Kebakaran Lahan Sawit di Agam Meluas, Api Sudah Lahap 9,5 Hektare

Raden Jihad Akbar, Andri Mardiansyah (Padang)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kebakaran lahan sawit di Jorong Aia Maruok, Nagari Persiapan Durian Kapeh Darrusalam, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, Selasa 23 Februari 2021 kian meluas.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat merilis, hingga siang ini kobaran api sudah melahap 9,5 hektare lahan sawit di lokasi itu.

Menurut Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Agam M Luthfi AR, meluasnya nya area yang terbakar disebabkan oleh kondisi cuaca yang cukup terik dan disertai angin kencang. Minimnya sumber air di lokasi kejadian, juga menjadi faktor lambannya penanganan kebakaran ini.

Titik-titik api, terpantau kembali berkobar sejak malam tadi. Kini, petugas sedang berupaya memadamkan api.

Baca juga: Merger Gojek-Tokopedia, Keamanan Data Pelanggan Harus Terjamin

“Di lokasi ini, lahan yang terbakar bertambah 4 hektare. Jadi total sudah 9,5 hektare lahan sawit disini yang terbakar. Tim kita sedang berupaya memadamkan api,”kata M Luthfi AR, Selasa 23 Februari 2021.

M Luthfi AR menambahkan, sejak 13 hari terakhir terdata ada sebanyak 29,5 hektare lahan perkebunan sawit yang terbakar. Semua lahan itu, dipastikan milik masyarakat bukan yang dikelola oleh perusahaan. Titik api pertama disebabkan adanya aktifitas pembakaran sisa-sisa perambahan lahan.

“Total sudah 29,5 hektare yang terbakar di Agam. Titiknya berbeda-beda,”ujarnya.

Terpisah, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Unit Observasi Global Atmosopheric Watch (GAW) Stasiun Pemantau Atmosfir Global Kototabang Wan Dayantolis menyebutkan, berdasarkan rilis yang dikeluarkan pada 18 Februari 2021, pola angin di atas Sumatera pada Februari umumnya berembus pada komponen barat laut hingga timur laut dari arah wilayah Sumatera Utara dan Riau melewati wilayah Sumatera Barat.

Karena itu, kemunculan hotspot atau titik api pada wilayah tersebut berpotensi memberikan berpengaruh pada kualitas udara di Sumatera Barat.

“Berdasarkan data PM10 pada GAW Kototabang, rerata 24 jam berkisar di bawah 50 ?g/m3 yang berarti masih dalam kategori kualitas udara baik. Namun dari segi tren, terjadi peningkatan dari rata lebih dari 20 ?g/m3 menjadi 20-30 ?g/m3 dalam sepekan terakhir. Kondisi ini secara visual menghasilkan kondisi udara 'haze' atau kabur namun belum menurunkan jarak pandang,”ujar Wan Dayantolis.

Berdasarkan hasil simulasi model CAMS ECMWF pada 18 hingga 20 Februari 2021, menunjukkan potensi penyebaran polutan udara berupa PM2.5 dari arah utara timur laut mendekati wilayah Sumatera Barat. Kabupaten dan Kota yang berpotensi mengalami kenaikan konsentrasi PM2.5 antara lain Pasaman, Pasaman Barat, Lima Puluh Kota, Agam, dan Payakumbuh.

Kemudian, Sijunjung, Sawahlunto, Solok Selatan dan Dharmasraya. Besaran konsentrasi PM2.5 masih berada di kisaran 5-12 ?g/m3, sehingga masih berada pada kondisi kualitas udara baik.

Adapun potensi hujan berdasarkan rilis BMKG masih berpeluang terjadi sebagian besar wilayah Sumatera Barat. Hal ini tentunya dapat membantu 'mencuci' udara karena hujan akan membawa turun polutan yang ada di atmosfer.

"Kami imbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan aktifitas yang dapat menyebabkan kejadian karhutla, dan memperhatikan informasi mengenai kondisi kualitas udara dari Dinas LHK Provinsi atau Kabupaten dan Kota Sumatera Barat serta BMKG," tutup Wan Dayantolis.