Kebutuhan Menara Meningkat pada Era 5G Jadi Katalis Positif Mitratel

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kebutuhan menara telekomunikasi akan meningkat di tengah era 5G. Hal tersebut berdampak positif untuk pendapatan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau disebut Mitratel.

Direktur Investasi PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel Hendra Purnama menuturkan, pada era 4G, satu menara dengan tinggi 30 meter dapat cover area 3-4 KM tergantung areanya. Sedangkan 5G memiliki spektrum lebih tinggi dan hanya cover area 500 meter-1 KM.

"Tadi 4 KM bisa satu tower. 4 KM kini hanya punya 4-5 tower, kebutuhan tower jauh lebih meningkat,” ujar dia saat diskusi virtual, Rabu (24/11/2021).

Selain itu, dari sisi operator juga memiliki peralatan berbeda. Hal ini seiring dari masing-masing era mulai dari 2G hingga 5G memiliki peralatan dan frekuensi berbeda.

"Begitu dia pasang 5G mesti beli equipment baru, taruh di kita dan taruh antenna karena frekuensi beda, antenna beda, itu addional fee buat mereka. Buat kita charge kalau misalkan satu equipment untuk 4G let say 14 juta tambah 5G kita charge 14 juta, another potential revenue ke kita,” kata dia.

Kemudian 5G mesti memakai fiber optic seiring bandwith tinggi. Oleh karena itu, perseroan ekspansi ke fiber optic untuk antisipasi perkembangan era 5G.

Untuk percepat fiber optic tersebut juga bekerja sama dengan Telkom lantaran cakupan 98 persen kota di Indonesia dengan fiber optic. Dayamitra Telekomunikasi dapat hubungkan menara dengan fiber optic Telkom.

“Ekspansi supaya nanti para operator connect microwave ke fiber optic. Ibaratnya kos-kosan sediakan provider, wifi. Ini meningkatkan potensi revenue kita kalau masuk ke 5G,” kata dia.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Digital Infrastruktur

Pengunjung mengabadikan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta, Rabu (15/4/2020). Pergerakan IHSG berakhir turun tajam 1,71% atau 80,59 poin ke level 4.625,9 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Pengunjung mengabadikan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta, Rabu (15/4/2020). Pergerakan IHSG berakhir turun tajam 1,71% atau 80,59 poin ke level 4.625,9 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Perseroan juga berencana masuk ke digital infrastruktur. Hal ini mulai dari internet of things, artificial intelligence, dan edge computing.

"Kita IOT sudah ada, di beberapa menara kita, sudah ada sensor. Kita ikuti sesuai kebutuhan IOT lain dipasangkan menara kita,” kata dia.

Hendra menambahkan, pihaknya akan masuk AI setelah 5G banyak digunakan dengan fiber optic. Kemudian langkah selanjutnya dengan mengembangkan edge computing.

"Edge computing ini mini data center di area tower kita. Fungsinya macam-macam. Di beberapa negara di Eropa dan Amerika Serikat untuk proses vehicle otonom.” Kata dia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel