Kaum Tertindas Rohingya Bangun Lagi Gubuk-gubuknya di Bangladesh

Ezra Sihite
·Bacaan 2 menit

VIVA – Ribuan pengungsi Rohingya pada Kamis mulai membangun kembali rumah gubuk sementara mereka setelah kebakaran yang melanda sebuah kamp pengungsi di Bangladesh pada awal pekan ini.

Kebakaran itu menewaskan sedikitnya 11 orang.

Kebakaran terjadi pada Senin (22/3) dan menyebabkan 339 orang hilang, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Selain itu, menurut PBB, puluhan ribu orang kehilangan tempat perlindungan di kamp pengungsi terbesar di dunia, di distrik Cox's Bazar, di Bangladesh, yakni tempat lebih dari satu juta orang Rohingya tinggal setelah pergi menyelamatkan diri dari penganiayaan di negara asalnya, Myanmar.

Pada Kamis, para keluarga yang kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran itu mulai membangun tempat berlindung menggunakan terpal, tali, dan bambu yang disediakan oleh kelompok-kelompok pemberi bantuan.

Dengan infrastruktur kritis termasuk fasilitas medis dan sistem sanitasi yang hancur, kekhawatiran tentang adanya penyebaran penyakit pun meningkat.

"Kami harus bertindak cepat untuk membangun kembali tidak hanya rumah, tetapi seluruh infrastruktur di daerah yang rusak," kata Snigdha Chakraborty, manajer badan bantuan Catholic Relief Services di Bangladesh.

"Membangun kembali jamban, sumur, dan kamar mandi sangat penting untuk menyelamatkan nyawa dan mencegah penyakit," ujar Chakraborty.

Terlepas dari upaya tersebut, banyak pengungsi yang masih belum mendapatkan kembali tenda perlindungan selama empat hari setelah kebakaran. Mereka harus bertahan dalam cuaca panas dan kelembapan yang meningkat.

"Semuanya telah hilang. Saya, istri, dan keenam putra saya, masih tidur di bawah langit. Saya berharap mendapatkan tenda hari ini," kata Mohammed Salam, seorang pengungsi berusia 50 tahun.

Kebakaran itu adalah peristiwa trauma terbaru bagi banyak pengungsi, yang lari menyelamatkan diri dari rumah mereka di Myanmar barat ketika kelompok militer di negara itu melancarkan serangan terhadap pemberontak Rohingya pada 2017.

Dengan mempertimbangkan kepadatan berlebihan di tenda-tenda pengungsi yang dihamparkan di perbukitan yang gundul, Bangladesh telah mencoba untuk memindahkan 100.000 pengungsi Rohingya ke pulau terpencil di Teluk Benggala yang rawan banjir, meskipun ada tentangan dari sejumlah kelompok bantuan dan keengganan dari banyak orang Rohingya. (Antara/Ant)