Keberkahan Hidup Halimah As-Sadiyah, Ibu Susuan Rasulullah

Dedy Priatmojo
·Bacaan 3 menit

VIVA – Ada satu tradisi di kalangan Bangsa Arab yang relatif maju saat itu, dimana mereka mencari wanita-wanita yang bisa menyusui anak-anaknya. Tujuannya adalah menjauhkan anak-anak mereka dari penyakit, agar tubuh si bayi menjadi kuat dan keluarga yang menyusui bisa mengajarkannya bahasa Arab.

Itu pula yang melatarbelakangi Abdul Muthalib, kakek Rasulullah, untuk mencari wanita yang bisa menyusui cucunya, Muhammad. Dia meminta kepada seorang wanita dari Bani Sa'ad bin Bakar bernama Halimah binti Abu Dzu'aib atau yang biasa disebut Halimah As-Sadiyah.

Baca: Maulid Nabi saat Pandemi, Menag: Perbanyak Salawat, Patuhi Protokol

Sebelum Halimah, wanita yang pertama kali menyusui Rasulullah setelah ibundanya adalah Tsuwaibah, seorang hamba sahaya Abu Lahab, yang juga pernah menyusui paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib.

Halimah bercerita, ketika membawa bayi Nabi Muhammad SAW, dia seakan-akan tidak pernah merasa kerepotan karena mendapat beban yang lain. Air susu ibunnya pun, yang sebelumnya menetes sedikit tiba-tiba deras. Akhirnya bayi Nabi menyusu hingga kenyang dan tidur nyenyak. Begitu juga dengan anak kandung Halimah, kenyang setelah menyusu ASI dengan puas.

Padahal sebelumnya, Halimah dan suami tidak pernah tidur karena mengurus bayi yang terus menangis karena kelaparan, ASI-nya sedikit keluar.

Suami Halimah, Al Harits bin Abdul Uzza, saat menghampiri untanya yang sudah tua, tiba-tiba penuh air susunya. Sebelumnya tak setetes pun air susu keluar dari unta tua miliknya. Tapi ketika membawa bayi Nabi Muhammad, air susu unta tersebut tiba-tiba berlimpah.

Halimah dan suaminya pun meminum air susu unta miliknya hingga kenyang. Kondisi yang tak pernah terjadi pada hari-hari sebelumnya.

"Demi Allah, tahukah engkau wahai Halimah, engkau telah mengambil satu jiwa yang penuh keberkahan," kata Al Harits dikutip dari Kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum (Syeikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfur).

Ketika pergi membawa bayi Nabi ke Bani Sa'ad, Halimah menunggangi keledai betina yang lemah. Semua barang-barang perlengkapan dibawa ke atas keledai tersebut. Tentunya, setelah menempuh perjalanan jauh, keledai-keledai tersebut akan semakin lemah tidak sanggup lagi membawa beban.

Tapi tanpa disangka, rekan-rekan Halimah yang ikut dalam rombongan Bani Sa'ad, justru melihat keledai-keledai yang ditunggangi Halimah bersama bayi Nabi semakin perkasa. Tidak seperti sebelumnya yang lemah dan kepayahan membawa beban.

Setibanya di wilayah Bani Sa'ad, Halimah dan suaminya dibuat kaget karena melihat sepetak tanah miliknya menjadi lebih subur dari sebelumnya. Domba-domba ternaknya pun meyambut kendatangannya dalam kondisi kenyang dan lebih gemuk dengan air susu penuh. Sehingga bisa segera diperah air susunya.

Sementara domba atau hewan ternak di tempat lain tidak mengeluarkan air susu walau setetes. Kelenjar susunya pun kempes tak berisi. Berbeda dengan kondisi domba-domba milik keluarga Halimah yang gemuk dan air susu penuh. Setiap kali digembala pun domba-domba milik Halimah selalu pulang dalam keadaan kenyang dengan air susu penuh.

Dua tahun menyusui dan menyapih Nabi, kehidupan keluarga Halimah As-Sadiyah selalui diliputi keberkahan. Bayi Nabi juga tumbuh dengan sangat baik, tidak seperti bayi-bayi yang lain. Bahkan sebelum usia 2 tahun, pertumbuhan bayi Nabi sangat pesat.

Nabi Muhammad kecil tinggal bersama ibu susuannya, Halimah As-Sadiyah di tengah-tengah Bani Sa'ad bin Bakar hingga berumur empat atau lima tahun. Hingga terjadi peristiwa pembelahan dada Nabi oleh Malaikat Jibril, lalu akhirnya oleh Halimah, Nabi kecil dikembalikan ke ibunya, Aminah.