Kebijakan Pemerintah AS Berpotensi Ganggu Pemulihan Ekonomi Indonesia

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Jokowi terus mewaspadai pemulihan ekonomi yang sudah mulai terlihat dan terjadi di Indonesia. Berbagai dinamika global maupun domestik tetap menjadi perhatian pemerintah tahun ini.

Menteri Kuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, kebijakan yang diambil pemerintah Amerika Serikat (AS) bisa turut berdampak kepada Indonesia. Sebab negeri Paman Sam tersebut telah menggelontorkan USD 1,9 triliun sebagai stimulus yang bisa mendorong perekonomian mereka.

"Di sisi lain juga melihat situasi dimana pasar keuangan ada anxiety respon terutama terkait dengan inflasi, dan bagaimana US treasury yield yang sudah naik 35 persen," katanya dalam acara Fitch Indonesia Conference 2021 dengan tema : Fitch on Indonesia - Navigating a Pots-Pandemic World?, Rabu (24/3).

Dia mengatakan, aliran modal keluar juga bisa berdampak pada kecepatan pemulihan ekonomi nasional. Namun begitu, saat ini defisit transaksi berjalan masih tetap terjaga didukung oleh surplus neraca perdangan USD 1,96 miliar di Februari kemarin.

"Ada dua sisi pisau yang melihat ekspor dan impor tertama impor capital good adalah faktor yang akan memberi dampak pada kecepatan perbaikan ekonomi Indonesia. Neraca perdagangan sudah mulai suprlus, tapi kita sedang berupaya menarik investasi," ungkapnya.

Selain itu, pemerintah menilai bahwa rasio utang terhadap PDB Indonesia di kisaran 38 persen masih relatif rendah namun harus tetap dijaga. Di sisi lain, beberapa isu fundamental juga tetap menjadi perhatian dalam upaya mendorong pemulihan ekonomi.

"Ada beberapa isu fundamental yang harus diperhatikan, yakni termasuk didalamnya reformasi struktural, pendidikan dan kesehatan, jaring pengaman sosial, kemudian infrastruktur dan birokrasi serta iklim investasi yang perlu dilihat di 2021 sebagai sebuah optimisime namun tetap waspada," jelas dia.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Sri Mulyani: Kami Mampu Meminimalisasi Kerusakan Ekonomi dari Covid-19

Menteri Keuanga Sri Mulyani Indrawati (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Menteri Keuanga Sri Mulyani Indrawati (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengakui seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia, telah mengalami masa-masa yang sangat sulit akibat pandemi Covid-19. Kebijakan counter-cyclical, baik dari sisi fiskal maupun moneter, terus dilakukan agar dapat meminimalisasi implikasi Covid-19 yang sangat signifikan bagi kehidupan masyarakat serta bagi kegiatan perekonomian.

“Menurut saya situasinya sekarang sudah membaik setelah tahun lalu kita menerapkan stimulus fiskal. Kami mampu meminimalisasi kerusakan ekonomi karena Covid," ungkapnya sebagai pembicara dalam Diskusi Panel Bloomberg Emerging + Frontier Forum 2021 First Series dengan tema , “Is the Global Recovery Intact?” secara video conference, ditulis Rabu (24/3/2021).

Indonesia mengalami kontraksi sebesar minus 2,1 persen yang relatif kecil dibandingkan dengan negara Asia lainnya atau bahkan negara-negara G20 dalam hal kontraksi akibat Covid-19 ini.

Di tahun 2021, Indonesia terus berusaha melakukan percepatan pemulihan ekonomi, dimulai pada kuartal ketiga tahun lalu, dan beberapa sektor yang juga pulih dengan sangat cepat. Namun, hal tersebut masih berjalan seiring dengan penanggulangan penyebaran pandemi Covid-19 yang selalu menjadi tantangan, walaupun sekarang Indonesia sedang mempercepat program vaksinasi.

“Jadi bagaimana kami akan menangani Covid ini, mengelola dan mengendalikan penyebaran Covid setelah sempat meningkat. Namun sekarang, Covid menurun dalam waktu dekat dan kami berharap dapat mempertahankannya dengan protokol disiplin kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak serta sering mencuci tangan dan juga dengan vaksinasi, maka kita akan dapat mengontrol Covid-19 sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi,” harap Sri Mulyani.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: