Kasus Perundungan Anak di Tangsel, Polisi Tetapkan Dua Tersangka

Merdeka.com - Merdeka.com - Polisi menetapkan dua dari sembilan anak pelaku penganiayaan terhadap Anak Baru Gede (ABG) berinisial MZA (16), warga Serpong, Tangerang Selatan. Korban dianiaya para pelaku dengan disundut rokok dan dipukul obeng.

Penetapan tersangka setelah upaya diversi dilakukan gagal. Kedua anak ditetapkan sebagai tersangka tidak ditahan lantaran mengacu Undang-Undang sistem peradilan anak.

"(Perkara penganiayaan anak) Itu lanjut sudah dijadikan tersangka. Ada dua di bawah umur 14 tahun," kata Kapolres Tangsel AKBP Sarly Sollu di Mapolres Tangsel, Senin (30/5).

Sarly menjelaskan, untuk anak-anak sebagai pelaku dan saksi yang ada di lokasi kejadian pada saat peristiwa tersebut berjumlah 9 anak. Tersangka yang menyundut korban pakai rokok.

"Ada 9 anak yang nyundut rokok itu sudah dijadikan tersangka (dua anak)," kata dia.

Sarly menegaskan, selaku penegak hukum telah menganjurkan kepada orang tua korban untuk menyelesaikan perkara tersebut secara diversi. Namun, orang tua dari korban menginginkan perkara tersebut tetap dilanjutkan.

"Kita sudah anjurkan diversi, namun keluarga korban ingin lanjut. Ya kita lanjutkan dan kita titipkan ke Bapas, prosesnya seperti itu," ucap Sarly.

Keluarga Korban Minta Pelaku Diproses Hukum

Diberitakan sebelumnya, keluarga korban perundungan memaafkan pelaku tapi proses hukum berlanjut. Upaya diversi atau pengalihan proses penyelesaian perkara terhadap enam terduga pelaku perundungan kepada MZA (16) dipastikan gagal, setelah orang tua korban, Nuryanah meminta polisi memproses kasus penganiayaan berat terhadap putranya tersebut.

"Diversi gagal. Orang tua korban memaafkan (para pelaku anak) tapi tetap ingin proses hukumnya berlanjut. Makanya lanjut ke proses pidana (penyidikan)," kata Kepala UPTD P2TP2A Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Tri Purwanto, Kamis (26/5).

Dia menjelaskan, berdasarkan aturan Undang-Undang nomor 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan anak, upaya diversi adalah proses yang dimungkinkan aparat penegak hukum (APH) dalam menindaklanjuti anak-anak sebagai pelaku kejahatan.

"Diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara anak yang berkonflik dengan hukum dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana. Semua APH harus mengutamakan diversi dulu, makanya polisi upayakan diversi dulu. Apalagi para terduga pelaku rata-rata di bawah umur dan tidak ada catatan kriminal sebelumnya," terang Tri.

Menurut dia, sebelumnya Polres Tangsel bersama Badan Pemasyarakatan (Bapas), P2TP2A, orang tua korban dan orang tua anakanak terduga pelaku dihadirkan untuk proses diversi pada Senin (23/5) kemarin.

Dalam kesempatan tersebut, Nuryanah telah memaafkan aksi penganiayaan, namun meminta proses hukum terus dilanjutkan. Sehingga Polisi menaikan status perkara itu ke tahap penyidikan.

Walau demikian, Tri menjelaskan bahwa anak-anak terduga pelaku penganiayaan terhadap MZA, tidak bisa dilakukan penahanan, sebab aturan yang mengatur karena pelaku anak-anak itu rata-rata berusia 12 tahun.

"Jadi anak tidak bisa ditahan, tapi sewaktu-waktu polisi akan melakukan pemanggilan, orang tua terduga pelaku wajib membawa anak mereka dalam pemanggilan," tandasnya. [gil]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel