Kebingungan Disertai Demam, Waspada Gejala Dini COVID-19 pada Lansia

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVACOVID-19 mempengaruhi tubuh manusia dengan berbagai cara. Selain gangguan pernapasan, virus itu juga memengaruhi organ lain, bahkan banyak penelitian mengaitkannya dengan gejala neurologis seperti kebingungan, kehilangan memori sementara dan sebagainya.

Penelitian terbaru dari Universitat Oberta de Catalunya (UOC) di Spanyol menambah bukti bahwa delirium, keadaan kebingungan mental akut, disertai demam bisa menjadi gejala awal COVID-19. Delirium adalah perubahan mendadak di otak yang menyebabkan kebingungan mental dan gangguan emosi.

Gejala Itu membuat sulit untuk berpikir, mengingat, tidur, memperhatikan, dan banyak lagi. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Immunology and Immunotherapy tersebut menyoroti fakta bahwa, bersamaan dengan hilangnya indera perasa dan penciuman serta sakit kepala yang terjadi pada hari-hari sebelum manifestasi batuk dan kesulitan bernapas, beberapa pasien juga alami delirium.

Baca juga: Jangan Sepelekan Keseleo, Ini Pertolongan Pertama yang Harus Dilakukan

Menurut peneliti, manifestasi keadaan kebingungan ini, bila disertai demam tinggi, harus dipertimbangkan sebagai penanda awal penyakit, terutama pada kasus pasien lanjut usia. Mereka juga menekankan bahwa kita perlu waspada, terutama dalam situasi epidemiologis seperti ini, karena seseorang yang menunjukkan tanda-tanda kebingungan mungkin merupakan indikasi infeksi COVID-19.

Dikutip dari The Health Site, Untuk hasilnya, tim peneliti meninjau badan karya ilmiah yang diterbitkan tentang efek COVID-19 dalam kaitannya dengan sistem saraf pusat, yaitu otak.

Tinjauan tersebut menemukan bahwa, meskipun kasus pneumonia pertama yang dilaporkan di China berfokus pada kerusakan yang ditimbulkannya pada paru-paru dan organ lain, seperti ginjal dan jantung, ada indikasi yang berkembang bahwa virus corona juga memengaruhi sistem saraf pusat dan menghasilkan perubahan neurokognitif, seperti sakit kepala dan delirium, serta episode psikotik.

Baca juga: Rekor 17 Detik, Bisakah Kamu Temukan Tisu Toilet dalam Gambar?

Hipotesis utama yang menjelaskan bagaimana virus corona mempengaruhi otak menunjuk pada tiga kemungkinan penyebab: hipoksia atau defisiensi oksigen neuronal, radang jaringan otak akibat badai sitokin dan fakta bahwa virus memiliki kemampuan untuk melintasi sawar darah-otak untuk menyerang secara langsung otak. Salah satu dari ketiga faktor ini berpotensi menyebabkan delirium dan menjelaskan bukti kerusakan otak terkait hipoksia.

Hal ini juga diamati dalam otopsi yang dilakukan pada pasien yang telah meninggal karena infeksi dan kemungkinan untuk mengisolasi virus dari jaringan otak. Menurut para peneliti, delirium, defisit kognitif, dan anomali perilaku kemungkinan besar disebabkan oleh peradangan sistemik pada organ dan keadaan hipoksia (kekurangan oksigen).

Hipoksia tersebut menyebabkan jaringan saraf menjadi meradang dan menyebabkan kerusakan di area seperti hipokampus, yang berhubungan dengan disfungsi kognitif dan perubahan perilaku yang ditimbulkan oleh pasien yang menderita delirium.

Bulan lalu, penelitian lain juga merujuk hasil yang sama, yang diterbitkan dalam jurnal Age and Aging, mengungkapkan bahwa delirium adalah gejala utama COVID-19 pada orang tua yang lemah.