Kawasan bekas industri perfilman picu kreativitas di Chongqing China

Dua tahun lalu, Bon Scott tidak begitu tertarik dengan ide istrinya untuk membuka sebuah bar kafe di kampung halamannya yang jauh di Chongqing, China barat daya.

Bagi pria Serbia berusia 31 tahun itu, lokasi yang sempurna harus menguntungkan baik dari segi sewa maupun gaya. Namun, dalam kunjungan lapangannya ke kota di China itu, dia langsung berubah pikiran.

Bar mereka dulunya merupakan sebuah klinik milik percetakan yang dibangun seabad yang lalu. Tempat tersebut sebelumnya adalah ruang bawah tanah di dalam kompleks warisan industri itu.

"Pertama kali saya melihatnya, kata 'ruang bawah tanah' (dungeon) langsung muncul di benak saya. Saya pikir, membuka bar di situ akan sangat menarik dan keren," ungkap Scott.

Kemudian, pasangan itu segera menyewa tempat tersebut dari pemiliknya, yaitu kawasan perfilman (film park) Yichang. Bagi mereka, lingkungan di sekitar kawasan itu mengungkapkan alur sejarahnya sendiri dengan kedamaian dan nostalgia. Bekas tempat perlindungan dari serangan udara serta Sungai Yangtze yang mengalir di sampingnya menciptakan suasana yang tenang.

Pada Oktober 2020, Scott dan istrinya membuka bar kafe "Dungeon" mereka.

"Banyak pelanggan menyukai gaya kami, memberi kami banyak apresiasi. Sementara itu, bagi saya pribadi, sebagai seorang musisi, ruang bawah tanah ini juga menawarkan lingkungan yang sempurna untuk berlatih musik dengan grup band saya," Scott menambahkan.

Kompleks industri itu juga menarik bisnis lokal lainnya untuk mencoba hal-hal baru di bangunan-bangunan lamanya (Xinhua)
Kompleks industri itu juga menarik bisnis lokal lainnya untuk mencoba hal-hal baru di bangunan-bangunan lamanya (Xinhua)

Karena berkurangnya permintaan pembuatan film di tengah pandemi COVID-19, kawasan perfilman tersebut pada 2020 mulai mengubah bangunan-bangunan kosongnya menjadi basis kewirausahaan bagi perusahaan baru dan usaha rintisan (start-up), tutur Wen Hanbing, manajer kawasan perfilman Yichang.

"Waktu itu, kami melihat industri pariwisata dan perfilman akan segera terpuruk akibat pandemi, sehingga kami mengubah arah operasional kawasan industri ini agar dapat menarik perusahaan-perusahaan baru, berorientasi pada inovasi, dan energik," jelas Wen.

Dengan kondisi kerja yang nyaman, biaya sewa yang relatif rendah, dan lingkungan bisnis yang mendukung, kawasan tersebut segera menjadi magnet bagi start-up lokal.

Sejauh ini, lebih dari 30 perusahaan telah menetap di kawasan tersebut, termasuk merek fesyen populer, hotel, restoran, dan perusahaan di bidang periklanan kreatif, perantara livestreaming, serta hiburan baru seperti permainan escape room.

"Perusahaan katering dan hiburan dapat menarik pengunjung ke kawasan ini, sedangkan start-up di bidang bisnis baru dapat membantu membawa kawasan kami menuju masa depan yang cerah," ujar Wen. "Ini sama-sama menguntungkan."