Kecam Bom Makassar, PBNU: Kekerasan dan Teror Bukan Ajaran Agama

Hardani Triyoga, Edwin Firdaus
·Bacaan 1 menit

VIVA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengutuk keras aksi pengeboman di area Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu, 28 Maret 2021. Bom ini karena aksi bunuh diri pelaku.

Ketua PB Nahdlatul Ulama Robikin Emhas menyampaikan seluruh umat manusia adalah saudara. Persaudaraan kemanusiaan atau ukhuwah insaniyah/ukhuwah basyariyah itu tak bisa dikurangi hanya karena berbeda agama, suku, ras, warna kulit ataupun golongan.

“Upaya mewujudkan kehidupan yang harmoni merupakan keharusan yang musti dipikul oleh setiap pribadi umat manusia. Tidak seorang pun boleh mengelaknya. Toh dengan dalih apapun manusia tidak akan pernah terhindar dari kehidupan yang majemuk, plural dan beragam. Karena hal itu sudah merupakan keniscayaan (sunnatullah) yang telah ditetapkan oleh Tuhan YME," kata Robikin dalam keterangannya, Minggu, 28 Maret 2021.

Maka itu, kata Robikin, setiap tindakan kekerasan yang mengancam rusaknya hormani sosial tidaklah bisa dibenarkan. Apalagi berupa teror dalam bentuk bom. Sebaliknya, perbuatan seperti itu dikutuk.

Dia menekankan semua agama tak pernah mengajarkan teror kekerasan. Apalagi menggunakan teror bom untuk menghilangkan nyawa orang lain.

“Kekerasan dan teror bukan ajaran agama. Agama apapun tidak mengajarkan dan membenarkan hal itu. Saya berharap polisi mengungkap jaringan di belakangnya. Supaya dapat diadili dalam proses persidangan yang fair, transparan dan akuntabel," imbuhnya.

Bom bunuh diri terjadi pada Minggu, 28 Maret 2021 sekitar pukul 10.20 WITA. Dari peristiwa ini, sedikitnya ada 14 korban luka-luka yang terdiri atas jemaat gereja dan petugas keamanan gereja.

Korban luka-luka itu terkena serpihan ledakan bom di bagian kaki, kepala, hingga badan. Mereka kini menjalani perawatan di tiga rumah sakit berbeda di Makassar.