Kebijakan New Normal: Bisakah Diterapkan pada Masyarakat?

Syahdan Nurdin, firdaalhilal7-304

VIVA – Masyarakat Indonesia sebentar lagi akan dihadapkan pada babak atau tatanan baru di tengah pandemi yang belum usai ini. New normal merupakan langkah percepatan penanganan Covid-19 dalam bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi.

Skenario new normal dapat dijalankan dengan mempertimbangkan kesiapan daerah dan hasil riset epidemiologis di wilayah terkait.

Kata Normal sebetulnya dalam bahasa Inggris sudah dijadikan nomina, makanya jadi New Normal. Badan bahasa kemudian membuat padanannya menjadi Kenormalan. Karena kalau normal itu adjektiva kata sifat, jadi Kenormalan Baru, begitulah kata ahli bahasa Prof. Dr. Rahayu Surtiati Hidayat dari Universitas Indonesia.

Dan di sini, Presiden Jokowi menyatakan bahwasannya ia telah meminta seluruh jajarannya mempelajari kondisi lapangan untuk mempersiapkan tatanan normal yang baru di tengah pandemi Covid-19.

Saat ini sudah ada 4 provinsi serta 25 kabupaten/kota yang tengah bersiap menuju new normal. "Saya minta protokol beradaptasi dengan tatanan normal baru ini yang sudah disiapkan oleh Kementerian Kesehatan ini disosialisasikan secara masif kepada masyarakat," kata Jokowi.

Penerapan new normal nantinya bersamaan dengan pendisiplinan protokol kesehatan yang dikawal jajaran Polri dan TNI.

Di balik munculnya istilah tatanan normal baru ada banyak hal yang mengandung unsur pro maupun kontra di dalamnya. Karena data Covid-19 sendiri di Indonesia masih terus naik terhitung per tanggal 06 Juni 2020 yang terkonfirmasi positif 30.514, dirawat 18.806, sembuh 9.907, dan meninggal 1.801 (sumber: covid19.go.id).

Hal itulah yang membuat pro dan kontra di masyarakat, karena sangat tidak mungkin bahwasannya Kebijakan New Normal ini di terapkan di Indonesia, mengingat kasus Covid-19 di Indonesia sendiri masih sangat tinggi.

Di sisi lain jika new normal ini tidak diterapkan maka yang terjadi adalah perekonomian di Indonesia akan anjlok. Hal-hal itulah yang membuat terjadinya pro dan kontra di masyarakat.

Dalam hal ini banyak cara yang dilakukan masyarakat dalam persiapan menuju era new normal di tengah pandemi ini, di sisi lain ada yang senang dan memupuk usaha yang sangat antusias karena sudah bisa beraktivitas seperti biasa yang sudah lama mereka nantikan seperti kerja seperti biasa, pergi ke mal, atau sekadar nongkrong bertemu teman sebaya bahkan mengunjungi keluarga yang jauh.

Akan tetapi tetap menerapkan protokol kesehatan yang sudah diterapkan. Namun tak sedikit yang menentang karena mereka menganggap jika new normal ini diterapkan, maka akan membuat situasi semakin parah mengingat kurva angka positif Covid-19 masih meningkat belum ada tingkat penurunan.

Jika new normal ini benar-benar dijalankan, di sini peran dari media menjadi hal yang paling peting, sebab media menjadi hal yang paling utama dalam penyampaian pesan dan masyarakat ikut berkecimpung langsung dalam statement-statement tersebut.

Di sini media harus menyajikan berita-berita yang aktual/positif sambil mensosialisasikan kepada masyarakat terkait dengan protokol-protokol kesehatan dalam penerapan new normal ini.

Sangat disayangkan pada masa pandemi ini media banyak sekali membagikan informasi yang kita belum tahu keakuratannya atau bahkan bisa tergolong informasi hoax, hal ini membuat masyarakat menjadi bimbang, mana yang harus mereka terapkan atau mana yang harus mereka jalani demi kelangsungan hidup mereka selama pandemi ini belum usai.

Jadi penulis beranggapan bahwasannya jika memang nantinya konsep new normal ini yang menjadi jalan keluar yang perlu dilakukan adalah mempersiakannya semua secara komperhensif, mulai dari kajian dari para ahli, kajian tentang konsep penerapannya, peralatan medis yang digunakan, kesiapan para tenaga medis, hingga sosialisasi ke masyarakat, sehingga pemerintah siap dengan segala risiko yang terjadi.

Dan juga di sini peran media juga sangat dibutuhkan atau bisa dikatakan juga sangat penting karena jika pemberitaan di media baik dan ikut mensosialisasikan kepada masyarakat terkait dengan penerapan new nomal ini. Maka yang terjadi adalah masyarakat akan jauh lebih siap.

Dan sebaliknya jika tidak, maka yang terjadi adalah masyarakat akan dibuat stres dengan pemberitaan dan juga akan memperbanyak jumlah kasus positif karena kurang teredukasi terkait dengan penerapan new normal ini.

Jika semua saling bahu-membahu mulai dari pemerintah, media, hingga masyarakat melalui new normal ini akan diharapkan masyarakat dapat menjalani kehidupan seperti biasanya meskipun harus mematuhi aturan kesehatan, seperti memakai masker dan menjaga jarak, misalnya.

Dan diharapkan semua itu sangat perlu diperhatikan agar new normal ini bisa berjalan dengan baik di kehidupan masyarakat, sampai nantinya jika pandemi Covid-19 ini berakhir kehidupan akan menjadi normal kembali. (Penulis: Firda Al Hilal, Mahasiswi Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Malang)