Keguguran 7 Kali dan Diceraikan saat Terluka, Perempuan Ini Memutuskan Bangkit Berjuang

·Bacaan 7 menit

Fimela.com, Jakarta Di bulan Oktober yang istimewa kali ini, FIMELA mengajakmu untuk berbagi semangat untuk perempuan lainnya. Setiap perempuan pasti memiliki kisah perjuangannya masing-masing. Kamu sebagai perempuan single, ibu, istri, anak, ibu pekerja, ibu rumah tangga, dan siapa pun kamu tetaplah istimewa. Setiap perempuan memiliki pergulatannya sendiri, dan selalu ada inspirasi dan hal paling berkesan dari setiap peran perempuan seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Elevate Women: Berbagi Semangat Sesama Perempuan di Share Your Stories Bulan Oktober ini.

TERKAIT: Saling Menguatkan di Situasi Pandemi dengan Membuat Sabun dari Minyak Jelantah

TERKAIT: Menjadi Ibu yang Bekerja sebagai Tulang Punggung Keluarga, Hatiku Harus Lebih Tegar

TERKAIT: 5 Tips bagi Perempuan yang Ingin Melepaskan Cinta yang Tak Bisa Dimiliki

***

Oleh: Aulia Hamidah Fauzia

Tidak semua masalah dalam rumah tangga harus berakhir di meja hijau, sebagian besar konsultan hukum selalu berupaya memediasi para pasangan yang hendak bercerai agar berdamai dan memikirkan dengan matang atas hal besar yang akan mereka tempuh. Terkadang, tidak melulu masalah ekonomi yang menjadi pemantik gugatan atau permohonan cerai, faktor kesehatan mental dan fisik salah satu pihak yang rentan, sering menjadi pemicu terjadinya perceraian.

Seperti kisahku, saat mencoba menguatkan seorang wanita muda yang berparas pucat menangis histeris di kantor hukum kami sembari memegang perutnya karena telah menjalani histerektomi total atau pengangkatan rahim.

Aku berpikir, cinta adalah obat. Maka dapatkanlah cinta sesuai dosisnya. Terkadang, cinta mampu menjadi racun. Dalam kamus cinta, tak pernah berkhianat, belum tentu tak dikhianati, selalu tulus belum tentu akan selalu dikasihi. Namun, setiap luka batin dapat sembuh dengan cinta sejati, yakni cinta yang dapat menghasilkan empat hormon baik, dopamine yang memberi perasaan baik, serotonin yang menjadikan suasana hati tentram, tidur lelap, nafsu makan seimbang serta semangat untuk belajar, lalu cinta yang menghasilkan hormon oksitosin yang dapat memberikan rasa ikatan bathiniah yang kuat antar individu. Serta hormon endorfin yang mampu menjadi obat atau pereda nyeri atas rasa sakit bahkan luka batin yang sudah menahun. Maka aku berpikir, setiap wanita harus memiliki skill self healing dan self love agar ia menjadi pribadi yang tangguh dan utuh. Ketika ia kuat, ia mampu menguatkan.

Kisah Seorang Perempuan

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Aku bukan wanita paling kuat dalam hal batiniah, karena setiap wanita pasti pernah berada di titik balik, hingga titik yang teramat rapuh tanpa terkecuali dengan diriku. Terkadang, ketika kita menjadi pendengar yang baik atas rapuhnya wanita lain yang sedang amat terpuruk, itu menjadikan kita menjadi lebih kuat karena ketika kita menguatkan orang lain. Dejatinya kita sedang menguatkan mental sendiri karena hormon cinta dapat lahir dari kondisi saling menguatkan, berbagi perasaan emosional, bahkan sekadar curhat (curahan hati) dengan sahabat, mampu sedikit mengurasi rasa pahit ataupun luka bathin.

Meski sedang tidak baik-baik saja, aku berusaha untuk selalu menguatkan mental orang-orang disekitarku. Oktober adalah bulan tersendu kala semua peristiwa besar terjadi, beruntun, dan menjadi PR berat bagiku untuk merunutnya satu persatu.

Ada satu peristiwa yang paling menyentuh bathinku adalah ketika seorang klien wanita usia 31 tahun, cantik, ramah akan tetapi entah kenapa parasnya pucat sekali datang ke kantor kami, ia hendak berkonsultasi. Dari awal berkunjung, ia selalu menahan perutnya dengan sepuluh jemari lentiknya sembari mengernyitkan dahi menahan rasa sakit. Aku pun bertanya “Apakah mbak baik-baik saja?" Dia pun menjawab, “Tak mengapa, saya baru saja menjalani operasi histerektomi total atau pengangkatan rahim," sembari tersenyum kecil.

Aku pun lanjut bertanya terkait maksud kedatangannya dengan rinci. Awalnya, aku hanya ingin mengetahui awal kronologi atau alasan ia datang kesini. Ia pun berkata bahwa ada masalah pelik dalam pernikahannya.

Tetapi, ketika aku bertanya, “Mbak bolehkah Mbak bercerita kronologis awal pernikahan Mbak?" Belum mendapat jawaban sepatah kata pun, dia hanya menunduk dengan tangis yang pecah. Aku mencoba mendekat, duduk di sampingnya sembali mengelus pundaknya dan berkata, “Nggak apa-apa Mbak bila ingin menangis, menangislah, nanti Mbak baru bercerita kronologisnya."

Kondisi perasaannya mulai membaik, ia mulai mengutarakan kronologis pernikahannya. Sebagai sosok yang “perasa”, ia merasa memiliki luka batin atas perceraian kedua orangtuanya d imasa lalu.

