Kehilangan Anak Tak Pernah Mudah, tapi Ujian Menguatkan Ikatan Kasih Sayang

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Virgorini Dwi Fatayati

Saat menyadari detak jantung bayiku sudah berhenti dan saat tarikan napas panjangnya adalah napas terakhirnya, justru tangisan saya terhenti. Saya sudah banjir air mata di menit-menit terakhir sebelum kepergiannya.

Di saat suami sudah sepekan dinas dan baru hari itu beliau turun dan pulang. Sepekan sebelum suami pergi dinas saya bertekad dalam hati ingin memberi beliau kejutan dengan menggemukkan bayi saya, hingga segala booster ASI saya makan, dari jus pare sampai jus daun pepaya semua saya konsumsi demi mendapatkan ASI yang banyak dan berkualitas.

Siapa sangka kejutannya malah begini? Siapa sangka kejutannya malah begitu menyakitkan? Bayi kami sangat sehat dan tidak memperlihatkan gejala sakit apa pun, dokter sendiri bingung karena tidak ditemukan indikasi penyakit. Di situ saya sepenuhnya harus meyakini jalannya takdir.

Setibanya suami dan melihat keadaan bayi kami, beliau memberitahu saya kalau bayi kami sudah tidak ada, padahal saya sudah menyadarinya sejak sebelum beliau tiba. Lucunya dari selentingan ibu-ibu yang hadir takziyah, ada saja kata-kata yang membuat saya semakin merasa terpuruk.

"Pasti nanti suaminya bakal nyalahin istrinya tuh, kan ditinggal lama tuh sama suaminya," bisik itu berhasil saya tangkap.

"Dia senenglah anaknya berkurang satu, kan anaknya udah banyak," bisik lanjutan yang lagi-lagi berhasil tersimak, sungguh hati saya semakin luka, jiwa saya semakin menderita. Air mata tak mampu lagi mewakili kesedihan saya saat itu.

Saat anak kami sudah dimakamkan, saya sudah menyiapkan diri kalau akan disalahkan suami seperti yang dikatakan ibu-ibu tadi. Tapi nyatanya suami hanya diam, beliau malah menguatkan saya dengan memeluk dan mengusap kepala saya.

Meski tanpa kata, saya tahu hatinya pun sama terlukanya, jiwanya pun sama hancurnya. Betapa kejam orang yang sudah mengatakan kami bahagia dengan kehilangan anak karena anak kami sudah banyak. Tidak, sama sekali tidak, berapa pun jumlah anak, kasih sayang kami sama besarnya, tidak berubah dari anak pertama sampai terakhir. Begitu pula dengan kakak-kakaknya, si sulung sampai pingsan setelah histeris memanggil-manggil nama adiknya. Kami semua berduka, tak peduli menyakitkannya kata-kata yang terlontar dari orang-orang di luar sana.

Suami yang Selalu Mendampingi

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/LightField+Studios
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/LightField+Studios

Setelah itu hampir setiap saat saya menunggu suami untuk menyalahkan saya, tapi nyatanya hal itu tak pernah terjadi. Justru perhatian suami lebih banyak tercurah, apalagi kala menyadari kesakitan saya karena ASI yang tidak tersalurkan, suamilah yang merawatnya, merayu saya supaya mau makan dan setiap saat menguatkan saya. Ibu-ibu itu ternyata keliru, saya memang kehilangan anak, tapi saya tak lantas harus pula kehilangan suami, yang konon katanya akan menyalahkan saya.

Justru hubungan saya dengan suami bertambah erat dan rapat. Hubungan kami dengan anak-anak apalagi, kami semakin menyadari betapa berharganya kehadiran mereka. Betapa sesungguhnya kami harus berterima kasih karena mereka bisa tumbuh sampai besar meskipun terkadang ada saja tingkahnya yang menjengkelkan. Namun tentu tak sebanding jika harus kehilangan anak untuk selamanya.

Kami semakin menikmati merawat, mengasuh dan membesarkan anak. Kami jadi lebih bisa berbesar hati dengan segala tingkah mereka. Kami sama-sama mencoba membasuh luka, merawat jiwa kami bersamaan sampai rasa sesak di dada saya lambat laun berkurang. Tidak bisa hilang walaupun disapu waktu, karena luka itu menyisakan lubang yang sangat dalam.

Ujian besar maupun kecil sudah banyak kami lalui hingga tak terasa usia pernikahan kami sudah 23 tahun. Sungguh waktu yang sangat panjang tapi saya merasakannya singkat, seperti baru kemarin saja kami jadi pengantin. Andai tidak melihat anak-anak yang sudah tumbuh dewasa, tentu kami tidak merasa kalau sudah menua.

Seorang teman ada yang bertanya rahasia apa yang menjadikan saya dan suami selalu rukun. Saya kelabakan karena tak tahu jawabannya, tapi setelah dipikir-pikir, salah satunya mungkin karena kami selalu merasa berutang budi satu sama lai.

Saya merasa suami sangat berjasa pada saya, begitu pula sebaliknya. Anak-anak sendiri juga merasa demikian, perasaan berutang budi pada orang tua dan kakak atau adiknya tumbuh dengan subur. Makanya salah satu anak saya sempat tersentak kaget saat menemukan postingan anak seumurannya di medsos yang mengatakan dia tidak pernah minta untuk dilahirkan dan dia menyalahkan orang tuanya karena sudah terlahir. Duh, ngelus dada.

Saya hanya bisa mengomentari singkat, yaitu ada maksud Tuhan mengapa kita diciptakan, sudah pasti untuk kebaikan kita sendiri dan juga orang lain. Tuhan sangat menyayangi kita, kita hanya disuruh taat saja sama Tuhan, Tuhan tidak mungkin salah.

Setiap kita masih diberi napas oleh Tuhan, ujian tentu saja datang. Namun, jika kita bijak menghadapinya, ujian itu malah akan lebih menguatkan ikatan kasih sayang antara suami istri dan juga cahaya mata, yaitu anak-anak.

#ElevateWomen