus Pembunuhan di Denpasar, Para Pelaku Bikin Skenario Kecelakaan

Merdeka.com - Merdeka.com - Polisi akhirnya mengungkap kasus pembunuhan seorang pria bernama Jape Rina (24) asal warga Mude Padu, Kecamatan Laboya, Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Jasad korban ditemukan di selokan, Denpasar.

Para pelaku yang berhasil ditangkap tiga orang yaitu Benyamin Haingu (23), Papi Langu Karengu Humba (19) dan Minto Umbu Rada (21). Sementara satu pelaku masih buron bernama Daud. Para tersangka diketahui berasal dari Sumba, NTT.

"Untuk DL (Daud) masih dalam pencarian atau DPO," kata Kapolresta Denpasar AKBP Bambang Yugo Pamungkas di Mapolresta Denpasar, Kamis (2/6).

Peristiwa pembunuhan ini awalnya dari laporan masyarakat merupakan kecelakaan lalu lintas. Namun polisi memiliki kesimpulan berbeda setelah dilakukan olah TKP dan hasil visum serta autopsi pada korban. Selain itu, para tersangka memang sengaja merekayasa seakan-akan korban tewas karena kecelakaan lalu lintas dengan meninggalkan korban di dalam selokan dan sepeda motor korban ditinggal di TKP.

"Setelah dilakukan olah TKP, kita tahu ini ada kejanggalan. Para tersangka ini, membawa korban ke TKP dan dibikin seolah-olah korban adalah kecelakaan supaya tidak teridentifikasi," imbuhnya.

Kronologinya pada Sabtu (28/5) sekitar pukul 23.00 WITA, korban dan para pelaku datang ke mess rekannya bernama Anton untuk menghadiri ulang tahun istri Anton, yang berlokasi di Jalan Kusuma Bangsa II, Denpasar hingga pukul 01.30 WITA.

Lalu pada pukul 01.38 WITA, para pelaku dan korban berangkat ke Lapangan Puputan Badung untuk minum tuak. Setelah itu pukul 03.30 WITA korban dan para tersangka kembali ke tempat mess Anton. Tetapi sampai di gerbang pintu, korban tiba-tiba marah dan melakukan pemukulan pada Daud dan menendang Papi.

Daud membalas dengan mengambil kayu dan memukul korban sebanyak dua kali pada rahang dan punggung sehingga korban jatuh. Lalu Papi juga ikut memukul korban dengan menggunakan kayu balok yang ada di depan gudang sebanyak satu kali ke kepala korban.

Kemudian Benyamin membuka gerbang. Korban ikut masuk ke gudang mengambil sepada motornya. Dia dibantu Benyamin menghidupkan motornya di luar gudang.

Selanjutnya korban dan para pelaku bersama-sama meninggalkan mess Anton. Daud menggunakan sepeda motor NMX berangkat duluan, dan korban mengendarai sepeda motor Kawasaki mengikuti Daud.

Sementara pelaku Benyamin dan Minto menggunakan sepeda motor Honda Vario berboncengan dan mengikuti. Dalam perjalanan Benyamin menyalip korban, dan korban pun mengejar Benyamin dan menyalip secara zig zag.

Selanjutnya, Benyamin mengejar korban dan menyerempet sepeda motor korban sehingga korban jatuh dan menabrak tumbukan batako. Karena Daud duluan, sehingga dikejar oleh Benyamin dan mengatakan bahwa korban jatuh dan Daud balik menghampiri korban.

Kemudian Daud turun dari sepeda motor dan marah-marah lalu mengambil batako dan memukul ke muka korban. Lalu memerintahkan ketiga pelaku lainnya untuk memukul korban.

"(Daud) sambil mengancam kepada ketiga pelaku kalau tidak ikut mukul korban, maka mereka akan dibunuh oleh yang bersangkutan," imbuhnya.

Kemudian, Benyamin mengambil batako yang ada ditumpukan dan memukul kepala bagian belakang korban sebanyak satu kali, disusul Papi memukul kepala korban dan terakhir pelaku Minto mengambil kayu di TKP dan memukul kepala korban.

Tak sampai di situ, Daud menyuruh Papi dan Mito mengangkat korban ke sepeda motor NMX-nya Daud. Sedangkan Munti membawa sepeda motor korban. Lalu para pelaku membawa korban dan membuang di selokan atau got di Jalan Pidada I, Denpasar, Bali, dalam kondisi mata kiri korban terlepas, kepala berdarah dan korban sudah tidak sadarkan diri.

"Motif para pelaku merasa jengkel dan sakit hati terhadap korban setelah terjadinya keributan dalam acara ulang tahun istri rekannya," ujarnya.

Polisi menangkap Papi dan Minto di Pelabuhan Lembar, Lombok Barat, saat akan kabur ke kampungnya. Dan pelaku Benyamin ditangkap di kawasan Denpasar. Sementara Daud masih dalam pengejaran.

"Mereka ini saling kenal dan berteman. Yang punya ide untuk (rekayasa) kecelakaan lalu lintas adalah si DPO. Jadi awalnya korban berkata-kata kasar kepada para tersangka lalu mereka melakukan tindak pidana pembunuhan. Intinya, mereka mabuk ada perselisihan jadilah masalah seperti itu," ujarnya.

Para pelaku disangkakan Pasal 338 KUHP atau Pasal 170 Ayat (3) KUHP tindak pidana pembunuhan atau pengeroyokan mengakibatkan orang meninggal dunia, dengan pidana penjara paling lama 15 tahun. [cob]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel