Kasus Penganiayaan Santri di Garut, Korban dan Pelaku Saling Lapor Polisi

Merdeka.com - Merdeka.com - Kepala Kepolisian Resor Garut, AKBP Wirdhanto Hadicaksono menerima dua laporan yang kaitannya dengan aksi penganiayaan santri di Garut. Laporan pertama kaitan dengan penganiayaan, sedangkan satunya lagi adalah pencurian.

Dia mengatakan bahwa laporan dugaan penganiayaan dilakukan oleh keluarga korban dari santri. Sedangkan laporan dugaan pencurian dilakukan oleh sejumlah santri.

"Dua-duanya saling melapor. Jadi kami terima laporan dari keluarga korban penganiayaan dan juga termasuk kami juga menerima laporan terkait pencurian," kata Wirdhanto, Rabu (14/9).

Wirdhanto memastikan polisi akan memproses keduanya. Dia menduga antara kejadian penganiayaan memiliki keterkaitan dengan kejadian pencurian yang terjadi.

"Kejadian pencurian yang merupakan sebab akibat penganiayaan terhadap korban penganiayaan. Laporan (pencurian) sudah masuk. Yang melapor ada beberapa orang," ungkapnya.

Hingga saat ini, polisi baru menerima laporan dari kedua belah pihak saja. Nantinya, polisi akan melakukan langkah klarifikasi kepada keduanya.

"Kita akan lakukan penyelidikan lebih lanjut, kita akan panggil semua. Sukur-sukur bisa dilakukan restorative justice bila antara satu dengan yang lain bisa saling memahami," pungkas Wirdhanto.

Sebelumnya, seorang warga Bogor membuat laporan ke Polres Garut atas dugaan penganiayaan yang menimpa anaknya yang sedang menempuh pendidikan di Pesantren Persatuan Islam (PPI) 99 Rancabango, Garut, Jawa Barat. Pihak pesantren pun memberi penjelasan mengenai kronologi kejadian yang rupanya diawali aksi pencurian yang diduga dilakukan korban.

Pengasuh Pondok Pesantren/Mudir Muallimin PPI 99 Rancabango Lutfi Lukman Hakim menjelaskan bahwa dugaan penganiayaan yang dilakukan santrinya adalah akibat dari adanya tindakan pencurian yang dilakukan oleh AH yang juga merupakan santri PPI 99 Rancabango.

"Terjadinya tindakan yang tidak diinginkan itu berawal dari maraknya kehilangan barang, uang dan lainnya di pondok. Pihak pengurus santri berinisiatif melakukan sidang terhadap berbagai pelanggaran disiplin yang terjadi di pondok, dan itu dilakukan pada hari Jumat, 29 Juli 2022 mulai pukul 22.00 WIB setelah kegiatan di pondok selesai," jelas Lutfi, Selasa (13/9). [cob]