Kasus Pencucian Uang: KPK Buru Harta Nazar di Riau

INILAH.COM, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus memburu harta yang diduga terkait dengan tindak pidana pencucian uang (TPPU) terpidana kasus Wisma Atlet, M Nazaruddin. Bahkan, penelusuran dilakukan hingga ke Kabupaten Kampar, Riau.

"Tim KPK hari ini masih di sana, menelusuri aset-aset yang bersangkutan (Nazaruddin) di Kabupaten Kampar," kata Juru Bicara KPK, Johan Budi di Kantornya, Jakarta, Kamis (12/7/12).

Hal itu, lanjut Johan, penting dilakukan KPK guna pengembangan kasus TPPU yang menjerat mantan bendahara umum Partai Demokrat tersebut. Aset tersebut berupa aset tidak bergerak yang terletak di kabupaten yang berjarak dua jam dari Kota Pekanbaru itu.

"Untuk penelusuran ini, Penyidik juga melakukan pemeriksaan kepada beberapa orang saksi disana sejak kemarin. Ada tiga orang saksi dari PNS yang biasa bertugas di Kantor Pelayanan Terpadu (KPT) Kampar. Ketiganya diperiksa di kantor Sekolah Polisi Negara (SPN) Pekanbaru," terang Johan.

Kasus TPPU M Nazaruddin ini mulai mencuat setelah mantan Wakil Direktur Keuangan PT Permai Group, Yulianis mengatakan bahwa Permai Grup membeli saham perdana Garuda Indonesia senilai total Rp300,8 miliar.

Menurutnya, pembelian saham tersebut menggunakan keuntungan yang diperoleh Grup Permai dari proyek-proyek di pemerintah. Yulianis juga menyebut uang pembelian saham Garuda diperoleh dari lima anak perusahaan Permai Grup. Yakni PT Permai Raya Wisata membeli 30 juta lembar saham senilai Rp22,7 miliar, PT Cakrawaja Abadi 50 juta lembar saham senilai Rp37,5 miliar.

Kemudian PT Exartech Technology Utama sebanyak 150 juta lembar saham senilai Rp124,1 miliar, PT Pacific Putra Metropolitan sebanyak 100 juta lembar saham senilai Rp75 miliar dan PT Darmakusuma sebanyak Rp55 juta lembar saham senilai Rp41 miliar.

Diduga, selain menggunakan uang hasil korupsi untuk membeli saham PT Garuda, M Nazaruddin juga menggunakannya untuk membangun perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di Kabupaten Kampar. [mah]

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.