Kecanggihan MV Swift Rescue yang Visualkan KRI Nanggala di Bawah Laut

Dedy Priatmojo
·Bacaan 3 menit

VIVA – Pencarian KRI Nanggala 402 yang dilaporkan hilang kontak dan dinyatakan tenggelam di perairan Bali tak lepas dari kerjasama semua personil tim gabungan yang didukung kecanggihan alutsista. Kapal selam nahas tersebut akhirnya berhasil ditemukan karam di kedalaman 838 meter.

Operasi pencarian melibatkan 21 unsur KRI ditambah bantuan dari Polri, Basarnas, BPPT, KNKT hingga kapal asing dan pesawat patroli kapal selam P-8 Poseidon milik Angkatan Laut Amerika Serikat. Pencarian membuahkan hasil di hari kelima.

KRI Rigel, yang memiliki kemampuan sonar bawah laut akhirnya melakukan kontak signifikan di sekitar lokasi tenggelamnya KRI Nanggala dan telah menghasilkan citra bawah air yang lebih detil terkait keberadaan kapal.

Namun karena keterbatasan peralatan, ROV (Remotely Operated Vehicle) atau robot bawah laut KRI Rigel hanya mampu di kedalaman 800 meter, maka informasi tersebut ditindaklanjuti kapal MV Swift Rescue milik Singapur dengan menurunkan ROV untuk memperkuat citra bahwa air secara visual menggunakan kamera.

Minggu pagi, pukul 09.04 Wita, ROV MV Swift Rescue Singapura mendapat kontak visual pada posisi 07 derajat 48 menit 56 detik Selatan dan 114 derajat 51 menit 20 detik Timur. KRI Nanggala ditemukan 1.500 yard sebelah Selatan dari tempat pertama kali dilaporkan tenggalam pada kedalaman 838 meter dengan kondisi terbelah tiga bagian.

Dilansir laman Naval-Technology, MV Swift Rescue merupakan jenis kapal Submarine Support and Rescue Vessel (SSRV) yang dioperasikan Angkatan Laut Singapura. Dibangun oleh ST Marine, anak perusahaan dari Singapore Technologies Engineering (ST Engineering). Kapal rescue ini diluncurkan perdana pada tahun 2008.

Kapal berbobot 4.290 ton dengan awak kapal 27 orang itu mampu melakukan operasi penyelamatan dalam kondisi gelombang tinggi Sea State 5, serta mampu melakukan penyelamatan kapal selam yang tenggelam di kedalaman laut.

MV Swift Rescue dilengkapi Submarine Rescue Vehicle DSAR (Deep Search and Rescue) 6, ruang Transfer under Pressure (TUP), Launch and Recovery System (LARS), Integrated Navigation & Tracking System, dan Remotely Operated Vehicle (ROV).

Sebagai kapal rescue, MV Swift Rescue juga dilengkapi perangkat kesehatan hyperbaric untuk mengatasi trauma hipotermia. Bahkan di MV Swift Rescue juga terdapat fasilitas helipad untuk mendukung evakuasi medis udara dengan helikopter.

Sistem Penyelamatan MV Swift Rescue

Salah satu peralatan SAR andalan MV Swift adalah DSAR 6 SRV, sebuah kapal selam mini yang mampu menyelam bebas dan dioperasikan oleh dua anggota awak. Kapal selam DSAR ini memiliki sepanjang 9,6m dan mampu menyelam hingga kedalaman 500 meter untuk penyelamatkan kapal selam. Kapal selam mini ini dapat menampung maksimal 17 orang.

Sementara itu, ruang Transfer under Pressure (TUP) yang dipasang di SSRV dapat menampung maksimal 40 anggota. Ini memberikan perawatan medis instan dan memungkinkan transfer pelaut yang diselamatkan dari DSAR 6 ke Swift Rescue.

Sedangkan sistem ROV atau robot bawah MV Swift Rescue juga bisa diturunkan untuk membantu kru menemukan dan melihat lokasi pasti dari kapal selam yang tenggelam dan membersihkan puing-puing di sekitar. ROV ini lah yang berhasil memotret secara visual KRI Nanggala di kedalaman 838 meter.

MV Swift Rescue dilengkapi dengan derek dek 3t beban kerja aman (SWL). Kapal itu memiliki dua perahu penyelamat tertutup yang bisa menampung 50 orang dan sebagai kapal penyelamat reaksi cepat.

Helipad di Swift Rescue dapat mendukung operasi SAR yang berfungsi untuk mengevakuasi pelaut ke darat untuk mendapatkan perawatan medis yang lebih baik.

Sistem onboard dan bawah air dipantau dan dilacak oleh sistem navigasi dan pelacakan terintegrasi. Fasilitas akomodasi disediakan untuk 85 personel. Fasilitas lainnya termasuk rumah sakit dengan 18 tempat tidur single.

MV Swift Rescue digerakan dengan dua mesin diesel MAN 2040kW, tiga generator diesel Caterpillar 1.360kW, dua baling-baling nosel CPP Kort, dan generator darurat 95kW. Sistem propulsi juga mengintegrasikan dua pendorong busur terowongan 1.000 kW dan dua pendorong buritan 420kW untuk kemampuan manuver yang tinggi.

Dengan kapasitas itu, kapal dapat berlayar dengan kecepatan maksimum 12 knot dan dapat dioperasikan secara terus-menerus di tengah laut dalam jangka waktu 28 hari.