Kebon Baru contoh Kampung Kerukunan di Jakarta Selatan

Kerukunan tidaklah sengaja diciptakan hanya sebatas simbolitas, namun prinsip itu sendiri lahir dari nurani setiap orang untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

DKI Jakarta melahirkan konsep “Kampung Kerukunan” yang semakin tahun akan diperbanyak guna mewujudkan saling toleransi dalam keberagaman sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Pada 2022 ini, RW 03 Gudang Peluru, Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, terpilih sebagai percontohan Kampung Kerukunan di Jakarta Selatan.

Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria turut menyampaikan DKI Jakarta sebuah provinsi di Indonesia yang menjadi tempat berkumpulnya beragam suku dan budaya.

"Di DKI Jakarta ini sangat heterogen dan sangat beragam, baik itu suku, adat istiadat, agama, perwakilan lembaga tinggi yang sifatnya nasional, bahkan internasional, belum lagi ada duta besar dari berbagai bangsa," kata Ariza.

Keberadaan kampung ini patut diapresiasi sehingga nantinya melahirkan konsep kerukunan yang diperbanyak di Jakarta.

Jakarta menjadi pusat pertemuan banyak etnis dan golongan se-Indonesia, mulai dari suku Aceh hingga Papua.

Kenyataan ini semakin menguatkan prinsip Pancasila, yakni berbeda-beda, tapi tetap satu.

Maka dari itu, lanjutnya, DKI Jakarta harus damai dan rukun sebagai kekuatan serta alat pemersatu bangsa.

Perbedaan berpotensi terjadinya konflik dan perselisihan, tapi kita punya Pancasila, perbedaan antara kita, jadi sebuah keberagaman dan bahkan kekuatan.

Bisa ditiru wilayah lain

Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Administrasi Jakarta Selatan (FKUB Jaksel) berharap Kampung Kerukunan Kebon Baru RW 03 guyub dalam keberagaman.

Plakat Kampung Kerukunan Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (18/10/2022). ANTARA/Luthfia Miranda Putri
Plakat Kampung Kerukunan Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (18/10/2022). ANTARA/Luthfia Miranda Putri

"Di Kebon Baru, mereka guyub dalam keberagaman," kata Sekretaris FKUB Kota Administrasi Jakarta Selatan Rahadi Mulyanto.

Sekretaris Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Administrasi Jakarta Selatan itu menambahkan Kebon Baru sebagai Kampung Kerukunan sudah sesuai kriteria yang dicanangkan Kementerian Agama.

Selain itu, terdapat komunitas pemeluk agama yang saling menghormati dan saling membantu semakin menambah keaktifan wilayah tersebut.

Komunitas itu berjalan guna memastikan silaturahmi antarsesama umat beragama.

Parameter penilaian ini bukan untuk perlombaan, melainkan mencari keberagaman yang ke depannya bisa ditiru wilayah lain.

Proses penilaian dilaksanakan masif selama sebulan dengan riset di 65 kelurahan lalu mendapat 10 calon, kemudian dicari tiga daerah ideal yang kriterianya, yang pada akhirnya diraih oleh Kebon Baru.

Di daerah itu hampir enam agama ada dan komunitasnya juga aktif yang bisa ditiru.

Ke depannya, tentu, visi dan misi pemerintah tidak hanya berhenti sampai di Kampung Kerukunan, melainkan menuju Kota Kerukunan.


Kerukunan itu tumbuh

Ketua RW 03 Gudang Peluru, Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Hedianto menyebutkan ada beberapa tes asesmen yang harus dilalui agar wilayahnya terpilih menjadi percontohan Kampung Kerukunan.

Ketua RW 03 Gudang Peluru, Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Hedianto saat ditemui, Jakarta, Selasa (18/10/2022). ANTARA/Luthfia Miranda Putri
Ketua RW 03 Gudang Peluru, Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Tebet, Hedianto saat ditemui, Jakarta, Selasa (18/10/2022). ANTARA/Luthfia Miranda Putri

Dari beberapa unsur kelurahan mengkaji 14 rukun warga (RW) di Kelurahan Kebon Baru yang kemudian terpilihlah RW 03.

Lalu secara bertahap oleh unsur pemerintah kota dan FKUB, dari tujuh kelurahan di Kecamatan Tebet kembali terpilih Kebon Baru masuk ke tiga besar, hingga akhirnya menjadi percontohan Kampung Kerukunan tingkat Kota Administrasi Jakarta Selatan.

Kehidupan masyarakat di RW 03 sangat rukun, meskipun terdiri dari multi golongan, ras, agama, dan etnik. Di wilayah itu ada beragam agama, mulai dari Islam, Katolik, Kristen, Budha, Hindu, dan Konghucu.

Dia merinci berdasarkan data yang telah dikumpulkannya, jumlah penduduk RW 03 Gudang Peluru dihuni 2.261 jiwa, terdiri dari 1.101 laki-laki dan 1.160 perempuan.

Adapun dari ribuan jiwa tersebut beragama Islam sebanyak 1.492 orang, Kristen 406 orang, Katholik 339 orang, Budha 19 orang, Hindu empat orang, dan Konghucu satu orang.

Tak hanya itu, beragam asal suku hingga negara juga tercatat sebagai warganya, yaitu Betawi, Sunda, Jawa, Aceh, Batak, Minangkabau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku, Bali, Nusa Tenggara Timur dan Barat, Arab, Tionghoa, Jepang dan Korea.

Beragam kegiatan dari warga hingga komunitas agama, seperti komunitas lingkungan Vincentius dan Venantius juga turut berkontribusi dalam menjaga kerukunan antarwarga.

Kerukunan ini didukung dengan kegiatan warga dengan senam pagi, jalan pagi, kegiatan 17 Agustusan, Kepengurusan RT dan RW03-Kebon Baru, PKK, Jumantik, Bank Sampah dan Karang Taruna, yang terdiri dari berbagai agama, etnis, dan suku bangsa.

Hingga perayaan umat Islam juga turut hadir partisipasi para umat non-muslim, seperti membagikan bingkisan Lebaran sebelum Hari Raya Idul Fitri dan memberikan hasil pemotongan hewan kurban kepada orang-orang yang membutuhkan di sekitar Komplek Gudang Peluru.

Salah satu hal unik di wilayahnya, Hedianto menyebutkan ada warga beragama non-muslim yang mengaku nyaman tinggal dekat dengan masjid.

Terdapat Masjid Az Zahrah serta masjid lainnya di luar komplek yang selalu mengumandangkan adzan, sampai saat ini warga dari agama manapun yang tinggal dekat masjid tersebut merasa tidak terganggu dengan panggilan suara adzan lewat pengeras suara.

Selain itu, salah satu Ketua RT di wilayahnya merupakan seorang wanita beragama Kristen yang memahami pengelolaan masjid, sehingga warganya guyub.

Pembinaan serta koordinasi yang baik dalam kepengurusan perangkat RW hingga Kecamatan menjadi faktor penting kelayakan dalam penilaian Kampung Kerukunan.

Namun terlepas dari faktor tersebut, kerukunan itu tumbuh secara alamiah dan tak bisa dikarang setiap orang karena hal itu berasal dari hati nurani masing-masing.

Mereka tumbuh dengan banyak komunitas, seperti sering jalan bareng melakukan kegiatan keagamaan dan tidak mengganggu yang lain itu sudah alami sejak dulu.

​​​​​​​