Kedok Jual-Beli Hewan Peliharaan di Media Sosial

·Bacaan 5 menit

VIVA – Kehidupan di tengah pandemi membatasi berbagai kegiatan yang sudah menjadi kebiasaan bagi manusia. Menurut berbagai riset yang beredar, keterbatasan-keterbatasan ini kemudian mengantarkan perasaan-perasaan yang kurang menyenangkan seperti kesepian, kegelisahan, dan kebingungan. Apakah kamu merasakan salah satunya?

Sesuai dengan teori Darwin, makhluk yang bisa beradaptasi akan dapat bertahan. Begitupula dengan manusia di tengah pandemi yang mencari cara untuk dapat mengatasi perasaan-perasaan tidak menyenangkan itu, memelihara hewan misalnya.

Penelitian dari jurnal Letter One menyebutkan bahwa orang yang hidup dengan hewan peliharaan terbukti 50% lebih sehat daripada orang yang tidak memiliki hewan peliharaan.

Pemilik hewan peliharaan dinilai lebih aktif bergerak dan secara rutin berkomunikasi dengan hewan peliharaannya. Sehingga baik dari segi fisik maupun mental, hewan peliharaan bisa membantu mengisi kekosongan akibat pandemi.

Tahukah kamu bahwa memelihara hewan peliharaan kemudian menjadi tren yang hangat sejak merebaknya pandemi?

Menurut data dari Kontan.co.id, sebanyak 67% keluarga di Indonesia memelihara hewan peliharaan dengan sebaran pemelihara anjing sebanyak 15%, ikan 16%, burung 19%, dan penrnang di hati masyarakat Indonesia, kucing sebesar 37%.

Tren pemeliharaan hewan kian terlihat dari meningkatnya permintaan hewan peliharaan di berbagai media sosial. Menurut lembaga Action Frau, satu yang paling mudah dilihat perkembangannya adalah Facebook. Padahal, pihak Facebook telah mengeluarkan kebijakan larangan jual-beli hewan sejak 3 tahun yang lalu.

Istilah Lain dari Jual-Beli Kucing di Facebook

Kebijakan Facebook tak menjadi soal bagi para penjual maupun pembeli hewan peliharaan. Masih banyak komunitas serta grup tertutup yang masih mengiklankan hewan peliharaan dengan berbagai pilihan domisili, lengkap dari Sabang hingga Merauke. Ada beberapa istilah yang digunakan untuk mengiklankan hewan peliharaan -khususnya kucing- yaitu ganti uang pakan, ganti biaya perawatan, hingga lepas adopsi.

Uniknya, pengguna Facebook yang memakai istilah-istilah tersebut mempunyai pandangan yang berbeda-beda terhadap maknanya. Jani (bukan nama sebenarnya) menganggap bahwa penggunaan istilah ganti uang pakan, ganti biaya perawatan, dan lepas adopsi berbeda dengan menjual kucing.

Menurut Jani, mengganti biaya pakan dan perawatan berarti bukan menjual, tetapi menjual jasa perawatan kucing sebelum berpindah kepemilikkan. Lepas adopsi pun sama, namun Jani bersaksi bahwa penggunaan istilah lepas adopsi akan lebih mahal daripada istilah lainnya. Sayangnya, Jani tak bisa menjelaskan lebih lanjut mengenai perbedaan antara istilah-istilah tersebut.

Memiliki paradigma yang berbeda, Ferdi (lagi-lagi bukan nama sebenarnya) menganggap bahwa dari segi makna, istilah-istilah tersebut memang mengarah pada praktik penjualan kucing.

“Kalau kita sebut jual kucing itu lebih kasar, karena gak cocok buat kucing. Beda kalau mahar atau ganti uang pakan itu lebih halus, tapi artinya juga sama,” ucap Ferdi. Baik Ferdi maupun Jani sama-sama dihubungi melalui Facebook messenger pada Rabu (5/5).

Menanggapi fenomena berkembangnya istilah jual-beli kucing tersebut, Yusup, pemilik komunitas pecinta kucing bernama Dunia Kucing Meong di Facebook berkata ia tidak mempermasalahkannya.