Ia merasa terbuat dari “cetakan yang rusak” yang membuatnya merasa payah dan seperti mendapakan kutukan cinta atas ketidakbahagiaannya dalam pernikahan. Ketika ia memutuskan menikah di usia muda, ia berharap dapat menemukan sandaran hati, kehangatan cinta yang tidak ia dapat dari kedua orangtuanya. Akan tetapi, pernikahan tak sesederhana itu, banyak kenyataan pahit yang tidak dapat disangkal yang harus ia lalui.

Menikah di usia 21 tahun, ia selalu keguguran, bahkan sampai 7 kali. Kondisi kandungan yang lemah, membuatnya harus berjuang sekuat tenaga untuk menjaga fisik, pola makan dan suasana batiniah agar kelak kehamilan yang ke-8 nya dapat berjalan lancar.

Bagai buah simalakama, sejatinya kelahiran adalah kebahagiaan bagi semua pihak, tapi ini menjadi awal penderitaannya saat ia melahirkan bayi perempuan, dan keluarga sang suami seolah kurang bersyukur.

Mereka selalu menginginkan bayi laki-laki. Ia bahkan bercerita, dahulu dibujuk untuk menggugurkan bayinya saat kandungannya berusia 4 bulan ketika tahu janin yang ia kandung adalah perempuan. Ia merasa dipaksa seperti mesin pencetak bayi, kala luka caesar pasca melahirkannya belum pulih total, 6 bulan semenjak itu, ia dibujuk untuk hamil lagi. Dan atas kuasa Tuhan, ia hamil lagi dengan kondisi jiwa yang waswas serta cemas.

Wanita memiliki tugas mulia untuk menyusui, karena tekanan batin yang kompleks, ia cukup stress dan ASI nya tidak keluar. Bayi yang rewel, ditambah dengan cibiran mertua yang hidup satu atap selalu menekannya untuk memiliki anak laki-laki, membuatnya semakin tertekan.

Dalam kondisi psikis yang tidak baik-baik saja, ia selalu merasa nyeri punggung dan otot diareal pinggul dan rahim. Ia merasa ada yang aneh, saat itu ia pendarahan hebat, ia keguguran lagi, ia merasa sakit yang amat sangat, seolah ada yang jatuh dari rahim.

Setelah dilarikan ke rumah sakit umum (RSU) ternyata ia mengalami prolaps uteri atau turun peranakan. Ia bercerita, bahwa dokter sudah mewanti-wanti agar memberi jarak kehamilan karena rahimnya lemah. Tapi semua sudah terlanjur, jaringan ligament areal rahim sudah tak mampu menopang rahimnya dan ia terpaksa melakukan operasi pengangkatan rahim total.

Perempuan yang Memilih untuk Bangkit Berjuang

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Sungguh malang, suami yang seharusnya menjadi sandaran batin kala itu, mudah sekali tersulut ucapan mertuanya. Bahkan di balik tirai ruang inap, saat ia setengah terjaga, ia mendengar obrolan sang mertua kepada suaminya, “Istrimu itu sudah tidak bisa punya anak lagi, udahlah kamu tinggalkan saja."

Menahan sedih dalam diam, ia hanya mendengar dan berpura-pura dalam kondisi mata terjaga dalam lelap. Saat itu ia sudah boleh pulang ke rumah, ia merasa kosong dan hampa, meski raga masih belum pulih total dan batin yang sedih. Ia mencoba bicara kepada sang suami tentang pernikahannya, tentang apa yang ia dengar atas ucapan sang mertua padanya saat di RSU. Sang suami awalnya mengelak bahwa tidak ada percakapan tersebut, tapi akhirnya mereka bertengkar hebat, dan terucap kata talak dari sang suami.

Masih terisak lirih, iapun berkata, “Saya merasa seperti barang rusak yang habis dipakai dan dibuang begitu saja, saya merasa seperti sampah. Apakah tim pengacara di sini dapat memperjuangkan hak saya dan bayi saya dipengadilan nanti?"

Aku pun mencoba menenangkannya. Aku mencoba mendengar seluruh keluh kesahnya. Aku berpikir, ia terlalu memiliki luka batin di masa lalu yang belum sembuh dan ditambah luka bathin pasca pernikahan dan pasca keguguran serta operasi pengangkatan rahim.

Sebelum menjawab pertanyaannya, aku mencoba menguatkannya “Mbak, wanita adalah makhluk terkuat di muka bumi, bahkan Tuhan hanya menitipkan bayi di tubuh wanita karena ia memiliki rahim. Dalam bahasa Arab, rahim adalah tempat yang penuh kasih sayang dan tempat yang sangat kokoh dan kuat. Tak mengapa Mbak sekarang tak memiliki rahim, tapi Mbak harus berjuang dan bangkit," ia pun mengangguk sembari menyeka air matanya.

Aku pun menjelaskan kepadanya, ketika perceraian terjadi atas kehendak suami, setidaknya ia harus memenuhi hak istri atas nafkah iddah dalam rentang 3 bulan 10 hari, pasca bercerai. Lalu ia berhak atas nafkah mut’ah baik barang ataupun uang sebagai pelipur lara, serta nafkah bagi perawatan bayinya dan harta gono gini. Serta aku menjelaskan, kalaupun selama pernikahan ada hak nafkah istri yang belum atau tidak diberikan, maka itu termasuk nafkah madhiliyah yang harus dipenuhi sang mantan suami.

Wanita muda itu berucap terima kasih dan berkata, “Saya memiliki bayi perempuan, meskipun ia terlahir dari orangtua yang tidak utuh, saya akan didik dia kelak menjadi wanita bahagia yang sukses, saya akan bangkit berjuang untuk anak saya. Saya akan belajar menyembuhkan luka bathin dan mulai mencintai diri dengan utuh."

Semoga.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel