Kehidupan normal baru, publik butuh aplikasi pengawasan dan pendidikan

M. Hari Atmoko

Masyarakat Indonesia akan membutuhkan aplikasi bersifat pengawasan atau surveillance dan pendidikan selain aplikasi kesehatan dalam rangka menjalani kehidupan normal baru yang muncul pascapandemi COVID-19, kata CEO aplikasi kota pintar Qlue Rama Raditya .

"Aplikasi berikutnya yang dibutuhkan masyarakat saat kondisi 'new normal' (kehidupan normal baru) adalah aplikasi bersifat pengawasan atau surveillance, kalau aplikasi surveillance lebih ke arah memantau pergerakan dan perilaku," katanya dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan alasan aplikasi bersifat surveillance dibutuhkan karena masyarakat yang masih takut terhadap pandemi COVID-19, dengan demikian aplikasi surveillance yang dapat memeriksa atau mengecek suhu tubuh seseorang diperlukan.

"Saat ini banyak orang yang malas bekerja dari rumah dan memilih untuk bekerja di kantor, tapi ternyata dia sakit. Saya rasa aplikasi surveillance penting untuk memantau hal-hal semacam itu," ujarnya.

Rama juga menilai bahwa aplikasi teknologi informasi lainnya yang akan dibutuhkan masyarakat dalam menghadapi kondisi kehidupan normal baru adalah aplikasi bersifat pendidikan.

Baca juga: Yurianto: Normal baru adalah produktif tapi jalani protokol kesehatan

CEO sekaligus pendiri Qlue tersebut juga menambahkan saat ini semua elemen bangsa Indonesia dipaksa oleh pandemi COVID-19 ibaratnya bukan lagi belajar menanjak, namun dipaksa meloncat dari sisi mengejar kemajuan teknologi.

Hal yang tadinya mungkin dilakukan secara manual, katanya, sekarang harus benar-benar dilakukan sepenuhnya digital dan hal tersebut bukan hanya oleh pemerintah, melainkan juga pelaku usaha dan masyarakat.

"Pandemi COVID-19 ini bisa dianggap berkah tersembunyi bagi Indonesia bahwa memang kemajuan teknologi harus dikejar secepat mungkin," ujarnya.

Sebelumnya, Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga menilai kondisi kehidupan normal baru setelah pandemi COVID-19 membuat ketergantungan terhadap teknologi semakin besar.

Ia mengatakan kurun waktu beberapa bulan terakhir ini mengubah banyak hal dan teknologi ternyata mengubah pola-pola aktivitas.

Ia melihat semua pihak, termasuk BUMN, memiliki ketergantungan semakin cepat kepada teknologi dengan adanya pandemi COVID-19, malah disrupsi dipercepat oleh pandemi.

Baca juga: Kementerian BUMN: New Normal buat ketergantungan pada teknologi tinggi