Kegigihan kader posyandu ujung tombak pencegahan kekerdilan di Jember

Senyum ceria terpancar dari wajah Faresta, bocah berusia 3 tahun di Kelurahan Kepatihan, Kabupaten Jember, Jawa Timur, saat bertemu Sutipah, kader posyandu yang mengantarkan makanan sehat setiap pagi.

Dengan wajah berbinar-binar, ia langsung mengambil makanan yang disodorkan oleh kader posyandu itu sambil tersenyum. Ia senang melihat makanan sehatnya ditambah kudapan buah sudah ada di depan mata.

Bahkan tidak jarang, ia selalu menunggu di depan pintu rumahnya dan terus bertanya kepada ibunya kapan kader posyandu tersebut datang untuk mengirimkan makanan untuknya.

Faresta merupakan salah satu anak yang berat badannya belum ideal sehingga perlu mendapatkan makanan tambahan bergizi dari Puskesmas Jember Kidul yang diantarkan oleh kader posyandu di lingkungan puskesmas setempat.

Melihat kegembiraan si anak yang menyantap menu sehat yang dibawanya, Sutipah merasa senang dan bangga bisa membantu menyalurkan makanan tambahan bagi anak-anak yang kurang gizi untuk mencegah kasus kekerdilan (stunting) di Kabupaten Jember.

Setiap pagi hari sejumlah kader posyandu harus mengantar makanan kepada ibu hamil yang kekurangan energi kronis (KEK) dan anak balita yang berat badannya tidak ideal atau kekurangan gizi.

Makanan tersebut harus didistribusikan oleh sejumlah kader posyandu kepada penerima sasaran paling lambat 2 jam setelah makanan tersebut diterima kader dari puskesmas.

Saat hujan mengguyur pada pagi hari, kader posyandu harus tetap mengantar makanan tambahan ke sejumlah sasaran penerima yang rumahnya agak jauh dan terkadang harus melewati gang kecil yang agak menyulitkan orang berjalan.

Ketika jalan menuju rumah penerima sasaran tidak bisa diakses oleh kendaraan roda dua, maka kader posyandu juga harus berjalan kaki untuk mengirimkan makanan tambahan tersebut tepat waktu kepada ibu hamil dan balita yang kekurangan gizi.

Seorang kader posyandu bisa mengirimkan makanan tambahan kepada 5-7 orang sasaran setiap harinya dan makanan tersebut harus diterima ibu hamil atau balita tidak boleh lebih dari 2 jam setelah dibawa oleh kader dari puskesmas sehingga harus benar-benar diatur waktu pengirimannya agar tepat waktu.

Sutipah mengambil makanan tambahan itu dari Puskesmas Jember Kidul setiap hari pukul 07.40 WIB, selanjutnya mengantarkan kepada tujuh orang sasaran baik ibu hamil dengan kekurangan energi kronis maupun anak balita kekurangan gizi.

Tidak hanya bertugas mengantar menu makanan bergizi, kader posyandu selalu memberikan edukasi kepada penerima bantuan makanan tambahan agar mereka benar-benar memperhatikan asupan gizi makanannya.

Saat kegiatan posyandu dilakukan, para kader pun tak henti-hentinya memberikan penyuluhan terkait beragam olahan makanan yang sehat bergizi dan tidak perlu mahal, serta pola asuh yang benar agar anak-anak terhindar dari stunting.

Keuletan dan kegigihan para kader posyandu untuk turun ke masyarakat menjadi ujung tombak pencegahan stunting di masing-masing puskesmas di Kabupaten Jember karena keterbatasan petugas kesehatan, sehingga pemberdayaan posyandu memang harus dimasifkan.

Kepala Puskesmas Jember dr. Kidul Nur Falakhis mengakui bahwa peranan kader posyandu dalam menangani kasus stunting sangat luar biasa jika digerakkan secara masif dan kontinyu.

Stunting merupakan permasalahan gizi kronis yang menjadi prioritas pembangunan nasional yang tercantum dalam RPJMN 2020-2024 sehingga masing-masing puskesmas diminta melakukan inovasi dalam program kesehatan penanganan tengkes itu.

Sebagai struktur terkecil dan terdepan dari pelayanan kesehatan dari pemerintah, posyandu bisa menjangkau masyarakat secara langsung dan juga mampu memberdayakan para ibu untuk memperhatikan kesehatan anak dan pola konsumsi keluarga.

Kekuatan utama posyandu ada pada deteksi awal terkait dengan saat ibu hamil dan pemantauan tumbuh kembang bayi, yang
dilakukan secara rutin sehingga bila ada masalah pada pertumbuhan anak pada usia 0-23 bulan dapat segera terdeteksi.

Balita yang dideteksi mengalami gangguan pertumbuhan di posyandu dapat segera ditindaklanjuti untuk dirujuk ke fasilitas kesehatan puskesmas atau rumah sakit.

Jika terdapat anak yang berpotensi stunting, tentunya seluruh elemen posyandu mengadakan evaluasi untuk dicari faktor penyebab dan risiko.

Seperti diketahui bahwa stunting dapat dihindari sebelum anak berusia 2 tahun (24 bulan). Pengisian kurva KMS yang dilakukan secara rutin oleh kader/petugas gizi/bidan di posyandu dapat membantu mendeteksi bila ada kecurigaan ke arah stunting pada anak.

Analisis evaluasi juga dilakukan dengan kunjungan kader posyandu ke rumah untuk menilai faktor risikonya, salah satunya untuk melihat kelayakan sanitasinya.

Nah, itulah salah satu alasan mengapa posyandu disebut sebagai ujung tombak pencegahan stunting karena tugas mereka memantau langsung di lapangan dan bersentuhan langsung dengan sasaran, namun tentu orang tua tentunya memiliki andil terbesar untuk memantau tumbuh kembang anak dengan rutin ke posyandu.

Posyandu dapat mencegah anak terkena berbagai faktor risiko stunting melalui program-program yang diselenggarakan di antaranya pemberian obat pencegahan seperti cacingan, penanggulangan diare, sanitasi dasar, serta peningkatan gizi.

Selain pemantauan tumbuh kembang anak, posyandu juga menyediakan kegiatan-kegiatan yang bersifat penyuluhan tentang gizi seimbang dan ASI eksklusif.

Kegiatan itu berwujud Kelompok Pendukung Ibu, pemberian tambahan makanan bayi dan anak, atau Gerakan Sayang Ibu yang tujuan kegiatannya meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku positif ibu dan balita dalam upaya cegah stunting.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jember, kasus stunting di wilayah setempat mencapai 23,90 persen berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021, sedangkan berdasarkan Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM) 2021 sebesar 11,74 persen.

Kolaborasi pentahelix
Penanganan kasus stunting tidak bisa hanya melibatkan satu pihak dari pemerintah, namun perlu dilakukan kolaborasi melibatkan multipihak (pentahelix) yakni unsur pemerintah, akademisi, LSM (NGO), pelaku usaha, masyarakat, dan media perlu bergerak bersama-sama.

Direktur Plato Dita Amalia mengatakan pihaknya bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menangani beberapa isu masalah kesehatan, salah satunya adalah stunting.

Melalui penguatan program Risk Communication and Community Engagement (RCCE) yang dilaksanakan oleh yayasan itu dengan dukungan UNICEF dan Dinas Kesehatan Jember diharapkan dapat mencegah dan mengurangi kasus stunting di Kabupaten Jember.

Lembaga nirlaba itu berkomitmen dan konsisten dalam melakukan upaya penanggulangan stunting, namun upaya tersebut perlu kerja sama dari berbagai pihak terkait.

Berbagai program melibatkan lintas sektor sangat diperlukan dalam mendorong dan mendukung pencegahan stunting di Jember, sehingga tim percepatan yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan unsur multipihak juga perlu digerakkan secara masif.

Semua orang diharapkan bisa menjadi kader untuk promosi kesehatan mulai dari lingkungan keluarga dan seluruh masyarakat tanpa terkecuali melalui komunikasi interpersonal dengan melibatkan berbagai pihak, serta sinergi dari multipihak untuk program terkait masalah kesehatan, salah satunya pencegahan tengkes.

Yayasan tersebut juga berperan membantu mengoptimalkan peran posyandu karena posyandu adalah garda terdepan dalam pencegahan dan penanganan tengkes.

Selain itu, juga mendorong keterlibatan media untuk menekan kasus kekerdilan dalam penyebarluasan informasi dan edukasi kepada masyarakat di Kabupaten Jember.

Media massa memiliki peran yang strategis dalam menyebarluaskan informasi dan edukasi terkait kesehatan termasuk pencegahan kasus tengkes dan imunisasi.

Melalui gerak bersama unsur multipihak itu, angka kekerdilan diharapkan terus menurun dengan semakin diberdayakannya para kader posyandu yang tersebar di seluruh RT/RW di Kabupaten Jember.

Karena, kader posyandu merupakan ujung tombak pencegahan stunting di Indonesia.


Editor: Achmad Zaenal M