Kebenaran dalam ilmu

Syahdan Nurdin, muhammadnurfahmi74-299
·Bacaan 4 menit

VIVA – Pengertian kebenaran dalam ilmu memiliki banyak sudut pandang. Mulai dari sudut pandang filsafat hingga Alquran. Sudut pandang yang berbeda tentunya akan menghasilkan pengetahuan yang berbeda pula. Berikut pandangan terkait kebenaran itu sendiri.

1. Pengertian Kebenaran Dalam Ilmu

Setiap orang memberikan pengertian terhadap ilmu yang berbeda-beda, hal ini didasari oleh pengalaman dan pandangan seseorang tersebut.

Menurut Cecep Sumarna (2020:42-43), ia mengatakan bahwa ilmu tidak memerlukan kepastian lengkap berkenaan dengan penalaran masing-masing orang. Ilmu akan memuat sendiri hipotesis-hipotesis dan teori-teori yang sepenuhnya belum di manfaatkan.

Karena itu, ilmu pasti membutuhkan metodologi, sebab dan kaitan logis. Ilmu menuntut pengamatan dan kerangka berfikir metodis. Alat bantu metodologis yang penting dalam konteks ilmu adalah termenologi ilmiah.

Aceng Rachmat (2010:102), ia mengatakan bahwa sebagai mahkluk yang berakal, manusia selalu diliputi oleh hasrat ingin tahu. Oleh sebab itu, pengetahuan dimulai dari hasrat ingin tahu manusia, maka semakin banyak pengetahuannya.

Proses mengumpulkan pengetahuan adalah suatu proses belajar yang dilakukan oleh manusia sejak usia dini sampai saat meninggal dunia.

Dapat disimpulkan bahwa kebenaran ilmu merupakan suatu pendapat atau perbuatan yang sesuai dengan ( atau tidak di tolak oleh) orang lain. Filsafat adalah refleksi filosofis yang tidak akan pernah mengenal titik jenuh, lelah dalam menjelajah cakrawala ilmiah guna dapat menggunakan atau kenyataan, sesuatu yang tidak akan pernah habis kita pikirkan dan tidak akan pernah selesai untuk dijelaskan.

2. Keterkaitan Antara Ilmu, Logika, Estetika, Etika, Humaniora, dan Agama.

Antara ilmu, logika, estetika, etika, humaniora, dan agama memiliki keterkaitan sebagai berikut:

Mardianto dan Arasyidin (52-68) ia mengatakan bahwa:

a. Ilmu dan logika

Logika menentukan tambahan pandangan lurus dalam praktik berfikir menuju kebenaran. Logika merupakan sarana berfikir ilmiah untuk kegiatan keilmuan yang menghasilkan pengetahuan yang benar menentukan norma-norma atau berfikir secara ilmiah.

b. Ilmu dan estetika

Ilmu dan estetika adalah bagian dari pengetahuan atau pun bagian dari fisafat yang lapangannya adalah segala sesuatu dapat dipikirkan batasnya adalah alam.

c. Ilmu dan etika

Ilmu secara etika harus di tujukan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau mengubah hakikat manusia. Dengan adannya ilmu manusia dapat mengetahui baik dan buruk suatu perbuatan. Sedangakan etika adalah mempelajari baik dan buruknya perbuatan tersebut.

d. Ilmu dan Humaniora

Ilmu dan humaniora keduannya sangat terkait antara satu dengan yang lainnya. Karena ilmu membicarakan manusia sedangkan konsep tentang manusia ialah ingin mewujudkan agar cita-citanya tercapai, jadi untuk mewujudkan cita-cita itu harus dengan pendidikan, dan pendidikan itu baru dapat memanusiakan manusia

e. Ilmu dan Agama

Hubungan dari ilmu, etika, dan agama membicarakan agama baik dan buruk yang bertujuan untuk mendapatkan kebaikkan ilmu bertujuan mendapatkan pengetahuan yang baik sedangkan etika/agama agar dapat menerapkkan perbuatan yang baik dan mencegah yang buruk.

Dapat disimpulkan bahwa ilmu, logika, estetika, humaniora dan agama memiliki keterkaitan dan saling mendukung bagi manusia. Keterkaitan itu terletak pada tiga potensi utama yang diberikan oleh tuhan kepada manusia,yaitu akal,budi dan rasa serta keyakinan.

3. Tahap-tahap mencapai kebenaran dalam ilmu

Wahana Paurua (2016:128-129), ia menyatakan bahwa tahap-tahap mencapai kebenaran dalam ilmu ada 4 tahap yaitu: Pertama atas dasar sumber atau asal dari kebenaran pengetahuan ,yaitu dapat bersumber antara lain dari :fakta empiris (kebenaran empiris),wahyu atau kitab suci(kebenaran wahyu), fiksi atau fantasi (kebenaran fiksi).

Kedua, atas dasar cara atau sarana yang digunakan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan,yaitu antara lain dapat menggunakan indera (kebenaran inderawi), akal budi (kebenaran intelektual), intursi (kebenaran intuintif), imam (kebenaran imam).

Ketiga,atas dasar bidang atau lingkup kehidupan antara lain: pengetahuan agung ((kebenaran dalam agama), pengetahuan moral(kebenaran moral), pengetahuan seni (kebenaran seni), pengetahuan budaya (kebenaran budaya), pengetahuan sejarah (kebenaran historis), pengetahuan hukum(kebenaran hukum), pengetahuan politik (kebenaran politik).

Keempat,atas dasar tingkat pengetahuan yang diharapkan dan diperolehnya, yaitu: pengetahuan biasa sehari-hari(ordianary knowladge), pengetahuan ilmiah (scientific knowladge), pengetahuan filsafat (philosofical knowladge) menghasilakan kebenaran filsafat kriteria yang dituntut dari setiap tingkat kebenaran.

Bearti kebenaran ilmu muncul dari hasil penelitian ilmiah, artinya suatu kebenaran tidak mungkin muncul tanda adanya tahapan-tahapan yang harus di lalui untuk memperoleh pengetahuan ilmiah.

4. Kebenaran Ilmu dalam Kajian Barat

Soelaiman Darwin (2019:68-69), ia menyatakan bahwa mengenai kebenaran pengetahuan telah dipersoalkan sejak masa filsafat Yunani klasik.

Plato mengatakan bahwa pengetahuan yang diperoleh dengan alat dria adalah pengetahuan yang semu, sedangkkan pengetahuan yang benar adalah yang diperoleh dengan akal yang di sebutnya dengan idea.

Sebaliknya penganut aliran empirisme mengatakan bahwa pengetahuan yang benar adalah diperoleh dengan perantaraan panca indra, sedangkan pengetahuan yang diperoleh dengan akal hanyalah merupakan pendapat saja.

5. Kebenaran Ilmu dalam Kajian Islam

Soelaiman Darwin (2019:136), ia menyatakan bahwa dari perspektif agama Islam, semua ilmu pengetahuan bersumber kepada Allah SWT, yang diketahui oleh manusia melalui wahyu-Nya yang tercantum dalam kitab suci Alquran. Sebagai sumber pengetahuan yang utama sesungguhnya Al-Qur’an telah memberikan banyak informasi dan petunjuk mengenai cara manusia memperoleh ilmu pengetahuan.

Jadi ilmu pengetahuan akan selalu berkembang sesuai dengan kompleksitas kebutuhan manusia. Dalam perkembangannya tidak dapat dipisahkan dari dataran filsafat agar tidak melaju secara liar tanpa kendali. (Penulis, Mahasiswa Daar Al Uluum Asahan)