Kebijakan sektor pangan harus bisa lesatkan produktivitas kedelai 2021

Nusarina Yuliastuti
·Bacaan 1 menit

Anggota Komisi IV DPR RI Johan Rosihan mengatakan kebijakan sektor pangan yang dikeluarkan pemerintah pada 2021 harus dapat melesatkan produktivitas berbagai komoditas pangan nasional, termasuk kedelai yang sekarang sedang banyak disorot.

"Produksi kedelai kita terus turun drastis sejak 2018 sebesar 0,65 juta ton turun menjadi 0,42 juta ton pada 2019 kemudian turun lagi menjadi 0,32 juta ton pada 2020, yang dampaknya sekarang kita rasakan harga kedelai meroket tajam karena nilai produksi kita sangat rendah," kata Johan Rosihan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.

Johan mendorong Kementan banyak melakukan inovasi budi daya tanaman pangan dan terus menerapkan implementasi Pertanian yang maju dengan pemberdayaan petani lokal guna mendorong peningkatan produktivitas pertanian khususnya tanaman pangan.

Baca juga: Kunjungi perajin tahu tempe, Mentan canangkan stabilitas pasar kedelai

Ia menyatakan bahwa bila pada 2021 giat diberikan perlindungan dan pemberdayaan kepada petani untuk meningkatkan produksi, ke depan juga bakal berdampak kepada meningkatnya kesejahteraan petani yang ada di berbagai daerah.

Johan juga mengingatkan pemerintah karena saat ini daya beli masyarakat terus menurun seiring masa pandemi yang terus berkepanjangan dan kondisi ekonomi yang mengalami resesi.

"Maka persoalan pangan harus menjadi prioritas karena merupakan kebutuhan primer bagi seluruh penduduk Indonesia," ujarnya.

Baca juga: Anggota DPR: Selidiki dugaan penimbunan stok kedelai

Ia menjelaskan bahwa gejolak harga kedelai yang tidak terkendali dan kenaikan HET pupuk bersubsidi yang terjadi pada awal tahun 2021 ini telah berdampak naiknya harga pangan.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan pihaknya akan melipatgandakan produksi kedelai dalam negeri dalam waktu setidaknya 200 hari, atau dua kali masa tanam.

Mentan mengatakan upaya tersebut merupakan solusi mengatasi lonjakan harga kedelai di pasar global, di mana Indonesia masih bergantung importasi pada komoditas tersebut sebagai bahan baku tahu dan tempe.