Kaum milenial Vietnam bicara tentang seks

Hanoi (AFP) - Huong telah melakukan dua kali aborsi dalam dua tahun.

Tidak ada yang berbicara tentang seks dengannya: tidak orangtuanya, tidak gurunya - dan teman-temannya hanya tahu sedikit soal seperti seperti dia.

"Saya takut ketika mengetahui saya hamil ... Saya pikir jika kita diberitahu tentang seks yang aman, kita tidak akan jatuh ke dalam perangkap ini," jelas wanita berusia 20 tahun itu.

Dia tidak sendirian. Kurangnya pendidikan seks di rumah atau di sekolah di Vietnam, telah mengakibatkan beberapa mengandalkan aborsi sebagai bentuk kontrol kelahiran, kata para ahli.

Berbicara tentang seks adalah "semacam hal terlarang", kata Linh Hoang, 23 tahun, yang dalam misi mengubah sikap ketinggalan jaman di negara ini yang membuka diskusi tentang seks atau identitas gender.

Vietnam memiliki populasi muda dan nilai-nilai seksual mereka telah melompati hambatan konservatif dari negara komunis, dengan aplikasi kencan, kondom dan pil aborsi yang gampang diperoleh.

Tetapi kesenjangan generasi telah membuat kaum muda tanpa informasi dan dukungan ketika kehidupan seks mereka mulai berkembang.

Orang tua banyak yang enggan membahas topik seks aman dan masyarakat "tidak tahu apa itu pendidikan seks dan bagaimana melakukannya," kata Linh, yang mengenang guru biologinya sendiri yang berusaha menutupi pelajaran reproduksi tanpa menjelaskan soal hubungan seks.

Bersama dengan tiga teman semuanya berusia awal 20-an, Linh menjalankan start-up pendidikan seks WeGrow Edu dari sebuah ruang kerja bersama di Hanoi, di mana mereka menyimpan kotak hadiah yang diisi dengan pembalut wanita, tes kehamilan dan kondom - serta panduan penting tentang bagaimana dan kapan remaja mungkin menggunakannya.

"Tidak sulit untuk mendapatkan kontrasepsi di Vietnam tetapi stigma sosial di sekitarnya sangat berat," kata dia kepada AFP.

Dari demonstrasi tentang bagaimana menggunakan kondom hingga diskusi yang lebih bernuansa tentang peran gender, kelas WeGrow Edu bertujuan memberikan informasi penting kepada kaum muda Vietnam.

Selama beberapa dekade, Vietnam memberlakukan kebijakan dua anak tetapi hanya memiliki sedikit informasi komprehensif tentang kesehatan reproduksi dan tidak memiliki akses ke layanan keluarga berencana secara gratis.

Itu menyebabkan Vietnam memiliki salah satu tingkat aborsi tertinggi di dunia, demikian menurut organisasi nirlaba soal kesehatan seksual, Alan Guttmacher Institute.

Skema ini dihapus bertahun-tahun yang lalu dan kondom sekarang murah dan tersedia di hampir setiap supermarket dan apotek. Sementara pil aborsi - yang seharusnya dengan resep dokter - juga ditawarkan di beberapa apotik secara bebas.

Angka aborsi, meskipun menurun, masih tinggi, kata para ahli keluarga berencana kepada AFP.

Pada 2005, terjadi 37 aborsi untuk setiap 100 bayi yang lahir, menurut data kementerian kesehatan yang dikutip United Nations Population Fund (UNFPA).

Pada 2019, angka resmi turun menjadi 12, meskipun UNFPA mengatakan jumlah aktual diperkirakan lebih tinggi mengingat seperempat aborsi terjadi dalam praktik swasta.

Huong, nama samaran untuk melindungi identitasnya, mengatakan dia tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika dia tahu dia hamil pertama kali pada usia 16 tahun, setelah berhubungan seks dengan seorang teman, dan harus meminta bantuan seorang pacar yang lebih tua.

"Itu benar-benar sakit. (Setelah) saya merasa ... sangat tidak aman," kata dia tentang prosedur di klinik swasta.

Dia kemudian belajar sedikit tentang kontrasepsi ketika berkencan dengan pacarnya, tetapi tidak cukup mencegahnya hamil lagi dalam usia 18 tahun. Dia dapat menggunakan pil yang mudah diakses untuk aborsi.

Nguyen Van Cong, seorang dokter berusia 33 tahun dan pendiri program pendidikan kesehatan "We Are Grown Up", mengatakan timnya telah mengajari ribuan anak sekolah tentang seks yang aman dan kontrol kelahiran untuk memerangi "tren yang mengkhawatirkan" di mana "aborsi" dianggap sebagai metode kontrasepsi ".

Sementara masyarakat menjadi lebih permisif dan orang-orang muda telah membuang tabu seputar seks pra-nikah, Cong percaya orang tua dan guru "selalu takut" untuk membahas topik tersebut karena takut justru akan mendorong kegiatan seksual.

Dia berbicara di sela-sela kelas seks di sekolah Hanoi, di mana remaja didesak membahas segala sesuatu mulai dari masturbasi dan PMS hingga kontrasepsi.

"(Orang dewasa) kebanyakan mencoba untuk menghindari berbicara dengan kami tentang topik tersebut," kata Ngo Quang Huy (17).

Sebuah laporan oleh Human Rights Watch pada Februari mengatakan bahwa kebijakan dan praktik pendidikan seks Vietnam tidak memenuhi standar internasional, dan tidak menanggapi masalah LGBT.

WeGrow Edu, sebagian didanai oleh kedutaan AS di Vietnam, sekarang bekerja dengan sekitar 20 sekolah di Hanoi.

Selain kotak hadiah berisi peralatan kontrasepsi remaja, anak-anak mulai usia empat tahun diberikan buku yang menjelaskan ilmu dasar tentang seks.

Meski kotak tersebut bernilai $ 50 (Rp700.000), jauh dari jangkauan rata-rata orang tua Vietnam, Linh mengatakan permintaan tetap tinggi.

"Bahkan teman-teman saya, ketika mereka pertama kali menerima kotak hadiah, mengakui bahwa itu adalah pertama kalinya mereka menyentuh kondom," jelasnya.