Kasus Polio di Pidie Aceh Jadi KLB, Ahli Sarankan Vaksinasi Massal dan Surveilans

Merdeka.com - Merdeka.com - Seorang anak di Kecamatan Mane, Kabupaten Pidie, Aceh, positif polio berdasarkan hasil pemeriksaan di laboratorium Prof Sri Oemijati di Jakarta. Pemkab Pidie pun menetapkan temuan itu sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI Prof Tjandra Yoga Aditama memberikan sejumlah rekomendasi penanganan kasus polio di Desa Mane, Pidie, Aceh dan wilayah lain, salah satunya dengan vaksinasi.

"Penggalakkan vaksinasi dalam dua bentuknya yakni ORI (outbreak resonse immunization) dan vaksinasi massal penduduk," kata Tjandra melalui pesan elektroniknya, Minggu (20/11).

Selain itu, menurut Guru Besar FKUI itu, perlu dilakukan surveilans setidaknya dalam dua bentuk yaitu surveilan AFP (acute flaccid paralysis) untuk menemukan kemungkinan kasus. Kemudian surveilans lingkungan untuk mencari vaccine derived polio virus (VDPV) di lingkungan, seperti yang ditemukan di Inggris walaupun tidak ada kasus pada manusia.

Surveilans merupakan suatu kegiatan yang sistematis dan terus menerus, terdiri dari proses pengumpulan, pengolahan, analisis, dan interpretasi data, serta penyebarluasan informasi kepada unit yang membutuhkan untuk pengambilan tindakan.

"Nama virusnya adalah vaccine derived polio virus (VDPV) karena memang asalnya dari vaksin, bukan seperti virus polio liar," tutur dia.

Penyebab Polio

Tjandra mengatakan penyakit polio pada dasarnya disebabkan oleh virus yang disebut virus polio liar atau wild polio virus (WPV), yaitu virus polio liar atau WPV tipe 1, 2 dan 3. Namun virus tipe 2 sudah dinyatakan eradikasi. Di sisi lain, keadaan lumpuh layuh polio dapat juga terjadi akibat virus yang mulainya dari vaksin oral yang kemudian ke luar ke lingkungan dan lalu bermutasi atau VDPV.

"Polio akibat virus polio liar ini hanya tinggal ada di dua negara di dunia, yaitu di Afganistan dan Pakistan, semua negara lain (termasuk Indonesia) sudah bebas polio," kata dia.

Lebih lanjut, sesuai aturan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), keadaan dikatakan sudah terjadi penularan di masyarakat atau disebut circulating vaccine-derived poliovirus type 2 (cVDPV2) apabila ditemukan VDPV di setidaknya dua tempat berbeda. Kemudian, ditemukan dalam jarak waktu setidaknya dua bulan atau lebih dan dan virus-virus itu secara genetik berhubungan (“genetically-linked”).

Rekomendasi selanjutnya yakni penanganan pasien yang ada. Kementerian Kesehatan mencatat kasus anak berusia tujuh tahun yang terinfeksi virus polio di Aceh tidak memiliki riwayat imunisasi. Anak itu mengalami gejala lumpuh di kaki kiri, demam dan flu serta onset lumpuh. Dia lalu dilarikan ke RSUD TCD Singil. Hasil RT PCR menunjukkan ada infeksi virus polio tipe 2 dan tipe 3 sabin.

Prof Tjandra yang pernah menjabat sebagai Dirjen Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan menyatakan Indonesia masih berstatus bebas polio yang didapat.

"Kejadian di Aceh karena VDPV2 dan sebelum ini di 2019 sudah ada juga kasus seperti ini di Papua (VDPV 1) pada 2 anak. Jadi sesudah 2014 maka setidaknya sudah ada dua kali KLB Polio di kita, yang ke duanya VDPV, bukan virus polio liar," jelas dia yang menyarankan pemeriksaan amat seksama untuk kejadian di Aceh itu.

Kemenkes akan Gelar Imunisasi

Kementerian Kesehatan merespons KLB polio tersebut dengan imunisasi yang akan dilaksanakan di Provinsi Aceh.

"Respons-respons penanggulangan KLB itu kita akan melakukan outbreak respond imunisasi, juga cakupan imunisasi kita tingkatkan," ujar Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Maxi Rein Rondonuwu di Jakarta, Sabtu (19/11). Dikutip dari Antara.

Maxi mengatakan imunisasi akan dilakukan di Kabupaten Pidie dimulai tanggal 28 November 2022. Diharapkan hingga selesai pada tanggal 5 Desember 2022 di seluruh kabupaten kota di Provinsi Aceh.

Saat ini pemerintah masih berkonsultasi dengan WHO, agar dapat melakukan imunisasi pada anak usia kurang dari 13 tahun. Selain itu, pemerintah juga melakukan surveilans aktif ke Puskesmas untuk melihat apabila ada yang belum terlaporkan pada anak di bawah 15 tahun yang mengalami flaccid atau lumpuh secara mendadak.

"Kita lagi mempersiapkan vaksin, sudah siap untuk melakukan outbreak responds imunisasi. Uang di Pidie mulai tanggal 28 November, jadi bawah 13 tahun sudah suruh beralih ke dukcapil per desa dilakukan satu minggu, dan kemudian seluruh Aceh mulai tanggal 5 Desember dan itu dilakukan dua putaran, baik Pidie maupun seluruh dalam satu bulan," ujar dia.

Selain itu dilakukan imunisasi rutin tetap untuk meningkatkan cakupan inactive polio vaccine (IPV).

"Target dunia, termasuk Indonesia itu akan melakukan eradikasi tahun 2026, dalam 2-3 tahun. Jadi kalau masih ada satu kasus ditemukan di negara mana pun, menjadi perhatian dunia," ujar Maxi.

[gil]