Ke Salatiga, Gethuk Kethek Menanti

TEMPO.CO, Salatiga - Namanya unik: gethuk kethek (monyet). Itulah sebutan masyarakat untuk menyebut jajanan getuk yang diproduksi dan dijual di Salatiga, Jawa Tengah. Selain enting-enting gepuk, getuk ini bisa menjadi alternatif oleh-oleh saat mengunjungi kota yang sejuk ini.

Getuk ini tak jauh beda dengan getuk yang acap kita jumpai di berbagai tempat. Terbuat dari singkong rebus, ditumbuk bersama dengan gula pasir dan serutan kelapa, lalu disajikan dalam berbagai ukuran. Lantas, apa yang membuat getuk ini istimewa sehingga pembeli rela antre atau harus memesan terlebih dulu?

Dari rasa, gethuk kethek memang beda. Teksturnya lembut. Bagi yang baru merasakan, bahkan teksturnya mendekati roti. Komposisi serutan kelapa dan gula pasirnya menghasilkan rasa gurih, tapi tak terlalu manis. Warnanya putih, disajikan dalam ukuran sebesar jempol tangan. Lebih enak langsung disantap tanpa diberi apa pun. Tak perlu menambah serutan kelapa, kincau (gula Jawa yang dilumerkan), ataupun susu. Cocok untuk teman minum teh atau kopi.

Kekhasan getuk ini terletak pada desain kardus bergambar seekor kethek. Cerita kethek tak lepas dari rumah Suwarni, generasi awal pembuat getuk ini yang memang memelihara monyet di depan rumah. Monyet itulah yang digunakan sebagai penanda rumah Suwarni. "Masyarakat telanjur menyebut getuk kami, gethuk kethek," ujar Pratiwi Suta, salah satu pengelola getuk ini kepada Tempo, Rabu, 20 Februari 2013.

Jika ingin membeli oleh-oleh ini, Anda bisa langsung datang ke tempat pembuatannya di Jalan Argo Tunggal Nomor 9, Salatiga. Lokasinya tak jauh dari pertigaan ABC, di dekat Hotel Laras Asri. Harga oleh-oleh ini lumayan terjangkau. Cukup sediakan uang Rp 10 ribu per kardus. Tiap kardus berisi 20 biji.

Di tempat ini, pembeli bisa langsung melihat proses pembuatannya. Jadi tak perlu khawatir soal kebersihan dan kesehatannya. Pratiwi juga berpromosi, getuk buatan mereka tak mencampurkan bahan pengawet di dalamnya. Tak heran jika getuk mereka tak bisa diproduksi dalam jumlah banyak agar selalu baru. »Takut basi juga,” ujarnya. Getuk ini hanya bertahan satu hari di suhu ruangan. Namun, jika disimpan di lemari pendingin, bisa sampai dua hari. Dengan catatan harus segera dimasukkan maksimal enam jam setelah pembelian.

Pratiwi menjelaskan, gethuk kethek berasal dari resep neneknya, Suwarni, sejak 20 tahun lalu. Awalnya, sang nenek menjajakannya di Pasar Salatiga. Namun, karena alasan usia, dia menjajakannya hanya di rumah. Ternyata, para pelanggan setia tetap memburunya. Termasuk tamu hotel berbintang, yang tak jauh dari rumahnya, sering membeli getuk itu untuk oleh-oleh. Tak heran, banyak orang ikut membuat dan menjual getuk serupa, tentunya dengan rasa yang berbeda.

Untuk membedakan getuk ini dengan buatan orang lain, oleh Buang Santoso, salah satu anak Suwarni, getuk ini diberi nama Satu Ras. Nama ini merujuk pada produk getuknya yang memang hanya tersedia dalam satu rasa. Tak hanya itu, untuk menunjukkan kekhasan getuk ini, pada desain kardusnya diberi gambar seekor monyet.

Kunci kelezatan gethuk kethek pada ketelitian memilih bahan baku singkong yang gembur. Singkong yang keras dan berserat tak masuk kriteria. Saat penumbukan dan pencetakan, serat-serat singkong juga disingkirkan. Inilah rahasia kenapa tekstur gethuk kethek sangat lembut. Serutan kelapa juga dicampur dengan kelapa mentah. Alasannya, santan kelapa mentah lebih banyak dan gurih. Namun, risikonya, getuk menjadi tak tahan lama. Menurut Pratiwi, penggunaan serutan kelapa masak akan memperpanjang usia getuk, meski gurihnya berkurang.

Tiap hari, sedikitnya dibutuhkan dua kuintal singkong. Pemilik gethuk kethek ini telah membuka cabang di Jalan Slamet Riyadi, Ungaran, tepatnya di belakang kantor DPRD Kabupaten Semarang. Penasaran? Silakan mencobanya.

SOHIRIN

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.