Kehilangan Kaki karena Kecelakaan Kereta, Pria Ini Berjuang untuk Menjuarai Paralimpiade

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta Manish Pandey dari Chhattisgarh adalah seorang juara paralimpik yang telah memenangkan beberapa medali di kompetisi nasional dan internasional, termasuk Asian Games dan Asian Paralympic Games Incheon yang diadakan di Korea Selatan. Ia menceritakan pengalaman dan tantangan yang ia hadapi sejak menjadi difabel.

Dilansir dari thebetterindia, Manish adalah seorang penduduk desa Hirmi di Chhattisgarh yang kehilangan kakinya saat India berpesta atas kemenangan piala dunia kriket, 2 April 2011. Saat itu usia Manis masih 19 tahun dan merupakan tahun pertamanya kuliah. Saat itu ia sudah merencanakan di benaknya akan segera pulang dan menonton pertandingan tersebut.

Ia pulang naik kereta yang memang biasanya penuh sesak, namun hari itu semua orang termasuk dirinya lebih terburu-buru karena bersemangat untuk menonton pertandingan. Sayangnya ia berdiri di depan pintu kereta yang membuatnya terjatuh dari kereta saat pintu terbuka karena terdorong penumpang lain yang terburu-buru. Kaki kanannya remuk di bawah kereta yang sedang melaju.

Karena kota kecil itu tidak memiliki perlengkapan untuk korban korban yang parah dan kasus trauma, ia dipindahkan ke Raipur yang berjarak dua jam perjalanan dari desanya. Penundaan dalam mengakses perawatan medis dan kehilangan banyak darah hanya memperburuk keadaan.

Saat dia sadar keesokan harinya, Manish menyadari dia telah kehilangan kaki dari lutut ke bawah. Tentu ia sempat mengalami depresi karena harus menghadapi perubahan gaya hidup dan ditolak pendidikan formal karena disabilitasnya. Namun tekad dan ketabahan Manish tidak terhalang. Tidak hanya menerima keterbatasan fisiknya, tetapi ia juga menjadi juara Paralimpiade, medali medali di Asian Games.

Bangkit

“Insiden itu tidak menyenangkan bagi saya. Pertanyaan pertama yang saya tanyakan kepada dokter setelah sadar keesokan harinya adalah apakah India memenangkan pertandingan. Ia (dokter) menjawab ya, yang membuat saya merasa kecewa karena saya melewatkan kesempatan menyaksikan kemenangan yang mendebarkan. Namun, setelah dokter memberi tahu saya tentang kaki tersebut, saya menjadi diam,” katanya.

Ia semakin menyadari kerugiannya meningkat selama beberapa hari setelahnya. “Saya tidak bisa menggunakan toilet, memakai pakaian saya, atau berlari keluar untuk bermain seperti orang biasa. Sebelum kecelakaan itu, saya adalah anggota aktif dari berbagai tim olahraga, termasuk kriket dan bola voli, di kampus saya. Saya melewatkannya,” kata Manish, menambahkan bahwa ia berhenti sekolah dan tidak melanjutkan kuliahnya.

Ayahnya, seorang perwira junior di pabrik semen UltraTech, membelikannya kaki Jaipur (semacam kaki prostetik). Kemudian secara perlahan ia mulai menyesuaikan diri dengan anggota tubuh buatan tersebut. Ia mulai bisa kembali berjalan, namuntetap tidak bisa berlari. Selama tiga bulan berikutnya, Manish mengalami depresi dan berjuang menghadapi kehidupan barunya, baik secara fisik maupun mental.

Namun, ia mengatakan atas dukungan teman-teman yang menemaninya kemana-mana serta keberadaan keluarga di sisinya sehingga ia tidak pernah merasa kekurangan. “Mereka mendorong saya untuk menjalani kehidupan yang sama dengan yang saya jalani sebelum kejadian,” tambahnya.

