Kawasan Ekonomi Khusus Beralih Jadi Eco Industrial Park, Ini Perbedaannya

Merdeka.com - Merdeka.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto meminta kawasan ekonomi khusus untuk mulai beralih menjadi kawasan eco industrial park (EIP). Tujuannya yaitu untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya, mengurangi penggunaan energi tak terbarukan, dan membangun industri simbiosis dengan menggunakan limbah yang dihasilkan di daerah tersebut sebagai sumber daya mentah. Termasuk juga penataan sistem pengelolaan lingkungan, serta peremajaan instalasi pengolahan air baku dan air limbah

"Pemerintah akan menyusun kebijakan perluasan penerapan konsep EIP pada kawasan industri yang telah ada," kata Airlangga pada acara A Road to G20 Event: The International Conference on Eco Industrial Parks, Jakarta, Rabu (1/6).

Eco-Industrial Park (EIP) merupakan komunitas industri yang berlokasi di sebuah kawasan dan semuanya berkomitmen mencapai peningkatan kinerja lingkungan, ekonomi, dan sosial. Hal ini dilakukan dengan berkolaborasi dalam mengelola isu-isu lingkungan dan sumber daya alam.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian ikut mendukung pembangunan EIP di Indonesia. Secara khusus, pembangunan EIP saat ini sedang dilakukan oleh Kementerian Perindustrian. Bekerja sama juga dengan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) dan Swiss State Secretariat for Economic Affairs (SECO).

Pembangunan EIP bertujuan menanamkan industri dalam masyarakat yang menciptakan peluang ekonomi bersama, ekosistem yang lebih baik, dan jalan inovatif untuk praktik bisnis bertanggung jawab. Di antara banyak manfaatnya, EIP mempromosikan efisiensi sumber daya dan praktik ekonomi sirkular, membantu menjembatani kesenjangan antara kota dan industri dengan membuat kontribusi signifikan terhadap kota berkelanjutan.

Secara global, EIP dan dalam hal ini UNIDO dengan dukungan pendanaan dari SECO sedang mengimplementasikan Global Eco Industrial Park Program (GEIPP) di Kolombia, Mesir, Indonesia, Peru, Afrika Selatan, Ukraina, dan Vietnam.

Kebijakan pengembangan kawasan industri telah masuk ke generasi keempat, menyesuaikan dengan aspek industri cerdas dan berkelanjutan. Pemerintah Indonesia telah memasukkannya sebagai rencana dari adaptasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, dengan semakin mengembangkan EIP yang membawa inovasi dan infrastruktur untuk membangun lingkungan sosial dan lingkungan.

Jadi Kunci Pengembangan Kawasan Industri

Pada kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan kebijakan tersebut telah menjadi kekuatan kunci dalam mengembangkan kawasan industri yang memiliki prinsip ramah lingkungan tersebut. Saat ini, terdapat sekitar 135 Kawasan Industri yang menempati 65 ribu hektare lahan dan berada di bawah pengawasan Kementerian Perindustrian.

"Pemerintah juga mempromosikan dan mendorong kawasan-kawasan industri tersebut untuk bergerak menerapkan prinsip praktik industri yang lebih berkelanjutan," kata Agus.

Harapannya, EIP dapat dilaksanakan pada kawasan industri yang sudah ada maupun masih dalam tahap perencanaan. Hingga kini terdapat tiga Kawasan Industri yang telah ditunjuk sebagai pilot project implementasi GEIPP yaitu dua di Jawa Barat dan satu di Batam.

Kerja sama antara Indonesia, UNIDO, dan SECO melalui GEIPP akan memberikan struktur koheren dalam pengembangan kawasan industri ramah lingkungan. Keberhasilannya diyakini akan meningkatkan produktivitas sumber daya, ekonomi, lingkungan, sosial, dan kinerja bisnis, serta pemanfaatan teknologi industri 4.0. [idr]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel