Kehilangan Cinta Sejati saat Suaminya Meninggal Mendadak, Perempuan Ini Berjuang Keras Melanjutkan Hidup

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Queen Muse mencoba memikirkan kembali bagaimana perasaannya 4 hari setelah ia kehilangan cinta sejati dalam hidupnya, pada 2 Desember 2020. Ia tidak tahu persis apa yang ia lakukan pada hari keempat, karena ia memang tidak memiliki kekuatan untuk melakukan apapun sampai lebih dari seminggu kemudian.

Queen membayangkan hari keempat seperti hari pertama, kedua, dan ketiga, ketika satu-satunya hal yang bisa ia makan adalah kaldu dan smoothie, ketika ia terus menerus menangis, hampir mengalami dehidrasi, hampir tidak bisa berbicara. Ia hanya duduk di sebuah ruangan dalam diam dan amarah, seolah menunggu untuk dibangunkan dari mimpi buruk.

Ketika Queen tidak tahan tidur di kamarnya sendirian, kedua anaknya, ibu, dan saudara laki-lakinya masuk ke kamar, dan menghiburnya saat ia bangun di jam 4 jam dan menangis sedih. Mimpinya masih biasa-biasa saja dan ketika ia bangun, ia kembali ke kenyataan.

Queen segera merasakan beban dari ketidakhadiran cinta sejati dalam hidupnya. Ia akan mengingat mengapa ia tidak ada di sana.

Mereka telah bersama selama lebih dari 5 tahun dan Queen dapat menghitung berapa malam mereka tidak tidur bersama di kamar mereka. Queen akan mengingat suaminya tidak ada di sana bukan karena ia berada di studio seninya sedang melukis atau di rumah ibunya, namun karena ia pergi untuk selama-lamanya.

Lalu, Queen akan ingat mengapa rumah itu begitu sepi atau mengapa mobil mereka tidak terparkir seperti biasanya. Queen menyaksikan tanpa daya saat cinta sejati atau suaminya meninggal di mobil mereka.

Detik-detik kepergian sang cinta sejati

Queen Muse menyaksikan sendiri bagaimana saat-saat terakhir cinta sejati dalam hidupnya pergi untuk selamanya, simak perjalanan hari-hari setelahnya saat ia berjuang melanjutkan hidup. Sumber foto: unsplash.com/Marcus Ganahl.
Queen Muse menyaksikan sendiri bagaimana saat-saat terakhir cinta sejati dalam hidupnya pergi untuk selamanya, simak perjalanan hari-hari setelahnya saat ia berjuang melanjutkan hidup. Sumber foto: unsplash.com/Marcus Ganahl.

Queen akan mengingat setiap detik kejadian traumatis itu terjadi. Bagaimana 2 minggu sebelumnya, mereka mengira bahwa suaminya sakit perut, bagaimana ibunya membawanya ke ruang gawat darurat 1 minggu sebelumnya, pada hari Thanksgiving dan dipulangkan dengan pil mual dan diagnosis yang tidak jelas.

Queen mencoba membawanya lagi ke rumah sakit ketika suaminya mengatakan sakit perutnya telah kembali dan memburuk, namun mereka hanya berhasil mencapai 2 blok dari rumah sebelum akhirnya suaminya mengalami kejang-kejang. Queen melompat keluar dari mobilnya yang masih bergerak untuk mendatangi suaminya, ia menghubungi 911, berteriak kepada orang-orang yang sedang berada di halte bus terdekat, memohon kepada siapa saja yang bisa melakukan CPR untuk membantu, sebelum akhirnya melakukannya sendiri dan tidak berhasil.

Putranya yang berusia 3 tahun duduk di kursi belakang saat kejadian tersebut, menonton sambil menangis. Queen hanya bisa duduk, menonton, berteriak, dan menangis ketika akhirnya ambulans datang dan membawa suaminya yang sudah tidak bergerak.

Di hari keempat setelah kepergian suaminya, Queen baru bisa makan makanan padat. Ia bahkan mulai mencoba berbicara, walaupun pikiran dan seluruh tubuhnya seperti belum sadar sepenuhnya.

Ia akan diminta kembali bekerja sebagai profesor dan jurnalis, 4 hari setelah kematian suaminya, membuatnya merasa ingin pingsan. Masih banyak orang menganggap Queen beruntung karena semuanya terjadi di bulan Desember, akhir semester, di mana ia memiliki waktu istirahat selama 6 minggu sebelum harus kembali mengajar di musim semi.

Waktu itu, seharusnya dihabiskan untuk menyiapkan materi semester yang akan datang. Queen tidak bisa terlalu beristirahat, namun setidaknya ia memiliki kesempatan untuk bersedih di luar kelas dan menghindari tatapan penasaran dari para siswanya.

Queen Muse masih mencari cara melanjutkan hidupnya setelah kematian cinta sejatinya

Queen Muse menyaksikan sendiri bagaimana saat-saat terakhir cinta sejati dalam hidupnya pergi untuk selamanya, simak perjalanan hari-hari setelahnya saat ia berjuang melanjutkan hidup. Sumber foto: unsplash.com/Claire Kelly.
Queen Muse menyaksikan sendiri bagaimana saat-saat terakhir cinta sejati dalam hidupnya pergi untuk selamanya, simak perjalanan hari-hari setelahnya saat ia berjuang melanjutkan hidup. Sumber foto: unsplash.com/Claire Kelly.

Dua bulan setelah kematian sang suami, ketika Queen menulis ini, ia masih tidak dapat membayangkan bangun dan memiliki ketenangan untuk memanggil narasumber dan melakukan wawancara yang bijaksana untuk menghasilkan sebuah tulisan yang bermakna. Sekarang sudah lebih dari 100 hari dan satu-satunya hal yang dapat ia tuliskan tentang hari-harinya adalah kesedihan, kesedihannya sendiri, orang lain, bagaimana perbedaannya, dan betapa dalam banyak hal mereka sama.

Jika Queen ingat untuk mandi, sikat gigi, dan makan dalam satu hari, itu adalah hari yang sangat baik. Seperti banyak orang lainnya, hari-hari seperti itu tidak sering datang.

Ketika Queen memberi tahu guru kelas putrinya bahwa sang ayah telah meninggal, ia menyarankan agar Queen menggunakan bulan Desember untuk menyelesaikan pekerjaan di waktu senggangnya. Tiga puluh hari adalah jumlah waktu yang dianggap Queen perlukan untuk melupakan fakta bahwa pria itu telah pergi dari hidupnya selamanya.

Queen masih merasa bahwa orang-orang memberinya solusi terbaik mereka, yaitu melanjutkan hidup, menyapu kesedihan, menyembunyikannya di sudut terdalam hati, atau lebih buruk lagi, berpura-pura bahwa rasa sakitnya tidak pernah ada. Orang-orang mendorong Queen untuk melakukan semua hal itu, mengatakan bahwa kehidupan harus dilanjutkan.

Queen berterimakasih atas cuti, waktu istirahat, dan semua nasihat yang diberikan orang-orang kepadanya, namun itu tidak memenuhi kebutuhan yang sebenarnya. Queen masih tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkannya dan keluarga untuk kembali hidup normal, tampaknya tidak akan pernah.

Hanya setelah banyak menangis, terapi, dan banyak malam tanpa tidur, ia akan menemukan cara untuk hidup. Bagaimana menurutmu, Sahabat FIMELA?

#Elevate Women