Meski mengaku tidak setuju dengan praktik jual-beli kucing, pria yang juga seorang admin dari komunitas Cat Lovers Indonesia itu menjadi saksi bahwa istilah tersebut memang telah berkembang seiring dengan ramainya permintaan adopsi kucing di Indonesia.

Kendati demikian, Yusup melarang dengan tegas praktik jual-beli kucing di komunitasnya. Berdiri sejak 2019, Dunia Kucing Meong masih memperbolehkan proses adopsi, namun tidak boleh memungut biaya sama sekali.

Dunia Kucing Meong dan Cat Lovers Indonesia merupakan komunitas yang berfungsi sebagai tempat sharing untuk mewadahi para pemilik kucing di seluruh Indonesia. Hingga saat tulisan ini dibuat, Dunia Kucing Meong diikuti oleh 61 ribu sedang Cat Lovers Indonesia diikuti oleh 222,3 ribu pecinta kucing.

Kebijakan Facebook Mengenai Larangan Jual-Beli Kucing

Sebagai bentuk dari kepedulian terhadap hewan, sejak 2019 Facebook telah menerapkan larangan jual-beli hewan pada komunitas lokakarya. Bahkan postingan adopsi pun sebenarnya tidak diperkenankan.

Konsekuensi dari pelanggaran larangan tersebut adalah ditutupnya komunitas yang disenyalir menjadi tempat jual-beli hewan. Dalam usaha penertiban ini, Facebook menggunakan penyaringan kata dan mengandalkan orang-orang yang dengan mandiri melaporkan praktik jual-beli tersebut.

Hebatnya, beberapa komunitas yang mewadahi jual-beli kucing di Facebook mencari berbagai cara untuk bertahan. Mereka merubah mode komunitasnya menjadi private, mengharuskan siapapun yang hendak masuk komunitas tersebut menjawab beberapa pertanyaan. Jawaban dari pertanyaan tersebut kemudian dijadikan pertimbangan penerimaan anggota baru dari komunitasnya.

Melalui akun yang terbatas, membernya menjadi lebih leluasa untuk memasarkan hewan peliharaannya. Sudah menjadi setelan otomatis bagi setiap anggota untuk tidak menyebut kata keramat “jual-beli” dan menggantinya menjadi istilah-istilah yang lebih aman, seperti istilah-istilah pengganti yang telah dibahas di atas.

Lebih jauh menilik komunitas jual-beli hewan, tak jarang para penjual bahkan menerapkan kode-kode unik untuk menuliskan harga agar postingannya lebih menarik. Kode-kode seperti A yang berarti seratus ribu rupiah, B untuk mengganti kata lima puluh ribu rupiah, dan C -sebagai satuan terkecil- yang bermakna dua puluh ribu rupiah seringkali menjadi caption untuk foto-foto yang menunjukkan kucing-kucing yang hendak dijual.

Kurangnya Informasi Mengenai Kebijakan Larangan Jual-Beli Hewan di Facebook

Mirisnya, tak banyak orang yang mengetahui secara menyeluruh kebijakan Facebook mengenai larangan jual-beli hewan tersebut. Jani kebingungan saat ditanya pendapatnya mengenai kebijakan tersebut.

Di sisi lain, Yusup mengaku tidak terlalu paham mengenai kebijakan Facebook yang dimaksud. Yusup hanya mengandalkan pemberitahuan dari kerabatnya -yang juga admin Cat Lovers Indonesia -bahwa jual-beli hewan di Facebook itu dilarang.

Sebagai bentuk ikhtiar, menghindari diri dari marabahaya yang mungkin terjadi bila tertangkap basah melakukan transaksi jual-beli hewan peliharaan, sebenarnya ada cara aman nan mulia yang bisa ditempuh untuk mendapatkan hewan peliharaan. Yusup membagikan beberapa caranya.

“Daripada membeli, lebih baik memungut kucing yang terlantar, itu lebih mulia. Akan tetapi kalau ingin kucing ras lebih baik cari yang free hibah,” pungkasnya sebagai penutup wawancara pada Kamis (6/5). (Penulis: Ginara Gemilentika)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel