Kecemasan meningkat setelah media peliput unjuk rasa AS diserang

Washington (AFP) - Gelombang serangan terhadap jurnalis yang meliput unjuk rasa di AS memicu kegelisahan yang berkembang di kalangan media yang beberapa di antaranya menuding Presiden Donald Trump sebagai biang keladinya karena menciptakan suasana yang mendorong kekerasan.

Selama sepekan terakhir, para pemantau media telah mencatat sejumlah insiden kekerasan polisi terhadap wartawan - di mana awak ditembak, dipukuli, ditendang, disemprot lada atau ditangkap - yang banyak insiden terekam kamera.

Sebuah surat terbuka kepada penegak hukum yang disahkan oleh 18 organisasi kebebasan pers termasuk Klub Pers Nasional (NPC) dan Komite Melindungi Jurnalis (CPJ) menyerukan penghentian "penyasaran disengaja dan menghancurkan terhadap jurnalis di lapangan."

Jumlah kekerasan yang dicatat kelompok-kelompok pemantau media menyebutkan 192 pelanggaran kebebasan pers sepanjang gelombang protes terbaru termasuk 131 serangan, yang 108 di antaranya dilakukan oleh polisi.

Angka itu termasuk 31 penangkapan, 46 penembakan peluru karet, 30 kasus kerusakan peralatan, 30 insiden gas air mata dan 17 penyemprotan lada.

Sejumlah pembela media mengatakan bahwa upaya terus menerus Trump memojokkan pers arus utama telah membuka pintu untuk melakukan serangan dengan merusak kredibilitas wartawan yang meliput unjuk rasa menyusul pembunuhan polisi terhadap seorang pria kulit hitam di Minnesota pekan lalu.

"Ini jelas menciptakan suasana di mana Anda cenderung melihat serangan terhadap wartawan," kata Len Downie, mantan editor eksekutif Washington Post yang merupakan profesor pada Arizona State University dan awal tahun ini menulis sebuah penelitian tentang pemerintahan Trump dan media.

Downie mengatakan bahwa sementara Trump mungkin tidak secara eksplisit mendorong kekerasan terhadap pers, retorikanya yang keras telah "memperdalam kesenjangan" mengenai kredibilitas.

"Negara ini terbelah antara mereka yang percaya kepada presiden dan mereka yang percaya kepada pers," kata dia.

Beberapa wartawan yang kaget memanfaatkan Twitter untuk menceritakan penganiayaan, sementara yang lain memposting video.

"Setelah menunjukkan kartu pers saya dan berteriak 'Saya wartawan' seorang petugas @RichmondPolice menyemprotkan semprotan merica ke wajah saya dan mendorong saya hingga jatuh. Ada 3397 di helmnya," cuit wartawan radio Roberto Roldan dari Richmond, Virginia.

Satu video menunjukkan seorang awak televisi Australia yang didorong hingga jatuh leh polisi di dekat Gedung Putih di Washington.

"Ini mengkhawatirkan," kata presiden National Press Club Michael Freedman.

"Contoh yang saya lihat semua jurnalis peliput sudah bekerja sesuai aturan, dan kami berharap para petugas di sisi lain berlaku dengan standar yang sama."

Patricia Gallagher Newberry, presiden Society of Professional Journalists, mengatakan serangan Trump menciptakan "efek berbahaya."

Alih-alih menyerang media, para pejabat terpilih "seharusnya berbicara membela jurnalis dan menyerukan masyarakat melindungi jurnalis," kata Newberry.

"Ini tidak seharusnya terjadi di Amerika Serikat. Kita memiliki kebebasan pers yang dijamin Konstitusi kita. Jadi melihat polisi dan pengunjuk rasa menyerang para pembuat berita itu adalah mengejutkan, mengecewakan, ilegal dan benar-benar mengganggu."

Joel Simon, direktur eksekutif Komite Melindungi Jurnalis (CPJ), juga menyoroti faktor serangan Trump terhadap media.

"Trump memang tak membuat peliputan unjuk rasa AS menjadi berbahaya, tapi dia telah memperburuk keadaan," tulis Simon dalam sebuah kolom untuk Columbia Journalism Review.

"Sangat mungkin retorika anti-media dari presiden ini telah mendorong polisi setempat, yang menyerang dan menangkap wartawan dengan kecepatan yang tidak terlihat dalam sejarah baru-baru ini. Dan juga mungkin bahwa beberapa pengunjuk rasa yang telah menyerang wartawan adalah para pendukung Trump yang dimotivasi oleh kecamannya terhadap media palsu."

Insiden terakhir itu tercipta ketika banyak outlet media menghadapi kesulitan ekonomi akibat pandemi virus sambil berjuang agar pembaca tetap memperoleh informasi mengenai masalah-masalah penting.

Para pembela media mengatakan insiden mengejutkan ini menggarisbawahi erosi rasa hormat terhadap jaminan konstitusional pers bebas yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

"Adegan-adegan yang terjadi di seluruh negeri selama sepekan terakhir itu tidak dapat diliput dari jarak yang 'aman'," kata Jon Schleuss, presiden NewsGuild, serikat pekerja yang mewakili ribuan wartawan.

"Wartawan dan fotografer memahami risikonya dan tidak meminta perlakuan khusus. Tetapi menyerang mereka saat mengumpulkan berita adalah serangan yang tidak konstitusional terhadap semua warga Amerika."

rl/bgs