Kebersihan menstruasi yang tidak baik berdampak buruk pada empat aspek

Ketua Tim Kerja Kesehatan Usia Sekolah dan Remaja Kementerian Kesehatan, dr Inti Mujiati mengatakan bahwa kebersihan menstruasi yang tidak dikelola dengan baik menimbulkan dampak buruk terhadap empat aspek yaitu kesehatan, pendidikan, partisipasi sosial, dan lingkungan.

"Dampaknya bila kebersihan menstruasi tidak dikelola dengan baik, tentunya akan mempengaruhi kesehatan, pendidikan, partisipasi sosial, dan lingkungan," kata Inti dalam diskusi "Peran Manajemen Kesehatan dan Kebersihan Menstruasi (MKM) dalam Pelaksanaan Sekolah Sehat" daring yang diikuti di Jakarta, Kamis.

Pada aspek kesehatan, Inti mengatakan kebersihan menstruasi yang tidak baik akan menyebabkan iritasi pada kulit, infeksi saluran kencing, dan infeksi saluran reproduksi.

Sedangkan pada aspek pendidikan, kata dia, remaja perempuan akan memilih untuk membolos sekolah yang membuatnya tertinggal pelajaran.

Menurut data UNICEF tahun 2015, ia mengatakan bahwa 1 dari 6 siswa perempuan terpaksa tidak masuk sekolah selama satu hari atau lebih pada saat menstruasi.

"1 dari 6 siswi berarti sekitar 15 persen tidak masuk sekolah apakah karena nyeri haid, sekolah tidak menyediakan obat nyeri, kemudian jamban sekolah tidak layak, airnya tidak tersedia, tidak tersedia pembalut, dan tidak ada pembuangan sampah untuk pembalut itu," ujar Inti.

Pada aspek partisipasi sosial, Inti mengatakan kebersihan menstruasi yang tidak dikelola dengan baik membuat remaja perempuan kehilangan kesempatan untuk berpartisipasi dalam aktivitas sosial.

Sementara pada aspek lingkungan, ia mengatakan, akan ada kemungkinan bahwa remaja putri yang sedang menstruasi membuang pembalut bekas pakai ke kloset karena tidak tersedianya fasilitas yang memadai.

"Pembuangan ini tentunya akan mempengaruhi lingkungan. Kloset tersebut, kotor, tidak berfungsi dan akhirnya tidak dapat digunakan," katanya.

Untuk mencegah dampak-dampak buruk tersebut, Inti mengatakan lingkungan termasuk sekolah memiliki peran yang sangat besar, dengan menyediakan fasilitas toilet yang bersih dan dapat menjaga privasi, memastikan ketersediaan air bersih, menyediakan pembalut, dan menciptakan suasana kondusif untuk remaja putri yang sedang menstruasi.

Kemudian, ia melanjutkan, orang tua dan guru juga harus memahami informasi mengenai manajemen kebersihan menstruasi (MKM) dan mengomunikasikan pada remaja putri secara akurat dan menyeluruh.

"Laki-laki juga harus bisa memberikan dukungan. Sebagai orang tua, penting untuk menanamkan nilai ini kepada anak laki-laki agar menghormati perempuan yang sedang menstruasi dengan tidak menggoda, mengolok-olok, mengejek, atau mem-bully," pungkas Inti.
Baca juga: UKS/M jamin implementasi manajemen kebersihan menstruasi di sekolah
Baca juga: AMPL dorong peningkatan manajemen kebersihan menstruasi
Baca juga: AMPL sebut siswi menstruasi kerap alami perundungan