Kebohongan Besar Diego Maradona yang Tak Bisa Diampuni

Riki Ilham Rafles
·Bacaan 1 menit

VIVADiego Maradona memunculkan kontroversi ketika tampil membela Timnas Argentina melawan Inggris di Piala Dunia 1986 Meksiko. Dia mencetak gol menggunakan bantuan tangan yang tidak terdeteksi oleh wasit.

Gol tersebut disahkan. Pemain Inggris beramai-ramai melancarkan protes kepada wasit, tapi tidak berhasil membuat keputusan tersebut berubah. Akibat gol tersebut, The Three Lions tersingkir di babak perempatfinal.

Baca juga: Diego Maradona Pendukung Prabowo di Pilpres 2014

Kiper Inggris ketika itu, Peter Shilton menulis kenangannya di Daily Mail pada hari ini. Bagian dari mengenang kepergian Maradona yang meninggal dunia pada Rabu malam WIB 25 November 2020 akibat serangan jantung.

Shilton mengakui jika gol tersebut terus menghantui kehidupannya. Karena ketika itu dia dan Maradona berduel memperebutkan bola di udara, dan dengan badan lebih besar dia kalah.

Apalagi kemudian langkah Timnas Inggris terhenti, sedangkan Argentina terus melaju sampai akhirnya menjadi juara.

"Itu telah mengganggu saya selama bertahun-tahun. Saya tidak akan berbohong lagi. Orang mengatakan saya seharusnya sengaja melepas bola dan membiarkan orang yang lebih kecil mengalahkan saya. Itu omong kosong," tulis Shilton.

"Dia tidak akan meninju bola jika dia tahu bisa memenangkan situasi itu bukan? Tentu saja tidak," imbuhnya.

Yang kemudian membuat Shilton tak bisa menerima gol tersebut adalah sikap Maradona itu sendiri. Dia baru mengakui 19 tahun kemudian, dan tidak pernah meminta maaf.

"Yang saya tidak sukai adalah dia tidak pernah meminta maaf. Tidak pernah dia mengaku curang dan ingin meminta maaf," tutur Shilton.

Baca juga: Rencana Ubah Markas Napoli Jadi Diego Armando Maradona Stadium

Sakitnya lagi gol tersebut disebutnya sebagai Tangan Tuhan. Padahal telah melanggar sportifitas. Itu mengapa tanpa ragu Shilton menyebut Maradona memang hebat, tapi tidak sportif.

"Dia menggunakan kalimat Tangan Tuhan. Itu tidak benar. Sepertinya dia memiliki kebesaran dalam diri, tapi sayangnya tidak ada sportifitas."