Kebijakan PPnBM dan DP 0 Persen Kendaraan Disebut Tak Tepat Sasaran, Kenapa?

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Ketua Institut Studi Transportasi (INSTRAN) Jakarta Ki Darmaningtyas menilai kebijakan relaksasi PPnBM dan DP 0 persen bagi mobil baru tidak akan tepat sasaran.

Hal ini dikarenakan target penerima relaksasi PPnBM dan DP 0 Persen justru diramal tidak akan melakukan pembelian mobil baru dalam waktu dekat.

"Saya jujur nggak terlalu optimis. Saat ini yang masih punya uang ini yang menengah ke atas, dan mobilnya pasti di atas 1.500 cc," ujar Darmaningtyas dalam webinar iNDEF, Minggu (21/2/2021).

Menurutnya, sasaran kebijakan mobil murah adalah keluarga muda dengan tingkat penghasilan Rp 10 hingga Rp 20 juta per bulan.

Namun kini, kelompok ini cenderung masih berusaha bertahan hidup karena pandemi Covid-19 belum kunjung berlalu.

"Sehingga meskipun ada insentif, belum tentu secara otomatis akan mendongkrak peningkatan produksi kendaraan bermotor," katanya.

Dampak yang ditimbulkan dari kebijakan PPnBM dan DP 0 persen ini, kata Darmaningtyas, sudah pasti peningkatan jumlah pembelian mobil.

Dengan demikian, tingkat kemacetan berpotensi meningkat, begitu juga dengan polusi udara hingga angkutan, menurut riset Continuum Data Indonesia, 72 persen masyarakat antusias dan menyambut positif relaksasi ini.

Hal ini terlihat dari jumlah pencarian tentang harga mobil yang meningkat di mesin pencari, mengindikasikan masyarakat memiliki keinginan untuk membeli mobil anyar.

Ini Hasil Survei Pro dan Kontra Kebijakan PPnBM Mobil 0 Persen

Foto: Septian Pamungkas/Lipuan6.com
Foto: Septian Pamungkas/Lipuan6.com

Sebanyak 72 persen konsumen menyambut positif kebijakan relaksasi PPnBM 0 Persen yang dikeluarkan pemerintah beberapa waktu lalu. Kondisi ini tercermin dari harga mobil dalam pencarian di google pun meningkat seiring terbitnya aturan tersebut.

Ini terkuak dari Survei Continuum Data Indonesia. "72 persen konsumen menyambut positif terhadap kebijakan ini, buktinya sentimen positif lebih dari 50 persen," kata Big Data Expert, Continuum Data Indonesia, Omar Abdillah, Jakarta, Minggu (21/2/2021).

Hasil survei juga menunjukkan 63 persen responden menilai kebijakan PPnBM mobil 0 persen ini membuat harga mobil baru jenis tertentu menjadi murah.

Kemudian 33 persen responden menilai mendongkrak industri otomotif dan lapangan pekerjaan. Selain itu, 4 persen responden ini menilai kebijakan ini juga dianggap memberikan insentif kepada masyarakat menengah ke atas.

Sisi lain, kebijakan ini juga mendapat penolakan dari masyarakat. Mayoritas responden menilai kebijakan ini beresiko terhadap pendapatan pajak.

Kebijakan ini juga bisa menambah kemacetan dan beresiko pada kerusakan lingkungan berupa polusi. Tak sedikit juga mereka menilai kebijakan ini elitis dan diskriminasi.

"Buat yang kontra, 61 persen ini berpendapat kebijakan ini beresiko, 28 persen mempermasalahkan dampak terhadap lingkungannya dan 11 persen menganggap ini kebijakan elitis dan diskriminatif," tutur Omar.

Saksikan Video Ini