Kejahatan Meningkat Selama Masa Pandemi COVID-19, Ini Tinjauan Psikologisnya

Syahdan Nurdin, medinairedifa77-60

VIVA – Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Nana Sudjana mengatakan bahwa tingkat kriminalitas di wilayah Metropolitan Jakarta Raya mengalami kenaikan pada masa pandemik COVID-19 sebesar 10% pada bulan April dibandingkan pada bulan Maret 2020.

Dalam siaran langsung akun Instagram Humas Polda Metro Jaya pada hari Senin (27/04), Nana mengatakan “bahwa hasil analisa evaluasi ada kurang lebih sekitar 10% peningkatan kasus kriminalitas yang terjadi kalau kita bandingkan antara satu bulan ke belakang dari bulan Maret sampai bulan April”.

Lalu, apa yang bisa menyebabkan hal tersebut terjadi? Kita akan membahasnya dengan menggunakan perspektif psikologis.

Brown & Farber adalah dua orang psikolog yang melakukan percobaan yang menyatakan bahwa makhluk hidup—termasuk manusia— ketika dihalangi untuk merespons suatu keadaan yang sebelumnya memberikan suatu imbalan mereka akan cenderung bertindak lebih energik dan kuat.

Kucing mungkin akan menggigit, mencakar, dan menggeram; manusia akan menjadi lebih mudah marah dan kasar. Peneliti mengasumsikan bahwa respons-respons tersebut adalah efek dari sebuah pertentangan internal yang disebut frustrasi.

Ketika suatu kegiatan untuk mencapai sebuah tujuan terhalangi, frustrasi akan meningkat, dan individu akan berusaha untuk mengurangi rasa frustasi tersebut.

Suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi rasa frustrasi tersebut secara tidak sadar diperkuat agar frustrasi bisa segera tertangani. Hal tersebut menunjukkan bahwa individu yang menggunakan kekerasan untuk mengurangi rasa frustrasinya, di bawah tekanan yang ekstrem, akan menjadi lebih kuat dari biasanya, bahkan mungkin melakukan pembunuhan dan tindak kekerasan lainnya.

Dalam keadaan pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, banyak orang-orang yang kesulitan untuk bekerja agar bisa mendapatkan penghasilan. Mulai dari aturan PSBB hingga banyaknya perusahaan yang memutuskan untuk memberhentikan para pekerjanya.

Meskipun penghasilan berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali, perut tetap harus diisi, anak tetap harus diberi susu, dan uang kontrakan tetap harus dibayar. Ketidaksesuaian antara kemampuan dan kebutuhan tersebut memicu rasa frustrasi pada banyak orang.

Bila dilihat dari pemaparan di atas, rasa frustrasi dapat mendorong seseorang untuk melakukan tindak kejahatan.  Orang-orang yang sebelumnya tidak terpikir untuk mencuri bisa menjadi pencuri karena dorongan dari rasa frustrasinya.