Kata Anak Muda Soal Kerja Jadi PNS, Masihkah Jadi Profesi Idaman

Merdeka.com - Merdeka.com - Status menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) sepertinya tak menggugah generasi anak muda untuk berkarir. Iklim kerja yang hirarki menjadi alasan utama, PNS mulai ditinggalkan generasi anak muda.

Reva (23) memilih berkarir di industri kreatif pada perusahaan swasta. Ia enggak berkarir menjadi PNS, yang dalam benaknya bekerja berdasarkan sistem hirarki, tidak fleksibel, dan terpasung dengan birokrasi.

"Belum tertarik. Enggak terlalu suka terhadap kultur pekerjaan di bawah pemerintahan yang kurang bebas," ucap Reva kepada merdeka.com, Kamis (22/9).

Dia berujar, ruang kerja seakan terbatas jika bekerja sebagai PNS. Meski instansi tersebut memiliki proyek baik dan inovatif, namun terkadang eksekusi dari proyek tersebut tidak optimal karena terbentur aturan birokrasi. Selain itu, lingkup ruang kerja PNS didominasi oleh generasi baby boomer, sehingga khawatir tidak memiliki satu frekuensi untuk berkomunikasi. Jika satu instansi minim komunikasi, menurutnya kondusivitas dalam bekerja akan terganggu.

Reva juga menyampaikan alasan utama berkecimpung pada sektor swasta karena memiliki bobot yang adil. Kesempatan terbuka luas bagi siap pun yang memiliki kompetensi tertentu.

"Di PNS semua jabatan berjenjang sesuai pangkat, usia, pendidikan, kalau di industri kreatif yang aku jalanin, tidak memandang itu. Sehingga walau usia seseorang masih 22 tahun tapi mempunyai skill pro, dia sangat berpeluang jadi leader team di perusahaan itu," ungkapnya.

Senada dengan Reva, Indri (22) tidak menempatkan pegawai PNS sebagai prioritas capaiannya dalam berkarir. Alasan utamanya, tak mau bekerja dalam kekangan birokrasi.

Sejauh pengetahuan Indri, bekerja sebagai abdi negara banyak sekali aturan dan etik yang menempel. Lain halnya dengan pegawai swasta. Meski sama-sama memiliki aturan, PNS di benak Indri adalah pekerjaan di bawah kekangan.

"Bukan pilihan pertama karena tidak suka kerja terkekang," ungkap Indri.

Yovi (24), pegawai swasta juga mengaku enggan menjadi pegawai negara. Di samping aturan yang terkesan kolot dan berbelit, pendapatan pegawai PNS pun tidak lebih baik dibandingkan dengan pendapatan sebagai perusahaan swasta.

"Jika tergiur dengan gaji dan tunjangan yang besar PNS, saya kira banyak perusahaan swasta yang offer dengan nilai kompetitif," kata Yovi.

Lebih Suka Berbisnis

Doni (27) seorang pengusaha susu sapi murni, menuturkan dirinya lebih memilih untuk menjadi pebisnis, karena sangat menjanjikan dalam waktu jangka panjang dan dapat diibaratkan dengan berinvestasi. Dengan membuka bisnis tentu juga akan bermanfaat untuk orang lain, salah satunya seperti membuka lapangan kerja.

"Kalau masalah menjanjikan banyak sudut pandang kalau bahasa nya dibandingin sama karyawan atau PNS. menjanjikannya dalam arti jangka panjang, soalnya membuat bisnis itukan sama saja seperti investasi jangka panjang," ujar Doni kepada Merdeka.com.

Doni pun menuturkan dirinya tidak tertarik sama sekali untuk memiliki jenjang karir menjadi PNS. Menurutnya, gaji sebagai seorang ASN lebih kecil daripada omset yang didapatkan selama satu bulan menjadi pebisnis susu sapi murni bisa sampai Rp 15 juta per bulan.

"Ya, omzet saya Rp 9 juta sampai Rp 15 juta perbulan. Menjanjikan bekerja disitu (PNS) tapi ya tidak menjanjikan juga, lebih enak usaha sendiri (penghasilannya)," kata dia.

Senada, Nazla (24) pengusaha sepatu, mengatakan dia sama sekali tidak tertarik untuk meniti karir menjadi seorang ASN. Menurutnya menjadi ASN kurang untuk bisa mengekspresikan diri untuk mencoba hal yang baru dan menantang.

"Dipersepsi saya, PNS itu kaku dan hirarkis banget. Saya tidak mau terikat dinas dan dalam bayangan saya PNS itu kaku. Saya juga memiliki tujuan lain, kenapa mau jadi pengusaha," kata Nazla.

Dia pun membeberkan pendapatan per bulan dalam pembuatan produk sepatu tersebut yakni Rp 4 juta hingga Rp 7 juta per bulan. "Ya untuk pendapatan alhamdulilah kisaran Rp 4 juta hingga Rp 7 juta," tambahnya.

Minat generasi muda enggan menjadi PNS tercermin saat Badan Kepegawaian Negara (BKN) mencatat ada 105 orang CPNS 2021 yang mengundurkan diri dari status barunya sebagai calon abdi negara per Jumat 20 Mei 2022. Pengunduran diri CPNS itu disesalkan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) yang saat itu diemban oleh Tjahjo Kumolo.

Tjahjo mengatakan, pengunduran diri ratusan CPNS yang telah lolos seleksi itu merugikan negara. Sebab menurut dia, pemerintah telah menghitung jumlah CPNS yang diperlukan beserta biayanya, namun tidak mendapatkan sumber daya manusia (SDM) sesuai harapan.

"Dengan biaya itu, pemerintah seharusnya mendapatkan ASN yang dibutuhkan. Namun, karena ada yang mengundurkan diri, formasinya jadi kosong. Biaya yang dikeluarkan besar, tapi tidak mendapatkan SDM-nya," kata Tjahjo dalam keterangannya di Jakarta, Senin (30/5). [azz]