Kebakaran besar di Australia bisa menjadi rutin, para ilmuwan iklim memperingatkan

Oleh Matthew Green

LONDON (Reuters) - Kebakaran hutan yang melanda Australia telah memberikan contoh awal tentang kondisi-kondisi yang dapat menjadi biasa kecuali dunia bergerak cepat untuk mengekang emisi gas rumah kaca yang mendorong pemanasan global, para ilmuwan memperingatkan.

Meskipun pemerintah Australia dan sebagian medianya telah mencoba untuk meremehkan peran perubahan iklim buatan manusia dalam membuat negara itu lebih rentan terhadap kebakaran hutan, sebuah tinjauan terhadap 57 makalah ilmiah yang diterbitkan sejak 2013 menyatakan hubungan yang jelas.

"Kami tidak akan membalikkan perubahan iklim pada skala waktu yang dapat dibayangkan. Jadi, kondisi yang terjadi sekarang, mereka tidak akan hilang," Richard Betts, Kepala Riset Dampak Iklim di Kantor Meteorologi Inggris Hadley Centre, yang ikut menulis kajian, mengatakan pada konferensi pers di London pada Senin (13/1).

Kajian tersebut menemukan bahwa perubahan iklim telah menyebabkan peningkatan frekuensi dan tingkat keparahan dari apa yang oleh para ilmuwan sebut sebagai "cuaca kebakaran" -- periode dengan risiko kebakaran tinggi karena kombinasi suhu yang lebih panas, kelembaban rendah, curah hujan rendah, dan angin kencang.

Efeknya tidak hanya diamati di Australia, tetapi dari Amerika Serikat bagian barat dan Kanada, hingga Eropa selatan, Skandinavia, Amazon, dan Siberia, demikian temuan kajian itu.

Secara global, musim cuaca kebakaran telah memanjang di sekitar 25% permukaan vegetasi Bumi, menghasilkan sekitar 20% peningkatan rata-rata panjang musim cuaca kebakaran, menurut data pengamatan.

Betts mengatakan Australia sangat rentan terhadap kebakaran karena wilayah daratannya telah memanas lebih dari kenaikan suhu global rata-rata sekitar 1 derajat Celcius sejak zaman pra-industri.

Organisasi Meteorologi Dunia mengatakan kenaikan suhu global bisa mencapai 3-5 C abad ini -- lebih dari tiga kali batas yang disepakati dalam Perjanjian Iklim Paris 2015 -- jika tidak ada yang dilakukan untuk menghentikan peningkatan emisi.

"Kondisi suhu di Australia sangat ekstrim saat ini tetapi itu adalah apa yang kami perkirakan terjadi rata-rata di dunia dengan tiga derajat pemanasan global," kata Betts. "Ini kembali menguraikan kepada Anda apa artinya perubahan iklim."

Kajian dilakukan dengan menggunakan https://sciencebrief.org, sebuah platform penelitian daring baru yang didirikan oleh Inggris University of East Anglia dan Tyndall Centre for Climate Change Research.

Setidaknya 28 orang telah tewas dalam kebakaran di Australia yang telah menghancurkan 2.000 rumah dan meratakan 11,2 juta hektar (27,7 juta acre), hampir setengah dari wilayah Inggris.

Setelah berminggu-minggu kritik atas penanganannya terhadap krisis, Perdana Menteri Scott Morrison mengatakan pada Minggu (12/1) bahwa ia akan mengusulkan penyelidikan besar pada bencana itu, termasuk dampak dari perubahan iklim.