Kasus Wilfrida Soik Bukti Kegagalan Lembaga Keagamaan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wilfrida Soik (20), tenaga kerja wanita (TKW), terancam hukuman mati di Malaysia.

Ini dinilai merupakan bukti kegagalan lembaga-lemabaga keagamaan dalam memberantas kemiskinan dan mencerdaskan umat di Indonesia.

KH Maman Imanulhaq, Pimpinan Pesantren Al-Mizan mengatakan, pimpinan keagamaan seperti kiai dan pendeta, kini lebih sibuk mengurusi politik praktis ketimbang menjalankan fungsi keagamaan.

"Sekarang kiai dan pendeta lebih kepada politik praktis daripada membebaskan kemiskinan. Ini kegagalan ormas NU, Muhammadiyah, termasuk jaringan-jaringan Gereja Katolik dan Protestan," kritik Maman, di Kantor Change.org, Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (10/9/2013).

Maman menuturkan, Wilfrida merupakan anak yang masih di bawah umur, saat diberangkatkan ke Malaysia. Wilfrida merupakan masyarakat miskin dan tidak berpendidikan.

Menurut Maman, kasus Wilfrida mencerminkan cara berdakwah atau berkhotbah pemuka agama selama ini, tidak berjalan dengan benar, karena tidak mencerdaskan masyarakat.

Agama, kata Maman, memiliki tiga fungsi. Pertama, mengentaskan kemiskinan. Kedua, meningkatkan kualitas pendidikan. Ketiga, bagaimana mensinergikan seluruh jaringan keagamaan untuk menjadikan persoalan buruh menjadi prioritas.

"Dakwah harus mencerdaskan dan memberdayakan. Kasus Wilfrida dan banyak korban kasus lainnya yang mendapat sanksi hukum di luar negeri, menjadi bukti bahwa kemiskinan, mafia hukum, perdagangan manusia, dan sebagainya, terjadi. Ini bukti gereja dan masjid tidak berfungsi," tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, Wilfrida berangkat sebagai TKI Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) ke Malaysia, tanpa dokumen ketenagakerjaan pada 26 November 2010. Ia berangkat melalui jasa perorangan (sponsor) bernama Denny, yang tinggal di Kupang, NTT.

Wilfrida lebih dulu diterbangkan ke Jakarta. Setibanya di Malaysia, ia diterima agen perekrut TKI Kelantan, AP Master SDN, BHD.

Pihak agensi lantas menyalurkan Walfrida kepada keluarga Yeoh Meng Tatt Albert, dan bekerja mulai 28 Oktober sampai 24 November 2010. Karena tak nyaman, Yeoh Meng Tatt mengembalikan Walfrida ke AP Master SDN. BHD.

Pada 26 November 2010, Wilfrida bekerja di keluarga Lee Lai Wing, yang memiliki orangtua lanjut usia bernama Yeap Seok Pen.

Pada 7 Desember 2010, polisi Malaysia bernama Inspektur Raja Munawwir, menangkap Walfrida di rumah beralamat Lot 1725, Lubuk Tengah 17000, Pasir Mas, Kelantan.

Walfrida, dilaporkan membunuh  Yeap Seok Pen. Sejak penangkapannya, ia ditahan di Penjara Pengkalan Chepa, Kota Bahru, Kelantan. (*)

Baca Juga:

Aktivis Bikin Petisi Tolak Hukuman Mati untuk Wilfrida Soik

Narkoba Asal Timor Leste Bebas Masuk Indonesia

Persib Buka Menpora Cup Lawan Malaysia U-23

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.