KCI: KRL Padat saat Lebaran Akibat Penumpang Musiman

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengkritik PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) yang dianggap tidak profesional dalam mengatur kepadatan penumpang di Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line Jabodetabek selama musim Lebaran 2021.

Menanggapi pernyataan tersebut, VP Corporate Secretary PT KCI Anne Purba mengatakan, lonjakan penumpang KRL selama dua hari Lebaran ini terjadi akibat banyaknya penumpang musiman yang kerap abai terhadap protokol kesehatan.

"Kami menerima dengan baik teguran pak Menhub untuk perbaikan kami. Tapi mayoritas penumpang kami dua hari ini merupakan penumpang musiman yang edukasi protokol kesehatan harus terus kami lakukan," ujar dia di Stasiun Manggarai, Jumat (14/5/2021).

Anne menyampaikan, PT KCI hingga saat ini sebenarnya masih menerapkan batas kapasitas penumpang 35-40 persen, atau 74 orang per kereta. Namun, populasi di KRL Commuter Line sering terlihat berdesakan lantaran penumpang musiman kerap tak mau lepas dari kelompoknya.

"Namun itu perlu diedukasi, misal ada marka-marka yang satu keluarga, satu rombongan itu tidak mau pisah dari temannya atau keluarganya. Tapi itu akan terus kita lakukan edukasi supaya mereka mematuhi marka-marka," tuturnya.

Secara jumlah, Anne memaparkan, penumpang musiman ini sebenarnya masih kalah banyak dibanding pekerja yang sering commute pada hari kerja. Pada hari kerja, jumlah penumpangnya bisa mencapai 450-470 ribu per hari.

"Kalau tiga hari terakhir ini sebenarnya penumpangnya turun, di atas 200 ribu, belum sampai 250 ribu. Masih lebih kecil dari hari kerja. Tapi yang hari kerja yang tiap hari naik KRL ya, jadi mereka sudah paham sekali dengan peraturan-peraturan kita," ungkapnya.

Waktu pemberangkatan penumpang KRL musiman ini pun mengalami perubahan dibanding pekerja, yang jam sibuknya bergeser dari pagi hari menjadi siang hari.

"Jadi kami melihat trennya, agak siang mereka baru melakukan perjalanan. Sehingga rekayasa pola operasi kami nanti akan memperkecil headaway di jam-jam siang seperti ini," pungkas Anne.

Menhub Kritik KCI

Menhub Budi Karya Sumadi memantau pergerakan penumpang pada KRL Jabodetabek di Stasiun Manggarai, Jakarta pada hari kedua Lebaran, Jumat (14/5/2021). Dok: Maulandy R/Liputan6.com
Menhub Budi Karya Sumadi memantau pergerakan penumpang pada KRL Jabodetabek di Stasiun Manggarai, Jakarta pada hari kedua Lebaran, Jumat (14/5/2021). Dok: Maulandy R/Liputan6.com

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi memantau pergerakan penumpang pada Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek di Stasiun Manggarai, Jakarta pada H+1 Lebaran Idul Fitri 1442 Hijriah, tepatnya Jumat 14 Mei 2021.

Kunjungan tersebut sengaja dilakukan untuk memastikan pergerakan masyarakat di kawasan aglomerasi seperti di Jabodetabek tetap dapat terkendali selama masa larangan mudik hingga 17 Mei 2021.

Namun, pascaberkeliling di Stasiun Manggarai, Menhub Budi Karya menemukan jika pengelolaan penumpang KRL Jabodetabek tidak terkendali dengan baik. Kesimpulan itu menurut Budi pascaberdiskusi dengan sejumlah penumpang, dan melihat kepadatan di satu kereta hingga 70 orang lebih.

Dia lantas menegur PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) yang dinilainya tidak profesional dalam mengelola hiruk pikuk di KRL Jabodetabek selama masa Lebaran 2021.

"Saya lihat pengelolaan dari KCI tidak profesional. Saya tanya beberapa penumpang, mereka desak-desakan. Lebih dari 70 orang tidak ada yang jaga," ujar Menhub Budi Karya di Stasiun Manggarai, Jakarta, Jumat, 14 Mei 2021.

Tak ingin kepadatan KRL terus terjadi, Menhub mendesak KCI untuk memperbaiki pengelolaan sehingga mengantisipasi kepadatan dan potensi penularan pandemi Covid-19.

"Saya minta KCI lebih profesional lagi awasi pergerakan aglomerasi. Ini pelajaran mahal, banyak orang tak terkontrol. Sekali lagi saya minta KCI laksanakan lebih baik dan profesional," imbuh dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel