Keampuhan Vaksin Sinovac terhadap Mutasi Baru Corona Diragukan

Daurina Lestari, Andri Mardiansyah (Padang)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Pakar Mikrobiologi Sumatera Barat Dr. dr. Andani Eka Putra meragukan tingkat keampuhan dari vaksin Sinovac apabila terjadi kasus perubahan atau mutasi terhadap virus Corona.

Menurut Kepala Laboratorium Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas itu, butuh penelitian lebih lanjut terhadap sejumlah sampel SARS-CoV-2 yang berkembang saat ini, sehingga bisa melihat sejauh mana tingkat efektivitas vaksin asal Negeri Panda itu.

Khusus di Sumatera Barat, kata Andani Eka Putra, tingkat penularan Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19 sejak Oktober tahun lalu, sangat cepat. Ada kecemasan terjadinya perubahan atau mutasi terhadap virus ini.

Maka dari itu, pihaknya pada pekan kedua Januari ini akan melakukan uji Whole Genome Sequencing (WGS) terhadap sampel SARS-CoV-2. Hal ini untuk memastikan apakah terdapat kasus mutasi dari virus Corona ini.

Dijelaskannya, berdasarkan hasil analisis genom virus Corona, terdapat sekelompok mutasi atau varian baru pada lebih 50 persen kasus COVID-19 di Inggris. Penularannya sangat cepat bahkan sudah sampai ke Amerika.

“Nah, di Sumatera Barat, sejak bulan Oktober kemarin, kita melihat kondisi itu di sini. Juga menular sangat cepat. Untuk itu, kita putuskan untuk uji WGS untuk mengetahui apakah virus yang berkembang di Sumbar itu sama atau sudah ada perubahan atau mutasi,” kata Dr. dr. Andani Eka Putra, Rabu 6 Januari 2020.

Baca juga: Emak-emak Berantas Tempat Judi, Polisi Klaim Sudah Sering Razia

Menurut Andani, selain uji WGS terhadap puluhan sampel SARS-CoV-2, pihaknya juga akan meneliti sejauh mana tingkat efektivitas vaksin Sinovac yang kemarin baru saja tiba di Sumatera Barat. Vaksin yang dibuat oleh Sinovac Biotech itu tentu saja berdasarkan perkembangan kasus yang terjadi di Wuhan.

“Sekarang tinggal kita analisis apakah varian SARS-CoV-2 yang berkembang saat ini sama dengan yang terjadi di Wuhan atau sebaliknya. Jika berbeda atau malah terjadi mutasi baru, maka tingkat efektivitas dari vaksin itu juga secara otomatis akan rendah,” tuturnya.

“Untuk itu, setelah usai uji WGS dan mengetahui varian dari SARS-CoV-2 saat ini, bisa disinkronkan dengan vaksin Sinovac. Tapi, mudah-mudahan tidak ada terjadi kasus mutasi, sehingga vaksin Sinovac ini bisa efektif sesuai harapan kita,” ujar Dr. dr. Andani Eka Putra.

Sebelumnya, Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) Sumatera Barat memutuskan untuk melakukan uji Whole Genome Sequencing (WGS) terhadap sampel SARS-CoV-2 pada pekan kedua bulan ini. Tujuannya tak lain, untuk untuk memastikan apakah kasus mutasi virus Corona yang diklaim lebih cepat menular di Inggris beberapa waktu lalu, juga telah sampai di Ranah Minang.

Whole Genome Sequencing, merupakan metode atau proses untuk menentukan sekuens DNA lengkap dari genom suatu organisme pada suatu waktu. Metode ini cukup jitu untuk mengetahui varian Coronavirus Disease 2019.

Jika hasilnya sudah diketahui, bisa menjadi acuan untuk kebijakan penanganan pandemi ini. Karena, jika ada mutasi, maka berpengaruh terhadap proses percepatan dan penanganan yang dilakukan oleh pemerintah. Butuh waktu sekitar satu bulan untuk mengetahui hasilnya.