KBRI Washington Gandeng William Wongso Kenalkan Rempah dan Bumbu Makanan Indonesia

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Tingginya minat terhadap bumbu makanan dan rempah-rempah asli Indonesia di Amerika Serikat (AS) mendapat perhatian serius. Salah satunya dengan menggelar seminar daring yang diadakan Kedutaan Besar Republik Indonesia atau KBRI Washington, AS, bekerja sama dengan Indonesian American Association (IAA).

Webinar bertema Mengindustrikan Makanan dan Bumbu Indonesia di Amerika Serikat” ini digelar dalam rangka mendorong industri kuliner Indonesia sebagai bagian dari gastrodiplomasi kuliner Indonesia di AS. Dilansir dari laman resmi KBRI Washington, 1 September 2021, Webinar yang diadakan pada 27 Agustus 2021 waktu setempat itu dibuka oleh Iwan Freddy Hari Susanto, Kuasa Usaha Ad-Interim (KUAI)/Wakil Duta Besar RI untuk AS.

Acara tersebut menghadirkan narasumber William Wongso sebagai pakar kuliner nasional, Atase Perdagangan KBRI Washington D.C, Atase Pertanian KBRI Washington D.C, dan Agus Setiawan selaku konsultan US Food and Drug Administration (FDA). Acara dipandu oleh moderator Rachmad Poetranto selaku Board of Trustees IAA.

Menurut Iwan dalam kata sambutannya, AS memiliki pangsa pasar yang besar untuk produk rempah-rempah dari Indonesia. Nilai ekspor rempah-rempah Indonesia ke AS di tahun 2020 mencapai 175 juta dolar AS atau sekitar Rp2,5 triliun.

"Selain itu, pada periode Januari-Juni 2021, nilai ekspor rempah-rempah Indonesia ke AS mengalami kenaikan 1,22 persen yaitu sebesar 83,25 juta dolar AS (Rp1,2 triliun). Hal ini membuktikan bahwa peluang pasar Amerika Serikat untuk produk rempah-rempah Indonesia masih sangat tinggi," terang Iwan.

Webinar ini dihadiri oleh 382 peserta yang datang dari berbagai latar belakang profesi. Ada pebisnis kuliner, UMKM Indonesia, eksportir Indonesia, diaspora Indonesia di Amerika Serikat, dan importir bumbu dan rempah Indonesia di Amerika Serikat.

Dalam sesi pertama, Atase Perdagangan KBRI Washington D.C, Wijayanto menyampaikan peluang produk rempah dan bumbu Indonesia di pasar AS, persyaratan pendirian restoran di AS, dan kiat ekspor ke AS. "Pasar Amerika Serikat merupakan pasar yang sangat ketat dan kompetitif, patuh pada regulasi termasuk salah satu kunci penting menembus pasar Amerika Serikat," jelas Wijayanto.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Membantu UMKM dan Pebisnis Kuliner

KBRI Washington Gandeng William Wongso Kenalkan Rempa  dan Bumbu Makanan Indonesia. (dok.Instagram @indonesiaindc/https://www.instagram.com/p/CS8Bi9Qsydn/Henry)
KBRI Washington Gandeng William Wongso Kenalkan Rempa dan Bumbu Makanan Indonesia. (dok.Instagram @indonesiaindc/https://www.instagram.com/p/CS8Bi9Qsydn/Henry)

Sesi Kedua menghadirkan Atase Pertanian KBRI Washington D.C, Hari Edi Soekirno yang memaparkan mengenai strategi jitu rebut pasar bumbu AS dengan industrialisasi makanan dan bumbu. Sesi Ketiga menghadirkan William Wongso yang mengusulkan konsep Cloud-kitchen “Indonesia Makan”.

Konsepnya adalah para pebisnis kuliner Indonesia di AS dapat menghadirkan produk makanan dan bumbu Indonesia di AS tanpa mengeluarkan biaya yang besar. Bisa juga dengan memperkenalkan konsep Indonesia Food outlet di AS sebagai upaya mengindustrialisasi makanan dan bumbu Indonesia di negeri Paman Sam.

"Kita semua perlu bersinergi untuk mengindustrikan makanan dan bumbu Indonesia di Amerika Serikat," tutur Wiliam.

Webinar selama dua jam tersebut ditutup oleh konsultan FDA, Agus Setiawan yang menyampaikan beragam regulasi dan persyaratan ekspor produk rempah-rempah ke AS. "Pelabelan merupakan salah satu persyaratan yang penting untuk dipatuhi agar dapat menembus pasar Amerika Serikat," ucap Agus.

KBRI Washington D.C. akan terus berupaya dan bersinergi dengan berbagai pihak dalam melakukan penetrasi pasar dan meningkatkan ekspor produk Indonesia ke AS. Webinar ini juga diharapkan bisa membantu para UMKM dan pebisnis kuliner Indonesia untuk dapat menggali peluang ekspor produk bumbu dan rempah-rempah Indonesia, serta dapat membangun sinergi bersama untuk mengindustrikan produk makanan dan rempah Indonesia di Amerika Serikat.

Delegasi Spice Up The World

Rempah-rempah Indonesia. (Liputan6.com/Putu Elmira)
Rempah-rempah Indonesia. (Liputan6.com/Putu Elmira)

Pada Juli lalu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mengirimkan tim delegasi Indonesia Spice Up The World (ISUTW) ke New York, AS yang diklaim menelurkan hasil optimal. Tim disebut berhasil menggelar pertemuan dengan beragam pemangku kepentingan untuk menyukseskan program tersebut, terutama antara KJRI, pengusaha restoran, dan importir bumbu.

Dalam pertemuan tersebut, menurut Sandiaga, banyak warga dan diaspora Indonesia yang tertarik untuk membuka restoran Indonesia di tempatnya masing-masing. Hanya saja, mereka terkendala pemodalan. Untuk itu, Indonesia menawarkan bantuan permodalan.

Pemerintah menargetkan 4.000 restoran Indonesia di seluruh dunia bisa bergabung dalam jaringan Indonesia Spice Up The World hingga 2024, baik yang sudah eksis maupun baru akan diisiniasi. Di AS saja, KJRI New York menyebut sekitar 100 restoran Indonesia dibuka di wilayah Pantai Timur.

Promosi bumbu dan rempah itu merupakan bagian dari diplomasi gastronomi Indonesia, sekaligus ajang mempromosikan produk kreatif Indonesia, khususnya dari subsektor kuliner.

Diplomasi Lewat Jalur Kuliner

Diplomasi Lewat Jalur Kuliner (Liputan6.com/Abdillah)
Diplomasi Lewat Jalur Kuliner (Liputan6.com/Abdillah)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel