Kebakaran Hutan Ancam Habitat Lutung Jawa

REPUBLIKA.CO.ID, BOYOLALI – Kebakaran hutan yang melanda kawasan konservasi Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGM) mengancam habitat flora & fauna. Terutama hewan langka jenis Lutung Jawa. Warga setempat menyebut 'Krek Krekan'.

Saat ini, Lutung Jawa hanya ditemukan di kawasan hutan Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Menurut catatan BTNGM tinggal 70 ekor. Dikhawatirkan, bencana kebakaran hutan yang melanda puncak Gunung Merbabu tak mengganggu habitat hewan langka tersebut.

Kepala BTNGM, Dulhadi, meyakini kebakaran hutan yang terjadi sejak Selasa (27/9) lalu, tak bakal merenggut nyawa hewan langka tersebut. ''Biasanya Lutung Jawa cepat lari untuk mencari ke tempat yang lebih aman, kalau terjadi kebakaran hutan,'' jelasnya, Kamis (29/9).

Menurut Dulhadi, hewan hutan Lutung Jawa lebih semi solider bila dibanding dengan kera jenis hewan lain. Mereka hidup dalam kelompok lebih kecil. Biasanya, sekitar empat hingga lima ekor setiap kelompok. Anggota kelompok mulai memisahkan diri bila sudah dewasa. Dan sudah menemukan 'pasangan hidupnya'.

Selain Lutung Jawa, hewan yang kehilangan habitat di kawasan Gunung Merbabu adalah kancil dan burung elang bondol. Hanya saja, untuk elang Bondol ruang jelajahnya cukup jauh dan luas. Sehingga lebih gampang untuk pindah lokasi hunian. Burung jenis ini banyak ditemukan di kawasan Gunung Merbabu, wilayah Kabupaten Magelang.

Sedang habitat flora yang terancam di sini adalah sejumlah vegetasi tanaman keras. Seperti cemara gunung, pinus, puspa, beringin. Termasuk semak dan tanaman bunga yang biasa diburu orang, Edelweis.

Seperti diketahui, rehabilitasi hutan kawasan Gunung Merbabu sudah dilakukan sejak 2010. Rehabilitasi mencakup areal 1.300 hektar. Sedang 2011 ini mencakup 390 hektar. ''Alhamdulillah, kebakaran kali ini tidak sampai merambah kawasan yang direhabilitasi,'' kata Dulhadi.


Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.