Kasus Semakin Turun, Komisi IX DPR Nilai Kebijakan Penanganan Covid-19 On The Track

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi IX DPR Rahmad Handoyo menilai kebijakan pemerintah dalam penanganan Covid-19 sudah sesuai rencana. Salah satu indikatornya adalah kasus Covid-19 yang terus turun.

Gelombang kedua penyebaran Covid-19 di Indonesia mulai pertengahan Juni dan mencapai titik puncak pada pertengahan Juli. Saat itu, penambahan kasus harian bisa lebih dari 40 ribu. 3 Juli 2021, pemerintah membatasi mobilitas masyarakat dengan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang terus diperpanjang hingga saat ini.

Agustus, penurunan kasus Covid-19 mulai terlihat. Bahkan, tiga hari terakhir penambahan kasus harian Covid-19 terus di bawah 10 ribu. 4 September, ada 6,7 ribu kasus baru. 5 September, ada 5,4 ribu kasus baru. Kemarin, kasus baru hanya 4,4 ribu.

Pasien sembuh sudah mencapai 90%. Saat ini rasio keterisian rumah sakit secara nasional berada pada angka 19%.

Pekerjaan rumah pemerintah yang cukup menantang adalah mengurangi risiko kematian. Kebijakan yang diambil adalah dengan membangun isolasi terpusat dan meningkatkan cakupan program vaksinasi.

Rahmad menilai capaian-capaian tersebut merupakan hasil dari kebijakan yang tepat dan dukungan seluruh masyarakat.

"Saya kira kebijakan pemerintah on the track dan sesuai keinginan bersama. Banyak yang menyangsikan sebelumnya, tapi rakyat bersama pemerintah bergotong royong, bergandengan tangan penuh kesabaran,” kata Rahmad kepada wartawan, Selasa (7/9/2021).

Kendati demikian, dia mengimbau masyarakat tetap waspada dan mematuhi protokol kesehatan. Menurut Rahmad, masyarakat tidak boleh berpuas diri atas penurunan kasus Covid-19 belakangan ini.

Sebab kasus Covid-19 bisa saja kembali meledak jika masyarakat mengabaikan protokol kesehatan.

"Karena ini angkanya masih labil. Amerika sempat turun, kemudian meledak lagi. Saya kira kita perlu tetap menjaga kewaspadaan melawan Covid-19,” kata dia.

Butuh Waktu Ubah Perilaku Masyarakat

Rahmad juga mengakui butuh waktu untuk mengubah perilaku masyarakat agar terus menyesuaikan diri dengan kondisi pandemi.

"Perlu kita ingatkan bahwa PPKM itu untuk menyelamatkan seluruh masyarakat. Jadi kita butuh kesabaran,” ujar Rahmad.

Menurut Rahmad, masyarakat perlu menjadi agen untuk menyukseskan PPKM. Semakin rakyat bergotong royong, potensi Indonesia keluar dari kondisi ini semakin besar.

"Kepada orang-orang yang masih menolak PPKM, bangsa kita ini menjadi contoh banyak negara, terutama Malaysia, terbukti kita mampu mengendalikan bersama,” tegas Rahmad.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel