Kaum muda Afghanistan khawatir kembalinya Taliban bakal hambat kemajuan Kandahar

·Bacaan 3 menit

Kandahar (AFP) - Pernah menjadi episentrum pemerintahan tangan besi Taliban, kota Kandahar di selatan Afghanistan yang bergolak perlahan berubah menjadi pusat kota yang dipenuhi dengan kafe-kafe yang ramai, universitas campuran laki perempuan dan bahkan gym perempuan.

Setiap malam, para pemuda pergi ke klub Arena, sebuah kafe trendi di kota berpenduduk 700.000 jiwa itu, untuk bermain snooker, menonton sepak bola dari layar lebar atau mengisap shisha yang tak terpikirkan saat Taliban menguasai Afghanistan dari 1996 sampai 2001.

"Tak ada tempat seperti itu di Kandahar saat kami mendirikannya dan tetap tak ada tempat seperti itu di (seluruh) selatan," kata Nazir Ahmad, pemilik Arena berusia 30 tahun.

Tetapi kaum muda kota itu khawatir kebebasan yang diperoleh susah payah seperti itu hampir hilang lagi ketika Taliban meningkatkan serangan di bekas jantung mereka meskipun ada pembicaraan damai dengan pemerintah.

Sebelum pemberontak ini digulingkan oleh koalisi pimpinan AS setelah serangan 11 September, mereka memberlakukan versi hukum syariah Islam yang keras yang melarang semua jenis hiburan, mulai musik dan film sampai layang-layang.

Pencambukan dan eksekusi di depan umum di alun-alun kota masih menghantui penduduk, tetapi Kandahar sudah mengalami transformasi besar.

Kaum wanita kini bisa terlihat mengendarai sepeda motor, keluarga-keluarga menikmati piknik bersama, dan beberapa ruang kota memiliki air mancur yang menyala saat matahari terbenam sementara para pedagang kaki lima menyajikan hidangan panas Afghanistan sampai malam tiba.

Sekalipun ada kemajuan seperti itu, Taliban semakin berani setelah kesepakatan dengan Washington yang mengamankan penarikan semua pasukan asing sampai Mei 2021, dan mereka telah meningkatkan kampanyenya melawan pasukan Afghanistan di daerah-daerah pedesaan.

Afghanistan kini menghadapi prospek sangat nyata dalam mengembalikan sebagian kekuasaan kepada kelompok pemberontak yang selama 19 tahun tidak dapat dikalahkan oleh pasukan pimpinan AS.

Kelompok itu mengklaim menguasai atau memperebutkan lebih dari separuh wilayah negara itu, termasuk sebagian besar wilayah selatan Afghanistan.

Kota Kandahar memang tetap berada dalam kendali pasukan pemerintah, tetapi Taliban berada di ambang pintu.

"Saya berharap Taliban berubah dan mau membiarkan klab ini tetap buka," kata Ahmad kepada AFP.

Di lingkungan kelas atas kota Ayno Maina, tawa keras terdengar dari Cafe Delight yang merupakan tempat trendi lainnya.

Kafe itu membolehkan pelanggan wanita masuk yang masih jarang terjadi di kota ini.

"Kedamaian seperti apa jika mereka menutup kafe kita?" tanya pemilik Mohammad Yasin.

"Kami tidak akan menuruti jika Taliban menyuruh kami agar tidak menerima pelanggan wanita."

Ketika Taliban memerintah Afghanistan, anak-anak gadis dilarang bersekolah dan wanita yang dituduh melakukan kejahatan seperti perzinahan dirajam sampai mati di stadion-stadion olahraga.

Namun sejak mereka digulingkan, kaum perempuan membuat kemajuan besar di kota-kota, memasuki dunia kerja dalam posisi ambisius di media, politik, dan bahkan pasukan keamanan.

Sementara mereka berharap pembicaraan damai bisa membawa keamanan yang sangat dibutuhkan di negara itu, kaum wanita di Kandahar takut kehilangan sebagian dari kebebasan yang sudah mereka peroleh dengan susah payah.

"Hanya ada satu sekolah untuk anak perempuan dan kini kami memiliki 15 sekolah," kata Mariam Durrani (36) yang meluncurkan sejumlah prakarsa bagi wanita, termasuk pusat pendidikan, stasiun radio, dan bahkan gym tempat sejumlah wanita diam-diam menghadiri kelas.

"Ada kemungkinan Taliban kembali dan pembatasan bisa saja diberlakukan lagi terhadap kaum wanita," kata dia.

Walaupun demikian sejumlah kalangan menyatakan optimisme yang hati-hati seperti Shukria Ali, yang bekerja untuk Radio Merman, sebuah stasiun penyiaran yang dipimpin perempuan yang diluncurkan oleh Durrani yang baru-baru ini mendapatkan penghargaan dari kelompok kebebasan pers Reporters Without Borders.

"Mungkin saja Taliban telah berubah," kata dia kepada AFP, beberapa pekan sebelum terjadi serangkaian serangan mematikan dan sejumlah serangan tak diklaimnya yang membidik wartawan di negara itu.

"Kalau hari ini saya keluar tanpa burqa, maka itu bukan masalah," kata Feroza.

"Tapi sebelum ini (pada saat Taliban berkuasa), saya pasti dijebloskan ke penjara."

eb-jds/ds/jfx/fox/qan

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel