Kasus Simulator SIM, Anggota DPR Bela KPK

TEMPO.CO, Jakarta - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mendukung penuh upaya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntaskan kasus korupsi pengadaan simulator ujian mengemudi di tubuh Polri. "KPK tidak salah dalam menyidik dan menggeledah atas kasus itu," kata anggota Komisi Hukum Martin Hutabarat saat dihubungi, Kamis, 2 Agustus 2012.

Menurut Martin, nota kesepahaman (MoU) antara KPK dan Polri yang digunakan sebagai dasar untuk menyatakan penggeledahan oleh penyidik komisi antirasuah tidak sah, tidak pas. "Posisi MoU itu kan jelas tidak lebih tinggi dari perangkat perundangan," kata Martin.

Dia menambahkan, kesepakatan kerja sama antara Polri dengan KPK itu ditujukan untuk memaksimalkan pemberantasan korupsi di tiap instansi. "Kalau salah satu instansi lamban menangani kasus korupsi, tentu bisa ditangani yang lain," ujarnya.

Dalam kasus korupsi simulator SIM ini, kata Martin, Polri lamban dalam menangani kasus. "Karena kasus itu melibatkan kolega sendiri, saya pikir sulit penyelesaiannya," katanya. Untuk itu lebih tepat jika KPK yang menuntaskan. "Kalau nanti KPK yang terbelit kasus, silakan Polri bertindak."

KPK telah menetapkan mantan Kepala Korps Lalu Lintas Mabes Polri Djoko Susilo sebagsi tersangka dalam kasus korupsi pengadaan alat simulator kendaraan roda dua dan roda empat. Jenderal polisi berbintang dua ini diduga terlibat dalam penggelembungan pengadaan alat simulator SIM itu.

SUBKHAN 

Berita terkait

Kasus Simulator SIM, DPR Minta KPK dan Polri Koordinasi  

Kasus Simulator SIM, Komisi Hukum Akan Panggil Kepala Polri 

7 Alasan Polisi Harus Lepas Kasus Simulator SIM 

5 Tersangka Kasus Simulator Versi Polri 

Satu Jenderal Polisi Lagi Jadi Tersangka

Polisi Diminta Mundur dari Kasus Simulator SIM

Presiden SBY Pantau Kasus Simulator SIM  

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.