Kasus virus membengkak di kamp-kamp tunawisma Montreal saat musim dingin tiba

·Bacaan 3 menit

Montreal (AFP) - Di sepanjang tepi bulevar panjang di Montreal membentang pemandangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di kota ini: ratusan tenda yang bermunculan di kamp tunawisma baru sejak akhir musim panas lalu, dengan banyak orang terusir dari rumahnya karena pandemi.

"Selamat datang di perkemahan Notre-Dame yang trendi!" gurau Jacques Brochu yang dijuluki "walikota" oleh tetangga-tetangganya.

Pada usia 60 tahun, Brochu mengaku mendapati dirinya tunawisma dan tinggal di sebuah tenda di Jalan Notre-Dame setelah kehilangan rumah sederhana karena disita pemiliknya.

Seperti tetangga-tetangga barunya, dia sedang bersiap menghadapi musim dingin Quebec yang membekukan di mana suhu sering turun hingga minus 20 derajat Celcius.

"Saya berhasil memanaskan tenda saya dengan baik sekali," kata Brochu sembari memamerkan lilin-lilin kecilnya. Selebihnya adalah terpal yang menutupi tempat penampungan.

Di kamp di Hochelaga yang pernah menjadi lingkungan kelas pekerja di Montreal timur yang mengalami gentrifikasi, para tunawisma jangka panjang itu bergaul dengan orang-orang yang baru saja kehilangan pekerjaan, serta mahasiswa dan pekerja yang kehilangan rumahnya.

Guylain Levasseur (55) yang menjadi tunawisma selama enam tahun dan tinggal di karavan kecil itu dianggap sebagai "manajer" perkemahan.

Di bawah sebuah kanopi di samping karavannya yang dilapisi dengan kursi berlengan, dia mendirikan semacam dapur di mana orang bisa datang dan mengambil makanan atau menyumbangkan makanan.

"Ada orang yang datang membawakan kami makan setiap hari," kata dia. Van miliknya penuh dengan kantong tidur dan pakaian hangat yang juga disumbangkan oleh orang-orang dermawan yang baik hati.

Selama tiga bulan terakhir, dia sudah memberikan sebagian dari pembayaran kesejahteraannya yang tak seberapa guna membantu membeli generator agar tenda tetap hangat.

Masyarakat sejauh ini telah membeli tujuh generator berbahan bakar bensin yang disumbangkan oleh simpatisan.

Penduduk lain berhasil memasang jaringan Wifi, dengan nama akun "kamp Notre-Dame" dan memancarkan dari sebuah router yang terpasang di atas karavannya.

Para tunawisma ini juga memiliki akses ke toilet portabel.

Serge Lareault, komisioner Montreal untuk tunawisma, mengatakan virus corona telah "membuat ratusan orang kehilangan tempat tinggal."

"Fenomena perkemahan tunawisma adalah hal baru di Montreal," kata dia.

Tahun lalu, ada sekitar 3.000 tunawisma di kota itu, namun jumlah itu melonjak sejak virus merebak sehingga menciptakan malapetaka terhadap perekonomian dan menekan perumahan sederhana.

"Tempat penampungan darurat kami melimpah dan permintaan masih terus meningkat; ada banyak kamp di sekitar kota," kata dia.

Menghadapi keadaan darurat, pihak berwenang di provinsi Quebec dan kota Montreal sudah meluncurkan sejumlah prakarsa, termasuk sebuah hotel yang, mulai bulan ini bakal menampung 380 tunawisma setiap malam hingga akhir Maret.

Namun, tak semua orang di jalanan senang dengan ide memesan tempat penampungan sederhana di tengah pandemi.

"Anda tak pernah tahu siapa tetangga Anda atau di mana mereka sebelumnya," kata Brochu yang menghabiskan waktu di sebuah tempat penampungan setelah kehilangan rumahnya.

Dia tidak akan kembali.

"Di sini, saya bisa menjaga diri saya sendiri," kata dia, sembari mengenakan jaket yang disumbangkan oleh sebuah badan amal.

"Selama ada orang yang tinggal di sini, saya juga akan ada di sini," kata Levasseur.

Lareault sang komisioner tunawisma menambahkan bahwa banyak tunawisma mungkin meninggalkan dari perkemahan saat suhu turun.

"Dinginnya sangat mengganggu," kata dia.