Kata MUI soal pria yang beristri lebih dari empat

MERDEKA.COM. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam kelakuan pria yang memiliki istri lebih dari empat orang. Dalam hukum Islam, seorang laki-laki hanya diperbolehkan memiliki empat istri dengan syarat harus adil dan tidak ada kecemburuan antara istri satu dengan lainnya.

"Masalah perkawinan lebih dari satu istri ini berdasarkan dalil Alquran ayat 3 Surat An-Nisa yang dijadikan legitimasi poligami. Penafsiran Islam tentang ayat Alquran tersebut sangat jelas. Boleh menikah sebanyak-banyaknya empat dan tidak boleh lebih," kata Ketua MUI Slamet Effendi Yusuf kepada merdeka.com, Jumat (19/4).

Effendi menegaskan, dari berbagai mazhab Islam amat melarang seorang pria memiliki istri lebih dari empat orang. Pihaknya amat menyayangkan jika ada perkawinan atau poligami dengan mengumpulkan istri lebih dari empat.

"Sangat disayangkan dan dilarang. Dalam berbagai mazhab Islam, tidak boleh menikah dan memiliki istri lebih dari empat orang," tegasnya.

Dalam hal ini, diakui Effendi, MUI tidak akan mengeluarkan fatwa untuk produk sebuah hukum. Pasalnya, masalah perkawinan, di mana seorang pria berpoligami dengan istri lebih dari empat orang sudah jelas hukum dan dasarnya dalam Alquran.

MUI akan mengeluarkan fatwa jika terkait persoalan yang hukumnya masih samar. Kemudian berdampak pada perdebatan dan menimbulkan kebingungan dalam masyarakat. Seperti apa dasar hukum yang benar dalam sebuah kasus, boleh atau tidak, apakah ada dalil dalam Alquran dan hadis, dan persoalan-persoalan yang dasar hukumnya butuh penafsiran kembali.

"Dalam Alquran sangat jelas, yang sudah jelas itu tidak difatwakan. Sesuatu yang sudah jelas tidak akan difatwakan kecuali hal itu berkenanaan dengan dalil yang membawa keraguan bagi umat," kata Effendi.

Untuk diketahui, dibolehkan bagi seorang pria untuk menikah dengan lebih dari satu istri sampai dengan empat istri bila dirinya mampu untuk berlaku adil di antara istri-istrinya dan bisa menghindarkan diri perbuatan dzalim. Akan tetapi diharamkan baginya untuk mengumpulkan (dalam satu waktu) di bawah tanggungjawabnya lebih dari 4 istri. Dalil atau dasar hukum dari permasalahan tersebut adalah ayat Al-Qur’an, As-Sunnah dan ijma’. Adapun dalil dari Al-Qur’an adalah:

"Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki." (An-Nisaa: 3)

Jadi apa yang lebih dari itu, maka tetap di atas hukum asalnya yaitu haram. Adapun dalil dari As-Sunnah (hadis) yakni apa yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Qais ibnul Harits bahwa ia berkata: "Saya masuk Islam sementara saya memiliki 8 istri. Saya datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu saya ceritakan hal tersebut kepada beliau. Beliau pun berkata: ‘Pilihlah olehmu diantara mereka empat orang saja'.

Kemudian, MUI sendiri tidak akan mengeluarkan sangsi kepada pelaku atau orang yang memiliki isteri lebih dari empat orang. "Dasar hukumnya sudah jelas, biarlah masyarakat yang menilai dan memberikan sangsi kepada pelaku yang memiliki isteri lebih dari empat orang," tandasnya.

Baca juga:
'Pria poligami tak akan adil, lebih utamakan istri muda'
Bukan poligami biasa, kisah para pria penggaet banyak wanita
Karena cinta, wanita ini rela dipoligami

Topik Pilihan:
Pernikahan|Pembatasan BBM| Presiden SBY | Ujian Nasional | Wanita merdeka

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.