Kemudian pada tahun 2013, ia menemukan paralimpiade di internet dan tertarik dengan konsepnya. Ia menggali lebih banyak informasi tentangnya dan setelah terpesona pada atlet paralimpiade dengan kaki prostetik mereka, membuat Manish memutuskan untuk mengejar cita-cita menjadi pelari profesional.

Namun lagi-lagi ia menemukan masalah karena harga bilah kaki prostetik yang jumlahnya tidak mampu ia beli. Maka ia mengajukan sponsor pada perusahaan dan atas minatnya pada olahraga serta lulus pemeriksaan kredensial, akhirnya perusahaan tersebut setuju untuk mensponsorinya.

“Manish tampak berdedikasi dan tulus sejak awal. Ia rela pindah ke Hyderabad dan bertahan di sebuah ruangan kecil dengan biaya Rs 5.000 (sekitar hampir sejuta rupiah) sebulan. Ia tulus dan tidak pernah menyimpang dari pelatihan dan tujuan akhirnya,” kata Mohana Gandhi, konsultan prostetik berbasis di Hyderabad, dikutip dari thebetterindia.

“Setiap orang yang diamputasi memiliki perbedaan. Soket dan bantalan harus pas. Selain itu, postur tubuh dan aspek fisik lainnya menentukan bagaimana bilah itu cocok untuk pemain. Namun Manish bahkan tidak mengharapkan simpati dari orang-orang di sekitarnya,” katanya.

Perjuangan Manish tidak sia-sia

Manish berhasil memenangkan sejumlah medali dari paralimpiade dengan ragam olahraga. Ia yang kembali bersemangat untuk mengejar gelar sarjana di bidang olahraga, sayangnya impiannya ini kembali terhempas dengan alasan disabilitasnya, sehingga ia ditolak oleh pihak kampus.

Namun akhirnya ia menemukan Manipal University yang bersedia memberinya dukungan khusus untuk melanjutkan pendidikan. "Saya mungkin orang dengan kaki amputasi pertama (di India) yang memegang gelar dalam olahraga," katanya dengan bangga.

Tak sampai situ, ia melanjutkan magister di Korea Selatan. Ia mencoba crowdfunding untuk mengumpulkan uang, namun ia hanya menerima sejumlah kecil bantuan. Ia kemudian mengajukan beasiswa untuk mendukung pendidikannya.

Semangatnya ini semakin membuat Mohana bangga, karena lebih banyak atlet menyerah setelah kehilang satu poin, tetapi Manish bahkan masih berusaha mengejar karir di bidang olahraga. Komitmennya dalam bidang olahraga dan prestasinya semakin membuatnya Mohana menyayanginya bak keluarga, katanya.

Adik Manish, Kumkum, mengatakan bahwa keluarganya juga sangat bangga padanya. “Kami tiga bersaudara, dan ia satu-satunya yang mengejar gelar master. Ia selalu menjadi orang yang aktif dan disiplin. Kecelakaan itu merupakan pukulan besar bagi kami semua. Tapi ia tetap tampil kuat, dan menjadi idola serta sumber kekuatan tak terbatas bagi orang-orang di sekitarnya,” katanya. Bahkan komitmennya Manish terlihat jelas dari pengetahuannya tentang semua perusahaan dan detail pabrikan dan bilahnya dari semua penelitiannya tentang olahraga, tambah Kumkum.

Manish mengatakan ia ingin membantu memotivasi orang, khususnya yang memiliki kemampuan atau tidak namun mau terjun ke bidang olahraga. Tujuan jangka panjangnya yaitu ingin menjadikan dunia lebih inklusif untuk orang-orang berkemampuan khusus. “Saya tidak ingin orang dengan kemampuan khusus lainnya menjalani apa yang saya tempuh untuk mengejar pendidikan. Saya bertujuan untuk memulai tes kelayakan berdasarkan prestasi untuk memberikan kesempatan yang sama dalam pendidikan olahraga,” tambahnya.

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)

Simak Video Berikut Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel