Kehidupan Seniman di Kala Pandemi Covid-19

Dian Lestari Ningsih, Sansandrin
·Bacaan 1 menit

VIVA – Covid-19 masih belum berakhir, tapi sudah hampir satu tahun lebih virus corona masih melanda Indonesia. Kini kasus angka positif virus corona di Indonesia semakin meningkat, sehingga pemerintah kembali menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa kota yang angka kasus positifnya tinggi.

Masyarakat pun diwajibkan untuk menjaga kesehatan agar tidak terpapar virus Covid-19. Dalam menghadapi wabah virus Covid19, banyak para pekerja yang terkena dampak negatif. Akibat dari adanya pandemi wabah ini ada yang kehilangan pekerjaaanya dan ada juga yang pendapatannya berkurang.

Dampak-dampak tersebut sangat dirasakan oleh banyak pihak, salah satunya para pekerja seni yang mengandalkan penghasilan dari kegiatan keseniannya. Akibat pandemi Covid-19, para seniman yang biasanya bekerja menampilkan sebuah karya kreativitasnya di panggung hiburan dengan adanya wabah ini, pertujukan kesenian yang menimbulkan kerumunan atau keramaian orang ditiadakan sehingga para pekerja seni kesulitan untuk mendapatkan penghasilannya.

Idha Jipo selaku seniman tari mengatakan, bahwa ekonomi sangat merosot. Sudah tidak ada harapan lagi untuk mendapatkan penghasilan dalam bekerja di bidang seni. Saat pandemi seperti sekarang ini ntuk mendapatkan penghasilannya, banyak orang harus banting stir menjadi pedagang gorengan setiap sore di pinggir jalan dekat rumahnya.

Menurut Idha Jipo di masa pandemi ini sangat susah untuk mendapatkan penghasilan termasuk bagi pekerja di bidang seni. Di mana mereka harus bisa mencari pekerja sampingan lain untuk memenuhi kebutuhannya . Cara agar aktifivitas pembuatan karya bagi pekerja seni tetap berjalan sekarang dilakukan secara daring (online), yaitu dengan menggunakan beberapa platform untuk menampilkan sebuah pertunjukannya.

Tetapi pada kesulitan dalam melakukan pertujukan sistem daring termasuk sulit mencari sponsor dalam keadaan seperti ini dan penghasilan tetap berkurang tidak sama seperti biasa. Dalam hal ini banyaknya para pekerja seni yang tidak mendapatkan penghasilan di masa pandemi Covid1.