Kehadiran Greenpeace Indonesia Dipersoalkan

Liputan6.com, Jakarta: Puluhan pemuda dari Majelis Taklim dan Barisan Pemuda Salafunassholeh Ahlussunnah wal Jama`ah menggelar unjuk rasa di kantor perwakilan Greenpeace di Jakarta, Kamis (19/7). Mereka mendesak agar lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berkantor pusat di Belanda itu angkat kaki dari Indonesia karena dianggap tidak membawa manfaat dan ditengarai menggunakan dana hasil judi sebagai dana operasional.

"Kami akan memberi waktu selama bulan Ramadan kepada Greenpeace untuk berkemas dan hengkang dari Indonesia," kata Habib Sholeh bin Muhammad al Hadar yang memimpin aksi tersebut. Jika seruan itu tidak digubris, Habib Sholeh menyatakan akan mengerahkan massa yang lebih besar untuk mengusir Greenpeace dari Indonesia.

Menurut Habib Sholeh, keberadaan Greenpeace terbukti sebagai kepanjangan tangan dari kepentingan asing yang justru merugikan kepentingan Indonesia. "Pemerintah sendiri sudah menyatakan Greenpeace sebagai LSM liar, maka jangan ragu lagi untuk mengusir Greenpeace dari Indonesia," ujar Habib Sholeh.

Menurut dia, Greenpeace juga tidak pantas beroperasi di Indonesia karena salah satu sumber dana operasionalnya berasal dari hasil perjudian. Meski hal itu dibantah Greenpeace Indonesia, kata Habib Sholeh, situs resmi Greenpeace Belanda menunjukkan LSM itu memperoleh sumbangan uang judi Postcode Lottery pada 2010 dan 2012 masing-masing sebesar 2.250.000 poundsterling atau sekitar Rp 33 miliar.

"Mereka terus berkelit tidak ngantongi uang judi, Nyatanya, di situs Greenpeace Belanda, jelas-jelas mendapat dana judi di tahun 2010 dan 2012. Duit itu kan masuknya dari Greenpeace Belanda ke Greenpeace Internasional, ngalir lagi ke Greenpeace Southeast Asia, baru dah nyampe kantong Greenpeace Indonesia," katanya, seperti dikutip Antara.

Ia menegaskan, setiap kucuran uang yang diperoleh dari lotere atau judi adalah haram hukumnya. Uang dari hasil judi tidak akan membawa berkah bagi penggunanya. "Makanya saya imbau orang Indonesia yang kerja di Greenpeace untuk tobat, cari kerjaan yang halal," ujarnya.

Sementara Kepala Perwakilan Greenpeace Indonesia Nur Hidayati dalam siaran pers yang dibagikan ke wartawan menyatakan Greenpeace Indonesia tak pernah menerima dana judi. Ia pun menyebut Postcode Lottery di Belanda bukan judi seperti yang dituding banyak pihak.

"Di Belanda sendiri itu lazim dan karena dananya dari individu maka tidak bertentangan dengan nilai dasar Greenpeace yang tidak mau menerima dana dari pemerintah atau perusahaan mana pun. Tetapi budaya kita berbeda, tentu saja di Indonesia kami tidak akan melakukan hal serupa misalnya mendapat dana dari porkas atau SDSB dan sejenisnya," kata Nur Hidayati.(ULF)