Kebijakan Cukai Belum Bisa Tekan Jumlah Perokok, Kerugian Kesehatan Rp28 Triliun

Merdeka.com - Merdeka.com - Chief Strategist CISDI, Yudhina Meillisa, menyebut bahwa kebijakan tarif cukai tembakau di Indonesia masih belum bisa menekan konsumsi rokok secara signifikan.

"Konsumsi rokok di Indonesia masih terus naik dan kebijakan yang dilakukan selama ini, baik kebijakan yang berbasis harga. Itu belum mampu menekan laju kenaikan konsumsi rokok di Indonesia," ucap Yudhina dalam Webinar, Jumat (29/7).

Yudhina memaparkan, jumlah perokok anak di Indonesia juga terus naik, hal ini membuat makin jauh dari target RPJMN 2020-2024 sebesar 8,7 persen. Menurut Yudhina apabila kebijakan masih sama, maka kondisi ini akan terjadi terus-menerus hingga tahun 2030.

"Di tahun 2030 bisa sampai 16 persen (prevelensi perokok)," terangnya.

Konodisi ini sangat miris, di mana 15 persen kematian dini terjadi diakibatkan karena rokok. Pendapatan negara dari rokok untuk kesehatan hanya Rp8,1 triliun. Kemudian dari sisi kerugian pembiayaan kesehatan hingga Rp28,1 triliun.

"Menurut data dari CISDI, tahun 2019 sebesar 59 persen dari biaya perawatan rumah sakit yang ditanggung BPJS," ujar Yudhina.

Penyebab Stunting

Dia menjelaskan, bagi perokok kemungkinan lebih besar akan membuat anak-anak mereka mengalami stunting dan ini juga menyebabkan kerugian program nasional.

Yudhina menilai, saat ini merek dan harga sangat bervariatif. Apabila masyarakat tidak memiliki uang yang cukup banyak untuk membeli sebuah jenis rokok, mereka akan mencari merek rokok dengan harga yang terjangkau.

"Harga rokok yang bervariasi di masyarakat membuat ada pilihan yang bervariasi. Perokok yang kecanduan akan betul-betul mereka mempertahankan merokok dan tidak akan berkurang sama sekali," tambahnya. [idr]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel